JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Hadist

Hadits: Jangan Berlebihan dalam Makan, Karena Kenyang Berlebihan Ada Hisabnya

Islam mengajarkan umatnya untuk hidup sederhana dalam segala hal, termasuk dalam urusan makan dan minum. Makan adalah kebutuhan, namun apabila dilakukan secara berlebihan, ia dapat menjadi sebab kerasnya hati, malas beribadah, bahkan mengundang berbagai keburukan. Rasulullah Muhammad ﷺ mengingatkan umatnya agar tidak menjadikan kenyang sebagai tujuan hidup, karena setiap nikmat akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Ta’ala.

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

تَجَشَّأَ رَجُلٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ كُفَّ عَنَّا جُشَاءَكَ، فَإِنَّ أَكْثَرَهُمْ شِبَعًا فِي الدُّنْيَا أَطْوَلُهُمْ جُوعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Artinya:

“Ada seorang yang bersendawa di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka beliau bersabda, ‘Tahanlah sendawamu agar tidak terdengar oleh kami. Karena orang yang paling banyak kenyangnya di dunia adalah orang yang paling panjang laparnya di hari Kiamat.'” (HR. Tirmidzi no. 2478, dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi).

BACA JUGA:  Perut Terlalu Kenyang

Hadits ini bukanlah larangan untuk makan hingga kenyang sesekali. Rasulullah Muhammad ﷺ sendiri pernah makan hingga kenyang ketika mendapatkan rezeki yang halal. Akan tetapi, yang dicela adalah menjadikan kenyang sebagai kebiasaan, hidup dalam kemewahan tanpa kendali, serta memperturutkan hawa nafsu dalam urusan makanan.

Ucapan Nabi ﷺ kepada orang yang bersendawa mengandung pelajaran tentang adab sekaligus peringatan. Sendawa yang keras setelah makan sering kali menjadi tanda seseorang makan secara berlebihan. Islam mengajarkan sikap pertengahan, yaitu makan secukupnya sesuai kebutuhan tubuh, bukan mengikuti keinginan nafsu.

Para ulama salaf dikenal sangat menjaga pola makan mereka. Mereka memahami bahwa perut yang terlalu penuh dapat melemahkan semangat beribadah, memberatkan shalat malam, membuat hati lalai, dan menimbulkan rasa malas. Sebaliknya, makan secukupnya membantu menjaga kesehatan tubuh sekaligus menjadikan hati lebih mudah khusyuk dalam beribadah.

Makna “orang yang paling panjang laparnya pada hari Kiamat” merupakan ancaman bagi mereka yang berlebihan menikmati kenikmatan dunia tanpa memperhatikan hak Allah dan tanpa rasa syukur. Hari Kiamat adalah hari yang penuh kesulitan. Orang yang tenggelam dalam kenikmatan dunia dengan melampaui batas akan menghadapi hisab yang berat atas nikmat yang telah diberikan kepadanya.

BACA JUGA:  Perhatikan Hal-hal ini ketika Makan

Karena itu, seorang muslim hendaknya membiasakan diri makan secukupnya, bersyukur atas setiap rezeki, dan tidak berlebih-lebihan. Allah Ta’ala juga berfirman:

“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31).

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang pandai menjaga nikmat-Nya, hidup sederhana, mampu mengendalikan hawa nafsu, dan senantiasa mempersiapkan bekal terbaik untuk kehidupan akhirat. Aamiin.

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Hadist

Hadist: Rasululullah Bertanya: Tahukah Kalian Apakah Itu Ghibah?

Hadist

Menjadi Mukmin seperti Jeruk Manis

Hadist

2 Amalan Ringan yang Menjadi Berat di Timbangan: Pelajaran dari Hadits Abdullah bin Amr

Hadist

Hadist: Jangan Marah!