3. Persiapan yang maksimal
Dengan persiapan optimal dan semaksimal mungkin, seorang hamba dapat menjalankan rangkaian manasik haji dengan sempurna. Persiapan ini tidak hanya tentang bagaimana kesiapan fisik tiap hambanya ketika ingin berhaji, tapi juga kesiapan spiritual antara hamba dan rabb-nya.
4. Menghayati hakikat dan tujuan ibadah haji
Perjalanan haji merupakan sebuah perjalanan ibadah yang sarat dengan hikmah dan tujuan yang mulia. Ibadah haji bukanlah sekedar perjalanan mengunjungi negara lain dengan tujuan berlibur atau semacamnya.
BACA JUGA: Rahasia Ibadah Haji
Maka dari itu, tiap hamba yang ingin melakukan perjalanan haji haruslah memiliki tujuan dan keimanan yang kuat dan jelas, dimana mereka melakukan perjalanan haji semata-mata hanya karena megharapkan ridho Allah subhanahu wata’ala.
Serta mengharapkan ganjaran pahala yang luar biasa besarnya.
5. Berusaha keras menghindari maksiat dan pelanggaran
Untuk memperoleh haji yang mabrur, seluruh hukum haji harus dipenuhi dan dilaksanakan dengan sempurna. Termasuk meninggalkan semua hal yang sekiranya bisa mendatangkan dosa.
Melakukan dosa dan melanggar larangan haji dengan sengaja akan menjauhkan seseorang dari nominasi haji mabrur.
Selama menunaikan ibadah haji, kita kerap kali melihat kesalahan-kesalahan yang dianggap remeh oleh sebagian orang. Seperti sengaja melalaikan sholat, melanggar larangan ihram, bersiteru dengan jamaah lain, sibuk melakukan urusan duniawi dan melupakan tujuan ibadah haji.
6. Bersungguh-sungguh dalam ibadah dan ketaatan
Dalam rangkaian ritual ibadah haji selama waktu 40 hari. Idealnya selama waktu ini jamaah benar-benar terlepas dari berbagai urusan duniawi dan hanya terfokus pada rangkaian ibadah yang dilakukan.
Maka, sudah selayaknya dalam waktu haji ini benar-benar dimanfaatkan semaksimal mungkin. Apalagi, situasi dan kondisi haji benar-benar menjadi momen perubahan yang sangat langka.
Selain manasik haji dan umrah, masih banyak amal ibadah lain yang bisa dilakukan secara berkesinambungan, seperti membaca al-Qur’an, zikir, istigfar, shalat-shalat sunah, bersedekah, berdakwah, dan berdoa.
7. Istiqomah
Tanda yang paling jelas dari haji mabrur adalah jika seorang jamaah haji berubah menjadi lebih baik dan sholeh di musim haji dan setelah kembali ke negeri asalnya.
Ia tidak hanya mampu mempertahankan amal ibadah dan kebajikan yang selama ini telah dilakukan, melainkan berhasil meningkatkannya sembari menjauhi segala bentuk maksiat, kemudian istiqamah di dalamnya.
BACA JUGA: Mengapa Umat Islam Pergi Haji?
Kita sering menyaksikan seseorang membangun benteng ketaatan yang cukup kokoh di musim haji, namun setelah kembali ia merobohkan benteng tersebut dengan tangannya sendiri.
Bukankah mereka yang meraih haji mabrur akan kembali seperti hari ia dilahirkan oleh ibunya? Tetapi, apakah kita akan kembali mengisi jiwa putih bersih tersebut dengan noda-noda hitam?
Semoga Allah menerima semua amal ibadah kita, menganugerahi kita haji yang mabrur, serta memberi kita taufik (kemudahan) agar tetap istiqomah dalam taat dan takwa, sampai kelak ajal menjemput kita. Aamiin. []
Sumber: Agar Kita Mendapatkan Haji Mabrur, oleh: H. Eko Misbahudin, Lc. dari buku Refleksikan Hajimu | ChanelMuslim.com
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


