“Perbanyaklah kalian mengingat penghancur kenikmatan, yaitu kematian”. [HR. At-Tirmidziy (2307), An-Nasa’iy (1824), dan Ibnu Majah (4258). Di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (1607)]
Cukuplah kematian membuat hati besedih, menjadikan mata menangis, perpisahan dengan orang-orang tercinta, penghilang segala kenikmatan dunia, pemutus segala angan-angan.
Wahai orang-orang yang berpaling dari Allah, wahai orang yang tengah lengah dari ketaatan kepada Rabbnya, wahai orang yang setiap kali ia dinasehati, hawa nafsunya menolah nasihat ini, wahai orang yang dilalaikan oleh nafsunya dan tertipu oleh angan-angan panjangnya, tahukah kamu apa yang akan terjadi pada dirimu di saat kematianmu?
BACA JUGA: Wahai Diri, Ingatlah Kematian
Mungkin engkau bergumam dalam hati, “Saya akan mengucapkanla ilaha illallah”. Belum tentu wahai saudaraku! Jika engkau masih tetap lalai dan berpaling dari Allah hingga tiba saat kematianmu, tentu engkau tidak akan mengucapkannya, bahkan kamu akan berharap untuk dihidupkan kembali.
Saudaraku, kemanakah engkau akan lari?? Apakah engkau akan mendaki gunung yang tinggi, atau menyelami lautan yang dalam, ataukah bersembunyi di benteng yang kokoh supaya dapat lolos dari intaian Malaikat Maut? Wahai saudaraku…. Engkau tidak akan dapat melarikan diri dari al-maut, sebab Rabb kita -Tabaraka wa ta’ala-berfirman,
أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ
“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh” (QS. An-Nisa : 78)
Jika begitu, persiapkanlah dirimu dalam menghadapinya. Perbanyaklah bekalmu, karena perjalanan kita masihlah panjang. Janganlah engkau terlena dengan angan-angan yang kosong lagi menipu. Mengharap umurmu masih panjang, ternyata kematian sudah berada di ambang pintu.
Janganlah engkau merasa cukup dengan kebaikan yang ada pada dirimu dan merasa ujub dengannya, sebab para salaf(pendahulu) kita dari kalangan para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik adalah orang-orang yang paling banyak melakukan ibadah, ketaatan dan amal shalih.
Namun ternyata mereka tidak begitu saja mengandalkan amal perbuatan mereka, bahkan mereka senantiasa merasa khawatir jangan sampai apa yang mereka lakukan itu masih belum diterima oleh Allah, sehingga terus merasa kurang dalam beramal dan tak henti-hentinya memohon ampunan kepada Allah.
BACA JUGA: Kematian Abu Lahab
Ibnu Syaudzab berkata, ” Tatkala Abu Hurairah berada di ambang kematian, tiba-tiba beliau menangis. Orang-orang bertanya, “apa yang membuatmu menangis? Beliau menjawab : “jauhnya perjalanan, sedikitnya perbekalan dan banyaknya rintangan yang menghalang. Sementara saya tidak tahu akan dimasukkan ke neraka ataukah ke surga”.[Lihat Shifatush Shofwah (1/694) oleh Ibnul Jauziy]
Qabishah bin Qais Al Anbariy berkata, “Adh-Dhahhak bin Muzahim apabila datang sore hari beliau menangis. Ada orang yang bertanya, apa gerangan yang membuatmu menangis? Beliau menjawab,
لَا أَدْرِيْ مَا صَعُدَ الْيَوْمَ مِنْ عَمَلِيْ
“Aku tidak tahu, amalanku yang mana yang naik ke langit (diterima Allah) pada hari ini”.[Lihat Shifatush Shofwah (17/150)] []
SUMBER: ABU ABDURRAHMAN MANADO
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


