JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Kajian

Talbis Iblis atas Ahli Ibadah yang Melakukan Amar Makruf Nahi Munkar

Mereka ini terbagi menjadi dua kelompok: kelompok berilmu dan kelompok jahil.

Adapun masuknya Iblis kepada orang berilmu melalui dua jalan, yaitu sebagai berikut.

Jalan pertama: Menganggap baik perbuatan itu yang dilakukan demi untuk mencari nama baik serta membanggakan amalannya kepada orang lain.

Dinukilkan kepada kami dari Ahmad bin Abul Hawari, dia pernah menceritakan; Aku mendengar Abu Salman berkata: “Aku mendengar Abu Bakar Ja’far al-Manshur menangis di dalam khutbah Jum’atnya, sehingga aku pun marah serta berniat untuk berdiri dan menasihatinya, karena aku tahu bagaimana sikapnya manakala tidak sedang di atas mimbar. Namun aku segan berdiri untuk menasihati Khalifah, dan orang-orang yang duduk melihatku dengan cara menatap. Kemudian terlintaslah di dalam benakku pandangan baik atas tindakan itu yang mengakibatkan Khalifah Abu Ja’far memerintahkanku agar dibunuh, sehingga aku mati bukan atas niat yang benar. Maka aku pun duduk dan diam.”

BACA JUGA:  Talbis Iblis atas Ahli Ibadah dalam Perkara Shalat

Jalan kedua: Marah untuk kepentingan diri sendiri, bisa jadi di awal, bisa jadi timbul saat dia sedang mengajak kepada kebaikan, lalu orang-orang menyambutnya dengan penghinaan hingga dia membela diri. Umar bin Abdul Aziz berkata kepada seorang lelaki: “Andai aku tidak dalam keadaan marah, niscaya aku akan menghukummu. Kamu sengaja memancing amarahku. Aku khawatir hukumanku bercampur antara marah karena Allah dan marah karena diri sendiri.”

Sedangkan jika pelaku amar makruf itu bodoh (jahil), maka syaitan mudah mempermainkannya. Pastinya dia lebih banyak menimbulkan kerusakan daripada berbuat perbaikan. Sebab amatlah mungkin dia melarang sesuatu yang dibolehkan oleh ijma ulama umat ini. Boleh jadi dia mengingkari takwil rekannya dan mengikuti mazhab yang salah.

Kemungkinan juga saat mengingkari kemungkaran dia mendobrak pintu, memanjat pagar, memukul pelakunya, dan menuduhnya berzina. Bila para pelaku kemungkaran itu mendebatnya dengan kata-kata yang sulit dia tanggapi, kemudian dia malah marah, berarti kemarahan itu untuk kepentingan diri sendiri.

Termasuk talbis Iblis kepada para pengingkar kemungkaran yaitu seseorang yang baru saja mengingkari kemungkaran duduk di suatu perkumpulan lalu mengabarkan apa yang dilakukannya itu lantas membanggakannya, mencaci maki pelaku kemungkaran dengan cacian yang penuh kebencian serta melaknat mereka.

Dengan syarat dia benar-benar memiliki ilmu ataupun dalil yang menjadi ryshlar, bukan dispensasi ahli faqih atau kekeliruan salah seorang ulama. Perincian tentang hal ini dibahas pada bab yang lain.

Padahal, boleh jadi orang-orang itu sudah bertaubat. Boleh jadi mereka lebih baik daripadanya. Karena mereka menyesali perbuatannya, sedang pengingkar kemungkaran tersebut malahan bersikap sombong. Lalu pembicaraan melebar hingga terbuka aib kaum muslimin, karena dia memberi tahu aib seseorang kepada orang lain yang sebenarnya tidak tahu. Padahal, menutup aib seorang muslim hukumnya wajib selagi mungkin dirahasiakan.

Aku mendengar cara sebagian orang jahil mengingkari kemungkaran, bahwa ia menyerang suatu kaum tanpa memastikan yang sedang mereka lakukan. Dia memukul mereka dengan pukulan menyakitkan, juga memecahkan bejana-bejana, padahal semua itu cerminan kebodohan.

Sementara orang yang berilmu, kalau dia mengingkari kemungkaran, niscaya Anda akan aman dari efeknya.

BACA JUGA: Talbis Iblis agar Meninggalkan Amalan Sunnah

Sungguh, para Salaf bersikap lemah lembut pada waktu mengingkari kemungkaran.

Shilah bin Usyaim melihat seorang laki-laki yang sedang berbicara dengan seorang wanita, dan dia berkata: “Sesungguhnya Allah melihat kalian berdua. Semoga Allah menutupi kesalahan kalian seperti halnya Dia menutupi kesalahan kami.”

Shilah juga pernah melewati orang-orang yang sedang bermain-main. Tanpa segan dia bernasihat kepada mereka: “Saudara-saudara, apa pendapat kalian mengenai seseorang yang hendak melakukan perjalanan jauh, namun dia malah tidur sepanjang malam serta bermain-main sepanjang hari, kapankah dia bisa menyelesaikan perjalanannya?” Seorang laki-laki dari mereka paham akan maksud perkataan tadi, lantas dia berkata kepada teman-temannya: “Sesungguhnya orang ini mengajari kita.” Maka, dia dan teman-temannya pun bertaubat.

Orang yang paling patut dan berhak diingkari dengan kelembutan adalah para penguasa. Bagi mereka dikatakan: “Allah sudah memuliakan kalian, maka dari itu kenalilah nikmat-Nya. Sungguh nikmat Allah itu akan kekal dengan mensyukurinya. Janganlah kalian membalas kenikmatan dengan kemaksiatan.” []

Sumber: Al-Muntaqa An-Nafis min Talbîs Iblîs (Talbis Iblis – Tipu Daya dan Perangkap Iblis ddalam Upaya Menjerumuskan Manusia Ke Jurang Kehancuran / Penulis: Ibnul Jauzi / Penerbit: : Dar Ibnul Jauzi Riyadh KSA / Cet. I 1429 Η / Pustaka Imam Syafi’i / Cetakan Keenam Jumadil Ula 1442 H / Desember 2020 M

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Kajian

Talbis Iblis atas Ahli Ibadah dalam Perkara Haji

Kajian

Maksiat Membuat Semua Urusan Dipersulit

Kajian

Maksiat Membuat Pelakunya Asing di antara Orang Baik

Kajian

4 Keburukan