JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Yaumul Hisab

Apakah Betul Adzab Kubur Itu Diringankan bagi Orang Mukmin yang Bermaksiat?

Ujian, Nasihat Imam Hasan Al-Bashri

Pertanyaan: Apakah adzab kubur itu diringankan bagi orang mukmin yang bermaksiat?

Jawaban: Ya, diringankan sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati dua kuburan lalu bersabda: “Sesungguhnya keduanya sedang disiksa, dan tidaklah keduanya disiksa disebabkan karena sesuatu yang besar, tapi sesungguhnya ia adalah sesuatu yang kecil, adapun salah satunya karena tidak bersuci dari kencing dan yang lainnya berjalan untuk mengadu domba.” Kemudian mengambil pelepah kurma, lalu membelah menjadi dua bagian kemudian menancapkan pada masing-masing kuburan dan bersabda: “Mudah-mudahan keduanya diringankan dari siksanya selama belum kering.” (Telah terdahulu takhrijnya).

Dan ini merupakan dalil bahwa adzab kubur itu kadang-kadang bisa diringankan. Akan tetapi apa hubungan antara dua pelepah kurma yang dipakai untuk meringankan siksa dua orang yang sedang disiksa itu?

Dikatakan: Karena kedua pelepah kurma itu senantiasa bertasbih selama belum kering. Dan tasbih bisa meringankan siksa bagi mayit. Dan sungguh mereka telah menjadikan alasan ini untuk beristimbat yang kadang sangat jauh, yaitu bahwasanya disunnahkan bagi seseorang untuk pergi ke kuburan dan bertasbih ketika berada di kuburan itu karena bisa meringankannya.

BACA JUGA: Apakah Adzab Kubur terhadap Badan dan Ruh?

Sebagian ulama berkata: “Ini adalah alasan yang lemah karena dua pelepah ini selalu bertasbih baik dalam keadaan basah ataupun kering berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ وَإِن مِّن شَيْءٍ الْأَنْسَبِّحُ بحمده ولكن لا تفقهون تسبيحهم.

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi engkau sekalian tidak mengerti tasbih mereka….” (QS. al-Israa’: 44)

Dan pernah diperdengarkan tasbihnya kerikil yang berada ditangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam padahal kerikil itu dalam keadaan kering.

Kalau begitu apa sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengharap kepada Allah untuk meringankan kedua orang itu dari siksa kubur selama dua pelepah itu belum kering yakni dalam waktu yang tidak lama, hal itu adalah sebagai peringatan terhadap orang yang melakukan perbuatan tersebut.

Ini karena perbuatannya termasuk perkara yang besar sebagaimana yang ada di dalam riwayat “Bahkan sesungguhnya ia adalah sesuatu yang besar,” salah satu dari keduanya tidak bersuci dari kencing, apabila tidak bersuci setelah kencing. berarti dia shalat dalam keadaan tidak bersuci, dan yang lain berjalan untuk mengadu domba, yang membuat kerusakan diantara hamba Allah Subhanahu wa Ta’la waliyadzu billah menebarkan permusuhan dan kebencian diantara mereka, maka ini adalah perkara yang besar.

Inilah pendapat yang lebih dekat dengan kebenaran bahwasanya hal itu adalah syafa’at sementara sebagai peringatan kepada umat. Dan bukan suatu kebakhilan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memberi syafa’at yang terus menerus.

Sebagian ulama berkata semoga Allah mengampuni mereka-. “Disunnahkan bagi seseorang untuk meletakkan pelepah yang masih basah atau pohon dan sejenisnya di atas kuburan untuk meringankan adzab darinya.” Akan tetapi pengambilan dalil ini sangat jauh sekali bahkan tidak boleh meletakkan hal itu karena beberapa perkara

Pertama: Sesungguhnya tidaklah ditampakkan kepada kita bahwa orang itu sedang disiksa, berbeda dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Kedua: Sesungguhnya jika kita mengerjakan hal itu maka sungguh kita telah menyakiti sang mayit karena kita menyangkanya dengan persangkaan yang buruk, yaitu bahwasanya mayit itu disiksa, padahal kita tidak masuk ke dalam tanah.

Boleh jadi dia diberi nikmat, atau termasuk orang yang diberi karunia oleh Allah berupa ampunan sebelum kematiannya, karena ada salah satu diantara banyak sebab-sebab ampunan, sehingga dia mati dalam keadaan Allah telah mengampuninya Sehingga dengan demikian dia tidak berhak mendapatkan adzab.

BACA JUGA:  Apakah Dakwah Musa Alathis Salam kepada Fir;aun untuk Bertauhid Merupakan Dalil Bahwa Allah Menjaga dan Melindung) Para Dai

Ketiga: Cara pengambilan dalil seperti ini menyelisihi apa yang dilakukan para salafush shalih, sementara mereka adalah orang-orang yang paling mengetahui syari’at Allah, namun tidak ada seorang pun dari para sahabat yang melakukan hal ini, lalu mengapa kita melakukannya.

Keempat: Sesungguhnya Allah telah memberikan yang lebih baik dari hal itu yaitu dahulu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai menguburkan mayit maka beliau berdiri diatasnya dan bersabda: “Memohonlah kalian ampunan untuk saudaramu, memohonlah untuknya kekokohan hati karena sesungguhnya dia sekarang sedang ditanya.” (Muttafaq ‘alaih).

(Majmuu’ Fataawaa asy-Syaikh 2/30-32) []

Sumber: Al-Fatawa Al-Muhimmah (Fatwa-fatwa Penting dalam Sehari-hari jilid 1) / Penulis: Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin / Penerbit: Pustaka as-Sunnah / Cetakan 2, Maret 2012 

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Yaumul Hisab

Kubur, Persinggahan Akhirat yang Pertama

Yaumul Hisab

Pertanyaan di Hari Kiamat tentang Pemenuhan Janji

Yaumul Hisab

Pertanyaan di Hari Kiamat tentang Seteru dan Sekutu

Yaumul Hisab

Pertanyaan tentang Nikmat di Hari Pembalasan