Saudaraku, terkadang Allah memberikan nikmat-Nya berupa cobaan meskipun berat terasa dan terkadang juga Allah menguji sebagian orang dengan memberikan nikmat-Nya.
Anak dan kemewahan terkadang menjadi penyebab penderitaan.
“Janganlah engkau terperangah dengan banyaknya harta dan keturunan mereka. Sesungguhnya dengan semua itu, Allah hanyalah hendak mengadzab mereka dalam kehidupan dunia,” (QS. At-Taubah: 55).
Saudaraku,
Ibnu Al-Atsir mengarang kitabnya yang terkenal, seperti Jaami’ul Ushuul dan An-Nihaayah karena beliau cacat. Sementara As-Sarakhsy mengarang kitabnya yang terkenal, Al-Mabsuuth, sebanyak 15 jilid karena dirinya mendekam dalam penjara.
Ibnu Al-Qayyim pun menulis kitab Zaadul Ma’aad justru karena dirinya musafir. Al-Qurthubi juga membuat Syarah Shahih Muslim tatkala ia sedang berada di atas kapal. Sebagian besar fatwa Ibnu Taimiyah ditulis saat beliau berada dalam penjara. Para tokoh hadits berhasil mengumpulkan ratusan ribu hadits sebab mereka dalam kondisi miskin dan terasingkan.
Seorang yang shalih memberi tahu kepadaku bahwa dia dapat membawa al-Qur’an seluruhnya saat berada dalam tahanan dan dia pun telah menyelesaikan bacaan sebanyak 40 jilid.
Saudaraku,
Abu ‘Alaa Al-Mu’irri mendiktekan syair-syair dan kitab-kitabnya meskipun ia buta! Demikian juga Thaha Husein menuliskan catatan harian dan karya-karyanya meski buta! []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


