Hari-hari berlalu melipat segala kerinduan orang-orang yang yang percaya atau merasa bahwa mereka di atas janji besar bersama hal gaib. Abu Bakar menanti dengan sabar hingga Allah mendatangkan putusan-Nya.
Abu Bakar kembali pada rutinitas dan perdagangan seperti biasa. Ketika tiba waktunya untuk menempuh perjalanan baru menuju Syam, ia memacu kendaraan bersama kafilah pedagang yang ikut bersamanya, mengarah menuju negeri nun jauh demi mencari rezeki dan keuntungan halal.
Di Syam, Abu Bakar menemukan iklim ruhani yang tidak jauh berbeda dengan iklim ruhani kaumnya. Ada banyak sekali agama. Orang-orang bingung tak tahu arah. Sekelompok kecil orang yang beriman membolak-balikkan wajah ke langit dengan harapan pasti, menatapkan pandangan ke berbagai penjuru bumi seakan ingin melihat dari kawasan mana kiranya sosok pemberi peringatan yang dinantikan itu akan datang.
BACA JUGA: Abu Bakar Ash-Shiddiq: Cahaya Pertama dari Timur Islam
Di Syam, Abu Bakar mengalami kondisi seperti di Mekah. Belum juga menuntaskan pekerjaan bersama rekan-rekan pedagang seprofesi, Abu Bakar bergegas menghampiri sejumlah pendeta dan rahib. Ia mengenali mereka di tengah perjalanan yang ia lalui, sikap jemu mereka terhadap kebatilan dan keraguan yang dianut banyak orang. Abu Bakar merasa senang berteman dengan para pendeta dan rahib, menerima pencarian kebenaran yang mereka lakukan, juga penantian kabar gembira dari Allah yang akan tiba.
Dari para pendeta dan rahib di Syam inilah Abu Bakar mendengar tutur kata lembut yang memprediksikan kedatangan Rasulullah seperti yang ia dengar di Mekah melalui penuturan Waraqah bin Naufal dan teman-temannya. Kali ini, Abu Bakar sering menemui orang-orang saleh dari kalangan pendeta Syam, dengan intensitas lebih daripada yang sebelum-sebelumnya.
Hati Abu Bakar saat itu tentu saja lebih mendidih daripada sebelum-sebelumnya karena perasaan rindu yang kian tumbuh mendekati fajar yang tak lama lagi akan terbit. Abu Bakar menantikan kedatangan rasul berikutnya di tengah rasa cinta nan menguasai diri, bukan karena dia semata yang akan mendapat petunjuk menuju kebenaran melalui rasul tersebut, tapi karena seluruh umat manusia akan mendapat petunjuk dan sadar dari kelalaian.
Abu Bakar yang begitu taat, pecinta yang begitu mengasihi, menginginkan kehidupan yang baik untuk siapa pun.
BACA JUGA: Lima Cahaya Keutamaan Abu Bakar
Hatinya yang cerdas berisi keinginan meluap untuk memberikan kebaikan kepada umat manusia, kebaikan yang mereka perlukan, bukan kekayaan yang ia miliki. Ketika memiliki harta dan wibawa, keduanya ia infakkan tanpa perhitungan. Meskipun manusia tidak hanya memerlukan harta saja, juga tidak memerlukan wibawa semata. Sebelum semua itu, mereka lebih memerlukan pentunjuk dan cahaya.
Tetapi apa daya, ia tidak memiliki petunjuk ataupun keyakinan yang bisa ia berikan kepada umat manusia, kendatipun ia memiliki akhlak mulia. Dan dalam hal akhlak, ia memang contoh dan teladan luhur. Hanya saja ia dan juga yang lain, belum memiliki petunjuk agung. Mengenali hakikat, mengenali rahasia terbesar yang meliputi kehidupan, dan yang menggerakkan alam raya. Intinya satu kata; Allah.
Lantas manakah jalan menuju Allah? []
Sumber: Khulafaur Rasül – Biografi Khalifah Rasulullah Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Umar bin Abdul Aziz / Karya: Khalid Muhammad Khalid / Penerbit: Ummul Qura / Cetakan: VI. Agustus 2021 M/Dzulhijjah 1442 Η
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


