Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menyebutkan bahwa sebuah amal ibadah belum dinilai sesuai dengan petunjuk Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bila tidak sesuai dalam enam hal, yaitu:
1- Ittiba’ dalam sebab (السبب)
Seseorang mesti beramal berdasarkan sebab yang ditetapkan oleh syari’at. Seperti shalat khusuf (gerhana) yang hanya dilaksanakan karena sebab gerhana matahari atau bulan.
BACA JUGA: Doa agar Tak Malas Ibadah
2- Ittiba’ dalam jenis (الجنس)
Ibadah mesti sesuai dalam jenis yang ditetapkan syariat, contohnya zakat fitrah ditentukan dari jenis makanan pokok, maka tidak sah jika dibayar dengan selainnya.
3- Ittiba’ dalam kadar (القدر)
Ibadah mesti sesuai dalam kadar yang telah ditetapkan, seperti contoh jumlah shalat fardhu dan rakaat-rakaatnya.
4- Ittiba’ dalam tata cara (الكيفية)
Maksudnya tata cara pelaksanaan ibadah harus sesuai, contoh tata cara berwudhu dan shalat. Tidak sah bila berwudhu dimulai dengan membasuh kaki atau shalat dimulai dengan sujud atau ruku’.
5- Ittiba’ dalam waktu (الزمان)
Kesesuaian dalam waktu ini berlaku pada ibadah yang waktunya sudah baku awal dan akhirnya, seperti shalat, puasa Ramadhan, dan haji. Oleh karena itu, tidak sah haji di bulan Ramadhan. Namun bila waktunya belum ditentukan maka boleh dilaksanakan kapan saja, seperti membaca al-Quran.
BACA JUGA: Kaitan Rezeki dengan Ibadah kepada Allah Ta’ala
6- Ittiba’ dalam tempat (المكان)
Kesesuaian ibadah dalam tempat berlaku untuk ibadah yang tempatnya ditetapkan seperti i’tikaf di masjid, haji ke baitullah Ka’bah di Mekkah. []
SUMBER: Sudah Benarkah Ibadah Saya? / Penulis : Izuddin Karimi Abu Khair / Penerbit : Pustaka Al-Inabah | Kajian Sunnah Bandung
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


