JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Ibadah

Haji Menjadi Mabrur (1)

Kaum muslimin dari berbagai suku dan bangsa berbaur menjadi satu, berpadu dalam ibadah yang sama. Sudah pasti, hati mereka penuh harap agar ibadah ini yang hanya diwajibkan sekali seumur hidup dapat diterima sebagai haji mabrur.

Terlebih, ganjaran bagi seorang yang mendapatkan haji yang mabrur adalah balasan terbaik. Dan surga adalah idaman semua insan di dunia.

Pada saat musim haji dan menyaksikan ribuan manusia melaksanakan manasik, Mujahid rahimahullah bergumam, “Alangkah banyaknya jumlah jamaah haji.”

Mendengar ungkapan ini, Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma langsung berkata, “Mereka sungguh sedikit, tetapi katakanlah; ‘Alangkah ramainya kumpulan manusia ini.’” [Mushannaf Abdur Razzaq].

Lantas, apakah hakikat haji yang mabrur?

“Mabruur” berasal dari kata al-birr. Dalam bahasa Arab kata ini mmempunyai dua makna utama, yaitu:

Pertama, berbuat baik kepada manusia dan tidak menyakitinya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Al-birr adalah akhlak mulia.” [HR. Muslim]

BACA JUGA: Meraih Pahala Haji dan Umroh Setiap Pagi dengan 4 Amalan

Kedua, Memperbanyak aneka ragam ketaatan dan ketakwaan, serta jauhi segala macam bentuk dosa.

Dalam menjelaskan haji mabrur, ulama telah mengemukakan beberapa definisi. Intinya sebagaimana dijelaskan oleh Imam al-Qurthubi, bahwa haji mabrur adalah: “Haji yang terpenuhi seluruh hukumnya, dan dilaksanakan secara sempurna.”

Lalu bagaimana cara kita bisa mendapatkan haji yang mabrur?

Kita semua pasti mengharapkan haji yang mabrur ketika beribadah haji di baitullah, namun tidak semua orang dapat memperolehnya.

Maka dari itu, kita perlu mengkaji beberapa perkara yang membuat haji kita menjadi mabrur.

1. Ikhlas

Artinya melaksanakan semua manasik haji hanya karena mengharapkan ridho Allah subhanahu wata’ala. Hati harus dibersihkan dari ambisi dan kepentingan duniawi yang fana, seperti mengharap pujian dan penghormatan.

Dalam hadits qudsi, Allah subhanahu wata’ala berfirman yang artinya:

“Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barang siapa melakukan suatu amal dengan dicampuri perbuatan syirik kepadaKu, niscaya Aku akan tinggalkan dia bersama sekutunya.” [HR. Muslim].

2. Mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam

Ibadah haji dan selainnya, tidak akan diterima kecuali bila telah memenuhi dua syarat ini; yaitu niat yang ikhlas dan mengikuti sunnah/tuntunan. Nabi shallallhu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya:

“Ambillah manasik haji dariku, sebab aku tidak tahu, barangkali aku tidak berhaji lagi sesudah hajiku ini.” [HR. Muslim].

BACA JUGA: Ia Telah Merusak Nilai Kedua Hajinya

Jadi, meskipun sebuah ibadah dilaksanakan secara ikhlas, namun tidak sesuai sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ibadah itu pasti tertolak.

Sebaliknya, meskipun ibadah tersebut telah sesuai sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, namun niatnya tidak ikhlas, maka ia juga tidak diterima. []

BERSAMBUNG

 

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Ibadah

Amalan Terbaik yang Bisa Dilakukan oleh Orang yang Masih Hidup untuk yang Sudah Meninggal

Ibadah

Sebab Dikabulkannya Doa

Ibadah

12 Perkara dalam Shalat

Ibadah

Adab Mengucapkan Salam

Leave a Reply