Dikutip dari buku Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu’anha, Potret Wanita Mulia Sepanjang Zaman karya Sayyid Sulaiman An-Nadwi, disebutkan bahwa sifat-sifat mulia dan akhlak dermawan Aisyah binti Abu Bakr radhiyallahu’anha benar-benar merupakan warisan dari ayahandanya, Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu’anhu. Kedermawanan dan kesederhanaan yang melekat pada beliau menjadi teladan abadi bagi umat Islam, khususnya kaum muslimah.
Abdullah bin Zubair radhiyallahu’anhu pernah berkata, “Aku tidak pernah melihat dua wanita yang lebih dermawan melebihi Aisyah dan Asma binti Abu Bakr. Aisyah, dia mengumpulkan sesuatu dengan sesuatu, ketika sudah terkumpul banyak, dia membagi-bagikannya. Adapun Asma, maka sedikitpun dia tidak menyimpan untuk besok.” (HR. Bukhari). Dari perkataan ini jelas terlihat bahwa sifat dermawan sudah menjadi ciri utama keluarga Abu Bakr Ash-Shiddiq.
Menginfakkan Harta Tanpa Sisa
Salah satu kisah yang masyhur adalah ketika Aisyah radhiyallahu’anha menerima uang sebesar seratus ribu dirham. Dalam keadaan berpuasa, beliau membagi-bagikan seluruh uang itu hingga tidak menyisakan sedikit pun untuk dirinya. Padahal, di rumah beliau saat itu tidak ada makanan. Menjelang waktu berbuka, pembantunya hanya membawa sepotong roti dan minyak.
Pembantunya berkata, “Seandainya tadi engkau menyisakan satu dirham saja untuk membeli daging.” Aisyah hanya tersenyum dan menjawab, “Oh iya, seandainya engkau mengingatkanku tentu aku melakukannya.” Begitu pula dalam riwayat lain, ketika Muawiyah mengirim seratus ribu dirham, beliau juga segera membagi-bagikannya tanpa menyisakan sedikit pun. Hal ini menunjukkan betapa dermawannya Aisyah, hingga melupakan dirinya sendiri.
BACA JUGA: Nabi pada Aisyah: Apakah Kau Senang dengan Doaku Tadi, Humairah?
Al-Hasan al-Bashri rahimahullah pernah berkata, “Dermawan itu bukanlah orang yang memberi dari kelebihan hartanya, tetapi yang memberi dari apa yang ia butuhkan.” Inilah yang tercermin dalam sosok Aisyah radhiyallahu’anha.
Sedekah Sekecil Apapun Dihargai Allah
Dalam sebuah kisah lain, seorang miskin datang meminta makanan kepada Aisyah. Saat itu di hadapannya hanya ada gandum. Beliau pun memberikan biji gandum tersebut. Ketika si miskin tampak heran, Aisyah mengingatkan firman Allah dalam surah Az-Zalzalah ayat 7:
“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.”
Pesan ini menunjukkan betapa dalamnya pemahaman Aisyah tentang nilai amal. Bukan besar kecilnya pemberian yang terpenting, tetapi keikhlasan dalam berbuat baik.
Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Jangan meremehkan kebaikan sekecil apapun. Boleh jadi itu menjadi penyebab Allah merahmati dirimu.” Ungkapan ini sejalan dengan apa yang diamalkan oleh Ummul Mukminin.
Mengutamakan Orang Lain
Kedermawanan Aisyah juga tampak ketika beliau lebih mementingkan orang lain meskipun dirinya dalam keadaan kekurangan. Pernah suatu kali ada seorang miskin yang datang meminta makanan. Padahal, di rumah beliau hanya ada sepotong roti untuk berbuka. Namun, Aisyah tetap berkata kepada pembantunya, “Berikan kepadanya!”
Meski awalnya sang pembantu ragu karena tidak ada lagi makanan tersisa, Aisyah tetap bersikeras untuk memberikannya. Pada sore harinya, Allah menggantikan dengan daging kambing yang dihadiahkan oleh keluarga lain. Aisyah pun berkata kepada pembantunya, “Makanlah daging ini, ini lebih baik dari roti keringmu.” (HR. Imam Malik, Al-Baihaqi).
Peristiwa ini mengingatkan kita kepada sabda Nabi ﷺ: “Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Tidak Tamak Harta
Selain dermawan, Aisyah juga dikenal tidak tamak terhadap harta. Suatu ketika beliau menjual rumah kepada Muawiyah dengan harga yang sangat besar, sekitar 180 ribu hingga 200 ribu dirham. Namun, sebelum beliau beranjak dari tempat duduknya, seluruh uang tersebut sudah beliau sedekahkan.
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah pernah berkata, “Harta itu bagaikan air laut, semakin diminum semakin haus. Hanya hati yang dipenuhi iman dan zuhud yang tidak diperbudak olehnya.” Kalimat ini menggambarkan keteguhan hati Aisyah, yang tidak sedikit pun terikat oleh harta dunia.
BACA JUGA: Aisyah binti Abu Bakar dan Keutamaannya
Teladan Bagi Muslimah Sepanjang Zaman
Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu’anha bukan hanya seorang istri Nabi ﷺ yang mulia, tetapi juga seorang teladan dalam akhlak, kedermawanan, dan kepedulian terhadap sesama. Beliau mampu menempatkan akhirat lebih utama dari dunia.
Bagi muslimah masa kini, teladan Aisyah bukan sekadar kisah sejarah, tetapi inspirasi nyata. Betapa mulianya seorang wanita yang hatinya dipenuhi iman, yang memberi tanpa pamrih, dan yang lebih mementingkan kebutuhan orang lain dibandingkan dirinya.
Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah pernah berkata, “Jika engkau ingin melihat kedudukanmu di sisi Allah, maka lihatlah sejauh mana kedudukan Allah dalam hatimu.” Aisyah telah menempatkan Allah sebagai tujuan utama dalam setiap amal, sehingga dunia baginya hanyalah sarana untuk meraih ridha-Nya.
Penutup
Kedermawanan Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu’anha adalah salah satu mutiara sejarah Islam. Beliau tidak hanya menjadi istri Rasulullah ﷺ, tetapi juga guru bagi umat dengan akhlaknya yang luhur. Semoga kisah-kisah ini membangkitkan semangat kita untuk lebih dermawan, ikhlas, dan tidak tamak terhadap dunia. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


