Setiap manusia pasti pernah merasakan kegundahan, kecemasan, atau kesedihan yang mendalam. Namun, tahukah kita bahwa perasaan itu tidak datang begitu saja? Ibnul Qoyyim rahimahullah, seorang ulama besar dari kalangan salaf, menjelaskan bahwa sumber utama dari kegundahan jiwa dan kesedihan hati sebenarnya berasal dari dua hal.
Beliau berkata:
“Kegundahan dan kesedihan terjadi akibat dua perkara:
Pertama: Terlalu menginginkan dunia dan tamak padanya.
Kedua: Melalaikan amal kebaikan dan ketaatan.”
(Uddatush-Shabirin 1/265)
Perhatikan dengan baik dua sebab tersebut. Ketika seseorang terlalu mencintai dunia, hatinya penuh ambisi dan ketamakan. Ia terus memburu kekayaan, jabatan, dan kenikmatan duniawi dengan harapan semua itu akan memberikan kebahagiaan. Namun kenyataannya, sebelum ia mendapatkan apa yang ia kejar, hatinya sudah digerogoti rasa cemas—takut gagal, takut tertinggal, takut tidak cukup. Dan setelah ia meraihnya? Ia justru dilanda ketakutan baru—takut kehilangan, takut bangkrut, takut tidak bisa mempertahankan.
BACA JUGA: Hakikat Zuhud
Sebaliknya, ketika hati seseorang dipenuhi dengan keinginan kepada akhirat, maka pandangannya terhadap dunia berubah total. Ia tetap bekerja dan berusaha, namun tujuannya adalah mencari keberkahan dan pahala. Ketika ia memperoleh harta, hatinya tidak tertambat padanya. Ia justru khawatir akan hisab dan tanggung jawab di hari kiamat. Dunia tidak menguasai hatinya, karena yang ia kejar adalah ridha Allah.
Ibnul Qoyyim juga menyinggung penyebab utama mengapa seseorang berani melakukan perbuatan haram. Menurut beliau:
“Seorang hamba melakukan yang haram akibat dua perkara:
⚉ Pertama: Berburuk sangka kepada Allah; jika ia menaati-Nya maka Allah tidak akan memberinya yang lebih baik dari itu.
⚉ Kedua: Ia mengetahui itu haram namun syahwatnya mengalahkan kesabarannya dan hawa nafsunya menutup akalnya.
Yang pertama adalah akibat lemahnya ilmu dan keyakinan.
Dan yang kedua adalah akibat lemahnya akal dan bashirahnya.”
(Al-Fawaid hal. 62)
Yang pertama adalah penyakit keyakinan. Ia tidak percaya bahwa meninggalkan yang haram akan mendatangkan kebaikan. Ia merasa rezeki hanya akan datang jika ia melanggar aturan Allah. Inilah bentuk buruk sangka kepada Rabb semesta alam.
BACA JUGA: 2 Kunci Surga
Yang kedua adalah penyakit hawa nafsu. Ia tahu sesuatu itu haram, namun tidak mampu menahan diri. Syahwat dan keinginan sesaat mengalahkan akal sehat dan ketakwaannya.
Penutup
Dari penjelasan Ibnul Qoyyim ini, kita dapat mengambil pelajaran penting: bahwa ketenangan hati dan keselamatan jiwa tidak akan diraih dengan memburu dunia atau menuruti hawa nafsu. Justru sebaliknya, dengan membenahi niat, memperkuat iman, memperbanyak amal ketaatan, serta bersangka baik kepada Allah, maka hati akan menjadi lapang dan tenang, walau dunia tidak selalu sesuai harapan.
Karena sesungguhnya, dunia hanyalah tempat singgah—bukan tempat tinggal selamanya. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


