JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Muslimah

Aisyah, Guru dari Semua Guru, Setelah Rasulullah Tiada

Aisyah disebut sebagai gurunya para setelah Nabi tiada. Aisyah mengoreksi orang-orang yang mengajar di Masjid Nabawi dan menjawab orang-orang yang datang kepadanya untuk meminta aturan, nasihat, dan pendapat berdasarkan pengetahuan ahlinya.

Selain itu, di antara banyak pria dan wanita yang lulus di bawah bimbingannya adalah `Abdallah, Qasim, `Urwah, dan `Umrah binti `Abd ar-Rahman al-Ansariyyah.

Penguasaan fikih Aisyah yang menyeluruh memungkinkannya untuk melakukan ijtihad independen dalam masalah fikih. Dia biasa menawarkan keputusan berdasarkan ijtihadnya seperti yang disaksikan oleh al-Qasim selama masa Abu Bakar, Umar bin Khattab dan Ustman bin Affan serta setelah mereka sampai dia meninggal.

BACA JUGA: Aisyah, dan Doanya kepada Allah

Seperti yang ditunjukkan sebelumnya, ijtihad Aisyah diatur secara ketat oleh pengetahuannya yang mendalam tentang Al-Qur’an.

Salah satu dari banyak contohnya adalah ketika seseorang bertanya kepadanya tentang hidup membujang. Dia menjawab:

“Jangan melakukannya; tidakkah kamu mendengar Allah berfirman dalam Al Quran:

‘Dan sungguh, Kami telah mengutus beberapa rasul sebelum engkau (Muhammad) dan Kami berikan kepada mereka istri-istri dan keturunan.’ (Ar-Ra`d: 13: 38) Maka janganlah kamu membujang.”

Kemandirian ijtihadnya berarti bahwa dia terkadang dengan percaya diri memiliki pandangan yang bertentangan dengan pandangan para sahabat dan ulama lainnya. Ketika seseorang bertanya padanya apakah seorang wanita selalu perlu memiliki mahram (kerabat laki-laki) untuk bepergian, Aisyah bertanya secara retoris, “Bisakah setiap orang menemukan mahram?”

Kehidupan Aisyah sangat luar biasa jika dilihat dengan lensa zaman sekarang. Dikelilingi oleh contoh-contoh terkini dari wanita Muslim di seluruh dunia yang tidak diizinkan untuk sepenuhnya mengaktualisasikan potensi yang diberikan Tuhan kepada mereka, kehidupan Aisyah di abad ke-6 dan ke-7 adalah mercusuar bagi keadilan yang melekat dalam Islam.

BACA JUGA:  Cinta Romantis Antara Nabi Muhammad dan Aisyah

Dia dibesarkan dengan Islam otentik sejak ingatannya yang paling awal. Dia tumbuh menjadi seorang wanita yang percaya diri, tegas dan peserta aktif dan pemimpin masyarakatnya.

Sederhananya, Aisyah menjalani kehidupan yang luar biasa dalam pengabdiannya di jalan Allah dan Rasul-Nya. Kita bisa mengakhiri dengan nasihatnya sendiri:

“Barang siapa yang ingin menyenangkan manusia dengan membuat Allah murka, maka Allah akan menyerahkannya kepada manusia dan barang siapa yang mencari ridha Allah, maka Allah akan mencukupinya.” []

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Muslimah

Adab Muslimah dalam Senyum dan Tawa Menurut Islam

Muslimah

Wanita, Kenapa Akalnya Lemah?

Muslimah

Hukum Menanggalkan Ikat Rambut ketika Mandi setelah Haid

Muslimah

Mandi Junub bagi Wanita

Leave a Reply