JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Sirah

Umar bin Khattab: Zuhudnya Sang Khalifah, Dermawannya Sang Penerus

kota arab

Di tengah kemegahan dunia dan kilauan harta, tak mudah menemukan pemimpin yang hatinya tak terpaut pada dunia. Namun, dalam sejarah Islam, terdapat sosok agung yang mampu berdiri tegak di atas prinsip zuhud dan kedermawanan: dialah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu.

Sa’ad bin Abi Waqqash pernah menuturkan, “Umar tidak mendahului kami dalam berhijrah, tetapi aku tahu satu hal yang membuatnya melebihi kami, dia adalah orang yang paling zuhud terhadap dunia di antara kami semua.” (HR. al-Bukhari)

Zuhud bukan berarti membenci dunia, tetapi menempatkan dunia di tangan, bukan di hati. Itulah sikap Umar. Saat kaum Muslimin mendapatkan rampasan perang dan Rasulullah ﷺ membagikan harta tersebut, Umar selalu berkata, “Berikan kepada yang lebih miskin dariku.”

Rasulullah ﷺ pun suatu hari bersabda padanya, “Terimalah dan simpan, lalu sedekahkan!” (HR. Muslim). Sebuah arahan yang menunjukkan bahwa menerima nikmat dunia tidaklah terlarang, namun hendaknya dijadikan sarana untuk akhirat.

BACA JUGA:  Umar bin Khattab Halangi Rasulullah Shalati Jenazah Abdullah bin Ubay

Kedermawanan Umar bukan hanya terlihat dalam sedekah pribadi, namun juga dalam upaya besar yang memiliki dampak jangka panjang. Ketika ia mendapatkan sebidang tanah di Khaibar, ia datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, “Aku mendapat bagian dari tanah Khaibar, yang sebenarnya aku belum pernah mendapat harta sebegitu berharga. Apa yang harus kuperbuat wahai Rasulullah?”

Rasulullah ﷺ bersabda, “Jika engkau mau, tahan pokoknya dan sedekahkan hasilnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim). Umar pun mewakafkan tanah tersebut dan menjadikannya sebagai salah satu wakaf pertama dalam Islam.

Wakaf Umar ini menjadi cikal bakal sistem wakaf produktif yang kini berkembang di seluruh dunia Islam. Ia tak hanya mengorbankan harta, tetapi juga memikirkan keberlanjutannya demi maslahat umat.

Pembantunya, Aslam, mengatakan, “Aku tidak melihat seorang pun setelah Rasulullah yang lebih dermawan sampai akhir hayatnya melebihi Umar bin Khaththab.”

Inilah bukti bahwa zuhud tidak berarti hidup miskin, tapi hidup dengan sikap tawadhu dan tak tergoda dunia. Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata, “Zuhud adalah engkau lebih yakin dengan apa yang ada di sisi Allah daripada apa yang ada di tanganmu.” (Hilyatul Auliya’, 8/91)

Kisah-Kisah Kezuhudan Umar

Dikisahkan pula, pada masa kekhalifahannya, Umar menolak untuk hidup mewah. Ia tidur di atas pelepah kurma, mengenakan pakaian kasar, dan memakan roti kering. Ketika negeri-negeri ditaklukkan dan harta rampasan memenuhi Madinah, ia tetap tak mengubah gaya hidupnya. Ia berkata, “Cukuplah bagiku makan malam dengan minyak dan roti.”

Ketika terjadi paceklik besar, ia melarang dirinya memakan daging dan lemak, agar merasakan apa yang dirasakan rakyatnya. Ia bahkan berkata, “Bagaimana aku bisa merasa kenyang sementara rakyatku lapar?”

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Zuhud bukan berarti meninggalkan harta, tetapi zuhud adalah hati yang tidak tergantung pada dunia meski ia memilikinya.” (Madarijus Salikin, 2/23)

BACA JUGA:  Emas Tak Turun dari Langit: Pelajaran dari Umar bin Khattab tentang Kerja Keras dan Hati yang Bersih

Pelajaran dari Umar

Dari kisah Umar bin Khattab, kita belajar bahwa kekuasaan tidak mesti membawa kemewahan. Bahwa kepemimpinan yang sejati adalah yang berpihak kepada rakyat, bukan kepada perut dan hawa nafsu. Dan bahwa harta terbaik adalah harta yang diinfakkan di jalan Allah.

Umar adalah cermin nyata dari sabda Nabi ﷺ, “Dunia ini manis dan hijau. Dan Allah menjadikan kalian sebagai khalifah di dalamnya, lalu Dia akan melihat apa yang kalian perbuat.” (HR. Muslim)

Zuhud dan derma, dua sifat yang berpadu dalam pribadi Umar, menjadikannya bukan hanya pemimpin yang ditakuti musuh, tetapi juga dicintai rakyat. Ia menunjukkan bahwa dunia bisa ditaklukkan dengan hati yang penuh akhirat. []

Referensi:
HR. al-Bukhari no. 2737 dan Muslim no. 1632
Hilyatul Auliya’, Abu Nu’aim, 8/91
Madarijus Salikin, Ibnul Qayyim, 2/23
The Golden Story of Abu Bakar Ash-Shiddiq, DR. Ahmad Hatta MA., dkk., Maghfirah Pustaka, 2015
Siyar A‘lam An-Nubala’, Adz-Dzahabi
Al-Bidayah wa Nihayah, Ibnu Katsir

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Sirah

Pertolongan Allah

Sirah

Rasa Tanggung Jawab dan Iman kepada Akhirat dari Para Sahabat Nabi

Sirah

Penyesalan Sang Kakek

Sirah

Aminah Wafat