Tatkala nasihat diperdengarkan kepada seseorang, seringkali muncul dalam dirinya suatu kesadaran spontan. Namun, tatkala ia keluar dari majelis ilmu, hatinya kembali mengeras dan membatu.
Saya merenungi sebabnya. Rupanya manusia berbeda-beda kondisinya ketika mendengarkan wejangan dan nasihat maupun setelah mendengarkannya. Renungan dan refleksi saya sampai pada dua kesimpulan.
BACA JUGA: Nasihat-nasihat Imam Hasan Al-Bashri yang Menggetarkan Jiwa
Pertama, nasihat itu laksana cemeti. Ketika seseorang habis dipukuli dengan cemeti itu, ia seringkali tak merasa sakit.
Kedua, tatkala mendengar nasihat, kondisi jiwa dan pikirannya prima. Dia terlepas dari segala ikatan duniawi. Diam dan menghadirkan hatinya. Namun, tatkala kembali disibukkan dengan urusan dunia, penyakit la-manya kambuh.
Kondisi demikian dapat menimpa setiap orang. Hanya mereka yang memiliki kesadaran tinggilah yang bisa mengatasi pengaruh-pengaruh duniawi tersebut. Ada yang bertekad kuat untuk kukuh berpegang pada prinsip yang telah diyakininya, lalu berjalan tanpa menoleh-noleh lagi. la akan memberontak jika perilakunya tidak lagi sesuai dengan tabiat diri, seperti Hanzhalah yang per-nah mengecam dirinya, “Hanzhalah telah munafik!”
BACA JUGA: Apa Nasihat bagi Orang yang Diuji dengan Rasa Waswas?
Ada pula yang terkadang masih terseret kelalaian akibat pengaruh tabiat diri, namun pada saat yang sama nasihat itu masih memengaruhi dirinya untuk beramal. Laksana cabang-cabang pohon yang goyah diterpa hembusan angin.
Ada lagi golongan manusia yang tak terpengaruh apa-apa. Sekadar mendengar. Mereka laksana batu yang diam. []
Referensi: Sumber: Shaidul Khatir, Cara Manusia Cerdas Menang dalam Hidup, karya Imam Ibnu Al Jauzi, Penerbit Maghfirah Pustaka, Cetakan Juni 2022
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


