Islam adalah agama keseimbangan. Ia mengajarkan umatnya untuk hidup sederhana, tidak berlebih-lebihan, dan menjauhkan diri dari sifat sombong. Allah ﷻ berfirman: “Dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-An‘ām: 141)
Ayat ini menegaskan bahwa setiap bentuk isrāf (berlebih-lebihan) adalah tercela, baik dalam hal makanan, pakaian, maupun perhiasan dunia. Syaikh Abdurrahman As-Sa‘di rahimahullah menjelaskan dalam Tafsir As-Sa‘di bahwa larangan berlebih-lebihan mencakup segala hal yang melampaui kebutuhan, karena itu menunjukkan kesombongan dan melupakan nikmat Allah.
Rasulullah ﷺ telah mengabarkan bahwa menjelang hari kiamat, manusia akan terperdaya oleh kemewahan dan perhiasan dunia. Dalam hadis sahih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau bersabda:
“Tidak akan datang hari kiamat hingga manusia saling membanggakan rumah-rumah mereka yang dihiasi kain bersulam.” (HR. Al-Bukhari dalam Adabul Mufrad dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani)
BACA JUGA: Hilangnya Khusyu’: Pertanda Akhir Zaman
Hadis ini bukan sekadar tentang tirai atau dekorasi rumah, melainkan menggambarkan kondisi umat yang tenggelam dalam cinta dunia. Ketika hiasan dan kemewahan menjadi ukuran kebahagiaan, maka hati manusia mulai berpaling dari akhirat. Imam Al-Ghazali rahimahullah menulis dalam Ihya’ Ulumiddin: “Cinta dunia adalah sumber dari segala kesalahan.” Begitu kuat daya tarik dunia, hingga manusia rela berlomba-lomba memperindah sesuatu yang fana, dan melupakan amal yang kekal.
Fenomena ini sangat nyata di zaman kita. Media sosial dipenuhi dengan pamer kemewahan—rumah megah, dekorasi mewah, mobil mahal, dan gaya hidup berlebihan. Padahal Rasulullah ﷺ telah memperingatkan dalam hadis riwayat Muslim: “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan seberat biji sawi.”
Berlebih-lebihan dalam berhias dan menonjolkan harta sering kali menjadi pintu masuk kesombongan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (Majmū‘ Al-Fatāwā, 7/112). Inilah penyakit hati yang menjauhkan manusia dari kerendahan diri di hadapan Allah.
Namun, Islam tidak melarang keindahan. Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan.” (HR. Muslim)
Perbedaannya terletak pada niat dan batasnya. Jika keindahan dimaksudkan untuk bersyukur dan menjaga kebersihan, maka itu terpuji. Tetapi jika dijadikan ajang kebanggaan dan kesombongan, maka berubah menjadi dosa.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Setiap harta yang diinfakkan dalam hal yang tidak bermanfaat dan tidak mendekatkan kepada Allah, maka itu termasuk isrāf.” (Syarh Riyadhus Shalihin).
Akhir zaman ditandai dengan banyaknya manusia yang memuliakan dunia dan mengabaikan akhirat. Kemewahan dianggap prestasi, sementara kesederhanaan dianggap kegagalan. Padahal, justru kesederhanaan itulah tanda keberkahan.
BACA JUGA: Zina dan Tanda-Tanda Akhir Zaman
Rasulullah ﷺ hidup dengan penuh kesederhanaan. Rumah beliau beratapkan pelepah kurma, tempat tidurnya hanyalah tikar kasar, namun hatinya dipenuhi ketenangan dan syukur. Inilah teladan bagi umat di akhir zaman yang mulai kehilangan makna zuhud.
Maka, marilah kita meneladani kesederhanaan Rasulullah ﷺ. Gunakan harta sesuai kebutuhan, bukan untuk kebanggaan. Sebab, di akhirat nanti, setiap sen yang dihamburkan akan ditanya oleh Allah ﷻ.
Sebagaimana firman-Nya: “Kemudian kamu pasti akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu peroleh di dunia).” (QS. At-Takatsur: 8) []
Sumber: Dr. Muhammad al-Areifi/Kiamat Sudah Dekat ?/Penerbit: Qisthi Press/2011
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


