Madinah sedang panas-panasnya.
Debu beterbangan di antara rumah-rumah sederhana. Matahari terasa begitu dekat dengan kepala.
Orang-orang membutuhkan air.
Namun, tidak semua orang bisa mendapatkannya dengan mudah.
Di tengah kota itu ada sebuah sumur yang dikenal dengan nama Sumur Rûmah.
Airnya segar.
Tetapi ada persoalan.
Sumur itu milik seorang Yahudi. Airnya dijual kepada penduduk Madinah.
BACA JUGA: Detik-detik Kematian Ustman bin Affan
Bagi orang yang memiliki uang, tentu bukan masalah.
Tetapi bagi kaum Muslimin yang miskin, setiap tetes air terasa begitu berharga.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kemudian bersabda:
“Barang siapa membeli sumur Rûmah dan menjadikannya untuk kaum Muslimin, maka baginya surga.” (HR. Bukhari).
Para sahabat terdiam.
Siapa yang akan membelinya?
Harganya tidak sedikit.
Lalu datanglah seorang sahabat.
Utsman bin Affan radhiyallahu anhu.
Ia mendatangi pemilik sumur tersebut.
“Berapa harga sumur ini?”
Sang pemilik menyebutkan harga.
Utsman menawar.
Terjadilah pembicaraan.
Akhirnya Utsman membeli sumur tersebut.
Tetapi bukan untuk dirinya.
Bukan pula untuk keluarganya.
Ia menjadikannya milik kaum Muslimin.
Sejak saat itu, orang-orang datang mengambil air tanpa harus membayar seperti sebelumnya.
Ada yang membawa kendi.
Ada yang membawa wadah kecil.
Ada pula yang sekadar minum untuk menghilangkan dahaga.
Utsman melihat mereka dari kejauhan.
Ia tersenyum.
Harta yang baru saja dikeluarkannya tidak lagi menjadi miliknya.
Tetapi manfaatnya menjadi milik banyak orang.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim).
Para ulama menjelaskan bahwa sedekah jariyah adalah amal yang terus memberikan manfaat meskipun orang yang bersedekah telah meninggal dunia.
Dan kisah Utsman menjadi salah satu gambaran indahnya.
Ia mengeluarkan hartanya ketika masih hidup.
BACA JUGA: 10 Perkara yang Paling Disia-siakan Menurut Ustman bin Affan
Namun manfaatnya terus mengalir.
Barangkali setiap orang yang meneguk air dari sumur itu tidak mengenal siapa yang membelinya.
Tidak masalah.
Utsman tidak sedang membeli pujian manusia.
Ia sedang membeli sesuatu yang jauh lebih mahal.
Ridha Allah dan pahala yang terus mengalir.
Begitulah orang-orang saleh memandang harta.
Bukan sekadar untuk dikumpulkan.
Tetapi untuk dijadikan jalan menuju Allah. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


