Kesebelas, Fir’aun durjana yang mengaku Tuhan, justru istananya kebobolan dari dalam. Manusia yang paling dekat dengannya secara kasat mata, yaitu permaisurinya, ingkar kepadanya dan sebaliknya beriman kepada Allah. Allah telah memerintahkan hatinya untuk mencintai Nabi Musa, bayi yang masih menyusu, untuk memelihara dan membelanya. Sementara itu, Fir’aun tidak berdaya menghadapi kenyataan ini sehingga menyetujui segala permintaan permaisurinya.
Kedua belas, Allah membuat tipuan terhadap Fir’aun dan membuatnya melakukan perbuatan yang tidak luput dari kecerobohan di hadapan masyarakat. Justru, dia sendiri menyetujui hidupnya seorang bayi laki-laki di sisinya, tumbuh di istananya, serta menjamin, merawat, dan menghidupinya. Padahal, kelak kebinasaan Fir’aun jatuh di tangan bayi tersebut.
BACA JUGA: 2 Pekerjaan Terbaik menurut Nabi Muhammad (2-Habis)
Ketiga belas, bagi hamba-hamba-Nya yang saleh, Allah mengganti kehilangan mereka akan orang-orang yang mereka cintai dan menyayangi mereka. Bagi Nabi Musa yang masih menyusu, dia kehilangan dekapan dan kehangatan kasih sayang ibunya selama beberapa saat hingga akhirnya Allah mengembalikan semua itu kepadanya.
Keempat belas, sesungguhnya upaya membentuk sosok yang jantan tidak akan tercapai melalui kekayaan dan kemanjaan, tetapi seharusnya dengan ujian, kedisiplinan, dan keprihatinan. Nabi Musa ditempatkan di dalam peti yang dihanyutkan ke sungai. Sungai ini menghanyutkannya ke pintu gerbang istana Fir’aun serta menyerahkannya sebagai hadiah kepada musuh sengitnya, tetapi Allah senantiasa menjaganya.
Kelima belas, Allah terkadang menguji para wali dan orang-orang kesayangannya. Terkadang, Dia menimpakan kepada mereka bahaya dan musibah. Jika hal ini terjadi pada mereka, ini tidak menjadi dalil yang menunjukkan ketidakcintaan dan ketidakridhaan Allah kepada mereka. Sebaliknya, ujian tersebut untuk mengasah jiwa, memperdalam iman, serta meninggikan derajat dan kedudukan (maqam) di sisi-Nya.
Keenam belas, penolakan kedua bibir Nabi Musa yang masih bayi untuk menyusul dari semua puting susu, kecuali puting susu ibunya, merupakan bantahan terhadap konsep materialis yang mengingkari alam gaib dan dimensi ruh. Mereka tidak menetapkan adanya akal, pilihan, kesadaran, dan kehidupan, kecuali hanya pada manusia.
Ketujuh belas, Allah tidak mengingkari janji-Nya. Allah telah menjanjikan kepada ibunda Nabi Musa untuk mengembalikan anaknya dengan selamat. Akhirnya, Allah mengembalikan Nabi Musa kepadanya dengan cara yang tidak terlintas di benak siapa pun.
BACA JUGA: 7 Pengantar Surat Nabi
Kedelapan belas, diambilnya upah oleh ibunda Nabi Musa dari Fir’aun atas penyusuan pada anaknya dikategorikan sebagai dalil atau bukti yang menunjukkan bahwa Allah sangat memuliakan dan mencurahkan nikmat kepadanya. Hal ini dianggap sebagai suatu contoh bagi orang yang melaksanakan kewajiban dan mengambil upah atas kewajiban yang dijalankannya.
Kesembilan belas, keharusan mengambil cara-cara manusiawi yang paling efektif dan terbaik untuk perencanaan, pengorganisasian, dan pengambilan keputusan dengan kehati-hatian, kewaspadaan, keamanan dalam menyimpan rahasia dari musuh, kecerdikan, kecerdasan, dan sikap bijak terhadap mereka. Semua ini sebagaimana kita saksikan dari sikap saudari Nabi Musa.[]
HABIS | SUMBER: KISAH-KISAH DALAM AL-QURAN | PUSAT STUDI QURAN
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


