Berteman dengan orang-orang saleh bukan sekadar duduk bersama.
Ia adalah madrasah hati.
Ia adalah jalan perubahan.
Ibnul Qayyim rahimahullah menegaskan bahwa hati itu mudah terpengaruh.
Ia hidup dengan apa yang sering ia dengar dan lihat.
Karena itu, siapa yang sering duduk dengan orang saleh, akan ikut terbawa dalam kebaikan mereka.
(Ighâtsatul Lahfân, 1/136)
Berikut enam perubahan besar yang lahir dari majelis orang saleh.
1. Dari Ragu Menjadi Yakin
Keraguan sering muncul karena jauhnya hati dari ilmu dan iman.
Saat seseorang duduk bersama orang saleh, ia mendengar ayat-ayat Allah dibacakan.
Ia mendengar hadis Nabi ﷺ dijelaskan.
Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata,
“Ilmu itu bukan banyaknya riwayat, tetapi cahaya yang Allah letakkan di dalam hati.”
Cahaya itu tumbuh dalam majelis orang-orang yang takut kepada Allah.
Maka ragu pun luruh, berganti yakin.
BACA JUGA: 15 Adab Pertemanan yang Paling Penting Menurut Ulama Salaf
2. Dari Riya’ Menjadi Ikhlas
Riya’ lahir dari keinginan dipuji.
Orang saleh tidak sibuk mencari pujian manusia.
Mereka sibuk mencari ridha Allah.
Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata,
“Tidak ada yang lebih berat bagiku untuk aku luruskan selain niatku.”
Ketika seseorang melihat keikhlasan para salihin,
ia malu dengan riya’-nya sendiri.
Hatinya belajar untuk beramal dalam diam.
Dan ikhlas pun tumbuh perlahan.
3. Dari Lalai Menjadi Zikir
Kelalaian adalah penyakit hati.
Obatnya adalah mengingat Allah.
Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu berkata,
“Majelis zikir adalah taman-taman surga di dunia.”
Orang saleh menjaga lisannya dengan zikir.
Mereka menghidupkan waktu dengan mengingat Allah.
Siapa yang duduk bersama mereka,
akan terseret dari lalai menuju zikir.
4. Dari Cinta Dunia Menjadi Cinta Akhirat
Dunia tampak indah saat akhirat dilupakan.
Namun di majelis orang saleh, akhirat selalu dihadirkan.
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata,
“Dunia telah pergi membelakangi, dan akhirat telah datang menghadap. Maka jadilah kalian anak-anak akhirat.”
Nasihat seperti ini mengikis ketergantungan pada dunia.
Hati pun mulai rindu pada negeri akhirat.
5. Dari Sombong Menjadi Tawadhu’
Kesombongan tumbuh dari merasa lebih baik.
Namun saat duduk dengan orang saleh,
kita melihat amal mereka.
Ilmu mereka.
Akhlak mereka.
Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata,
“Tawadhu’ adalah tunduk pada kebenaran dan menerimanya dari siapa pun.”
Melihat ketawadhuan para salihin,
kesombongan menjadi runtuh.
Hati belajar merendah.
BACA JUGA: Bagaimana Orang-orang Shaleh Mengingat Kematian
6. Dari Niat Buruk Menjadi Tulus Menasihati
Niat buruk sering tersembunyi di balik kata-kata.
Namun orang saleh menasihati karena cinta.
Bukan karena dengki.
Imam Asy-Syafi‘i rahimahullah berkata,
“Aku tidak pernah berdiskusi dengan seseorang, kecuali aku berharap kebenaran tampak melalui lisannya.”
Majelis seperti ini membersihkan niat.
Mengubah celaan menjadi nasihat.
Mengubah kebencian menjadi kasih sayang.
Penutup
Bermajelis dengan orang saleh adalah cermin hati.
Ia menyingkap kekurangan.
Ia mengajak pada perbaikan.
Jika engkau ingin berubah,
lihatlah dengan siapa engkau duduk.
Karena hati itu meniru.
Dan jiwa itu mengikuti. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


