JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Ibadah

Hukum Baca Doa Iftitah dalam Shalat

Batas Makmum Masbuk, Hukum Shalat Berjemaah yang Terpisah Tiang, Bacaan Shalat Berjamaah, Waktu Doa Mustajab, Syarat Jadi Imam Shalat

Mazhab Maliki: Makruh hukumnya membaca doa iftitah. Orang yang melaksanakan shalat langsung bertakbir dan membaca al-Fatihah, berdasarkan riwayat Anas bin Malik, ia berkata: “Rasulullah ﷺ, Abu Bakar dan Umar mengawali shalat dengan Alhamdulillahi Rabbil’alamin”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Jumhur Ulama: Sunnat hukumnya membaca doa Iftitah setelah Takbiratul-Ihram pada rakaat pertama.

Ini pendapat yang Rajih (kuat) menurut saya (Syekh Wahbah az-Zuhaili. Bentuk doa Iftitah ini banyak.

BACA JUGA:  Hukum Shalat Sambil Gunakan Sepatu (1)

Doa pilihan menurut Mazhab Hanafi dan Hanbali adalah:

سُبْحَا َ َك اللاَّل ُ اَّلم وَِبَِمْدِ َؾ وَتػَبَارََؾ ا ْشتُ َك وَتػَعَاَذل جَ ُّدَؾ وَالَ إِلَوَ َايػْ َُؾ

“Maha Suci Engkau ya Allah dan dengan pujian-Mu, Maha Suci nama-Mu dan Maha Tinggi keagunganMu, tiada tuhan selain Engkau”. Berdasarkan riwayat Aisyah, ia berkata: “Rasulullah Saw ketika mengawali shalat, beliau membaca: “Maha Suci Engkau ya Allah dan dengan pujian-Mu, Maha Suci nama-Mu dan Maha Tinggi keagungan-Mu, tiada tuhan selain Engkau”. (HR. Abu Daud dan ad-Daraquthni dari riwayat Anas. Abu Daud, at-Tirmidzi, an-Nasa’I, Ibnu Majah dan Ahmad dari Abu Sa’id. Muslim dalam Shahih-nya: Umar membaca doa ini dengan cara jahar [Nail al-Authar: 2/195])

Pendapat pilihan dalam Mazhab Syafi’I adalah bentuk doa:

BACA JUGA: Hukum Mengakhirkan Shalat

وَ ُسُكِى وَ َْػتيَاىَ وََؽتَاتِى لِلاَّلوِ رَ ِّدب الْعَالَمِ َ الَ َشِ َك لَوُ وَبَِ لِ َك أُمِ ْ ُت وَأَ َا مِنَ الْمُسْلِمِ َ مسلماً وَمَا أَ َا مِنَ الْمُ ْ ِ ِ َ إِ اَّلف صَالَتِ و ى َ اَّلج ْ ُت وَجْ ِ ىَ لِلاَّل ِى فَطَ َ ال اَّلسمَوَا ِت وَاألَرْ َض َنِيفًا

“Aku hadapkan wajahku kepada Dia yang telah menciptakan langit dan bumi, aku condong kepada kebenaran, berserah diri kepada-Nya, aku tidak termasuk orang-orang musyrik. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, matiku hanya untuk Allah Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya, dengan itulah aku diperintahkan, aku termasuk orang-orang yang berserah diri (muslim)”. Berdasarkan riwayat dari Ahmad, Muslim dan at-Tirmidzi, dinyatakan shahih oleh at-Tirmidzi, diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib. []

Sumber: 77 Tanya-Jawab Seputar Shalat/Disusun Oleh: H. Abdul Somad, Lc., MA./S1 Al-Azhar, Mesir. S2 Darul-Hadits, Maroko./Dosen Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Ibadah

Membaca Quran Itu

Ibadah

Bolehkah Lakukan Shalat Dhuha dengan Niat untuk Dapatkan Rezeki?

Ibadah

Apa Hukum Berdoa dengan Mengangkat Kedua Tangan antara Adzan dan Iqamah?

Ibadah

Sampai Setinggi Apakah Mengangkat Kedua Tangan dalam Takbiratul Ihram?

Leave a Reply