JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Muamalah

Jangan Sembarangan Memuji! Ancaman Keras dari Rasulullah ﷺ

Dzolim

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Celaka engkau, engkau telah memotong leher temanmu.”
(Beliau mengucapkannya berulang kali).
“Jika salah seorang di antara kalian terpaksa harus memuji, maka ucapkanlah, ‘Saya kira si fulan demikian kondisinya,’ jika ia memang menganggapnya demikian. Adapun yang mengetahui kondisi sebenarnya adalah Allah, dan janganlah mensucikan seorang di hadapan Allah.”
(HR. Sahih Bukhari no. 52)

Hadits yang agung ini menunjukkan betapa Islam sangat menjaga hati manusia dari penyakit yang halus namun berbahaya: ujub dan kesombongan akibat pujian.

BACA JUGA:  Imam Hasan Al-Bashri dan Akhlak Terpuji

⚠️ Apa Maksud “Memotong Leher Temanmu”?

Para ulama menjelaskan bahwa ungkapan Nabi ﷺ ini adalah bentuk peringatan keras.
Menurut Imam An-Nawawi rahimahullah, maknanya adalah:

Pujian berlebihan bisa “membinasakan” orang yang dipuji, karena ia dapat merasa kagum pada dirinya sendiri, sombong, atau lalai dari memperbaiki amal.

Sedangkan Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa pujian di hadapan orangnya sangat berbahaya jika:

Orang tersebut belum kuat imannya
Ia mudah bangga diri
Ia belum benar-benar seperti yang dipuji

Seakan-akan, pujian itu “memotong lehernya” karena bisa menjatuhkannya dalam kebinasaan spiritual.

🌿 Islam Tidak Melarang Pujian Secara Mutlak

Perlu dipahami, Islam tidak mengharamkan semua pujian. Nabi ﷺ sendiri pernah memuji para sahabat, seperti memuji Abu Bakar, Umar, dan sahabat lainnya.
Namun ada adabnya:

Tidak berlebihan
Tidak memastikan kesucian hati seseorang
Tidak membuat orang tersebut terjatuh dalam kesombongan
Disertai dengan kalimat kehati-hatian

Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

“Jika harus memuji, maka katakanlah: Saya kira si fulan demikian, dan Allah lebih mengetahui hakikatnya.”

Ini adalah bentuk tawadhu dan kehati-hatian dalam berbicara.

💔 Bahaya Pujian yang Tidak Terkontrol

Beberapa dampak buruk dari pujian berlebihan:

1️⃣ Menumbuhkan Ujub
Orang yang sering dipuji bisa merasa dirinya hebat dan sempurna.

2️⃣ Menimbulkan Riya
Ia bisa mulai beramal agar terus mendapat pujian manusia.

3️⃣ Membuat Lalai dari Muhasabah
Karena merasa sudah “baik”, ia berhenti memperbaiki diri.

4️⃣ Menzalimi Orang Lain
Pujian berlebihan pada satu orang bisa menyakiti atau merendahkan orang lain.

🕊️ Adab Memuji yang Diajarkan Nabi ﷺ

Berikut cara yang benar jika ingin memuji seseorang:

Gunakan kalimat: “حسبه كذلك والله حسيبه”
(Saya kira dia demikian, dan Allah yang menghisabnya)
Jangan memastikan isi hati seseorang
Jangan mengatakan: “Dia pasti ahli surga”
Hindari pujian di hadapan orang yang mudah bangga diri
Lebih baik mendoakan daripada memuji

BACA JUGA:  3 Penyakit Hati: Cinta Dunia, Kedudukan, dan Pujian

🌙 Pelajaran untuk Kita

Hadits ini mengajarkan bahwa:

Lisan adalah amanah
Hati manusia mudah terbolak-balik
Pujian bisa menjadi ujian
Kesucian seseorang hanya Allah yang tahu

Dalam kehidupan hari ini, terutama di era media sosial, pujian sangat mudah tersebar. Seseorang bisa dielu-elukan, dipuja, bahkan dianggap suci dan sempurna. Padahal Rasulullah ﷺ sudah memperingatkan kita agar tidak berlebihan.
Sikap terbaik seorang mukmin adalah:

Rendah hati ketika dipuji
Takut ketika disanjung
Mengembalikan segala kebaikan kepada Allah

Karena yang mengetahui hakikat hati hanyalah Allah Ta’ala.

Semoga Allah menjaga hati kita dari penyakit ujub dan riya, serta menjadikan kita hamba yang ikhlas dalam setiap amal. Aamiin. []

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Muamalah

Bahaya Berhutang

Muamalah

Harga Bertetangga dengan Orang Shaleh

Muamalah

5 Cara Mengobati Hasad

Muamalah

Harga Bertetangga dengan Orang Shaleh