JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Sirah

Abu Jahal ketika Ditanya tentang Pribadi Rasulullah ﷺ

Nabi Muhammad ﷺ terkenal dengan keluhuran budi dan akhlaknya yang agung. Sehingga kawan maupun lawan mengakui kebaikan Nabi Muhammad ﷺ. Dalam sebuah kisah diceritakan Al-Masur bin Mukhramah, keponakan Abu Jahal, anak dari saudari perempuannya, bertanya kepada Abu Jahal tentang pribadi Rasulullah ﷺ.

“Wahai pamanku, apakah kalian menuduh Muhammad itu berdusta sebelum ia mengatakan apa yang dia katakan sekarang ini -yakni risalah kenabian-?”

BACA JUGA: Kematian Abu Jahal

“Wahai anak saudariku, demi Allah! Sungguh sewaktu Muhammad masih seorang pemuda, ia digelari al-amin (yang terpercaya) di tengah-tengah kami. Kami sama sekali tak pernah mencoba menyebutnya berdusta.”, kata Abu Jahal.

Keponakannya kembali bertanya, “Wahai paman, mengapa kalian tidak mengikutinya?”

Abu Jahal menjawab, “Keponakanku, kami dan bani Hasyim selalu bersaing dalam masalah kemuliaan. Jika mereka memberi makanan, kami juga memberi makanan. Jika mereka menjamu dengan minuman, kami juga demikian. Jika mereka memberi perlindungan, kami juga melakukannya. Sampai-sampai kami sama-sama duduk di atas hewan tunggangan untuk berperang, kami (dan bani Hasyim) sama dalam kemuliaan. Kemudian mereka mengatakan, “’Di kalangan kami ada seorang Nabi (Muhammad ﷺ)’. Kapan kabilahku bisa menyamai kemuliaan ini?”

Inilah alasan Abu Jahal menolak beriman. Bukan karena Muhammad bin Abdullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu berdusta. Tapi yang menghalanginya adalah kesombongan. Jika dia beriman, berarti kabilahnya kalah dalam kemuliaan. Kabilahnya kalah gengsi dengan bani Hasyim. Dan di zaman sekarang, alasan ini pula yang menjadi latar belakang seseorang menolak kebenaran.

Di hari Perang Badar, al-Akhnas bin Syuraiq bertanya kepada Abu Jahal, “Abul Hakam (sebutan Abu Jahal di tengah kafir Quraisy), beritahu aku tentang Muhammad. Apakah ia orang yang jujur atau pendusta? Karena di sini tak ada seorang Quraisy pun selain aku dan engkau yang mendengar pembicaraan kita.”

BACA JUGA:  Abu Jahal

Abu Jahal menjawab, “Celaka engkau! Demi Allah, sungguh Muhammad itu seorang yang jujur. Dia sama sekali tak pernah berbohong. Tapi, kalau anak-anak Qushay dengan al-liwa’ (mengatur urusan perang), hijabah (memegang kunci Ka’bah dan pengaturannya), siqayah (memberi jamaah haji minum), dan juga nubuwwah (kenabian), Quraisy yang lain kebagian apa?” (Ibnul Qayyim, Hidayatul Hayara, Hal: 50-51).

Kisah ini dinukil dari kitab Wa Syahida Syahidun min Ahliha oleh Raghib as-Sirjani. []

SUMBER: KISAH MUSLIM

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: wa.me/6285860492560 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam20
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Sirah

Kisah Hidup Ibnu Umar

Sirah

Kisah Meninggalnya Abu Thalib

Sirah

Zuhudnya Umar bin Khattab

Sirah

Dialog Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar Sebelum Fathu Makkah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *