Dalam Islam, setiap aktivitas seorang hamba tidak hanya sebatas rutinitas, melainkan bagian dari ibadah yang berpahala bila dilakukan dengan adab dan aturan yang diajarkan Rasulullah ﷺ. Termasuk dalam hal yang sering kita anggap sederhana, yakni makan dan minum. Rasulullah ﷺ telah mencontohkan kepada kita adab yang penuh hikmah dalam menikmati rezeki Allah. Salah satu yang sangat ditekankan adalah makan dengan tangan kanan.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian makan, makanlah dengan tangan kanan dan minumlah dengan tangan kanan karena sesungguhnya setan makan dan minum dengan tangan kirinya.” (HR. Muslim).
Hadis ini bukan sekadar anjuran, melainkan peringatan agar kita tidak meniru kebiasaan setan. Dalam setiap sendok nasi yang kita angkat, terkandung pilihan: apakah kita mengikuti sunnah Nabi ﷺ ataukah kita meremehkannya dengan meniru kebiasaan makhluk yang dilaknat. Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, “Disunnahkan makan dan minum dengan tangan kanan, dan makruh dengan tangan kiri, karena itu menyerupai perbuatan setan.”
BACA JUGA: Rahasia di Balik Larangan Meniup Air dan Makanan Panas dalam Islam
Selain menggunakan tangan kanan, ada pula adab lain yang tak boleh ditinggalkan, yaitu membaca basmalah sebelum makan. Rasulullah ﷺ bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian makan, hendaklah ia membaca ‘Bismillah’. Jika ia lupa membacanya sebelum makan, ucapkanlah ‘Bismillaahi fii awwalihi wa aakhirihi’.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi).
Menyebut nama Allah sebelum makan adalah benteng yang menjaga makanan kita dari campur tangan setan. Makanan yang tak disebut nama Allah di awalnya bisa menjadi peluang bagi setan untuk ikut menikmatinya. Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Barang siapa yang lupa menyebut nama Allah ketika makan, maka setan pun ikut serta dalam makanannya.”
Bayangkan, kita duduk di meja makan, mengunyah makanan dengan lahap, tetapi tanpa kita sadari ada setan yang ikut menempel pada rezeki itu karena kita lalai dari basmalah. Maka, betapa pentingnya melatih diri untuk selalu mengingat Allah bahkan dalam hal-hal kecil seperti menyuapkan makanan ke mulut.
Adab makan dalam Islam sejatinya bukan hanya persoalan tangan kanan atau ucapan basmalah. Ia adalah bentuk tarbiyah, pendidikan jiwa. Dengan memulainya dengan nama Allah, kita belajar syukur. Dengan tangan kanan, kita belajar adab. Dengan tidak berlebihan, kita belajar qana’ah. Umar bin Abdul Aziz rahimahullah pernah berkata, “Janganlah engkau jadikan perutmu sebagai wadah bagi segala sesuatu, karena sesungguhnya makanan yang sedikit disertai adab lebih baik daripada makanan yang banyak namun penuh kelalaian.”
BACA JUGA: Menghidangkan Makanan
Di balik sunnah ini ada keberkahan. Makanan yang dimulai dengan basmalah, disantap dengan tangan kanan, dan diakhiri dengan hamdalah, insya Allah akan menjadi kekuatan yang menghidupkan hati, bukan sekadar mengenyangkan perut. Ibnul Qayyim rahimahullah menulis, “Makanan yang diberkahi adalah makanan yang dimakan dengan menyebut nama Allah, dimakan dari hasil yang halal, dan tidak berlebihan dalam mengonsumsinya.”
Maka, marilah kita biasakan sunnah ini dalam kehidupan sehari-hari. Ingatlah bahwa adab kecil yang dijaga dengan ikhlas dapat membawa pahala besar di sisi Allah. Sebagaimana kata sebagian salaf, “Sesungguhnya aku berharap pahala dari tidurku sebagaimana aku berharap pahala dari shalat malamku.” Begitu pula dengan makan. Ia bisa menjadi ibadah bernilai tinggi jika kita sertai adab dan niat yang benar.
Semoga setiap suapan yang kita lakukan menjadi bagian dari dzikir kepada Allah, dan semoga sunnah-sunnah kecil yang kita jalani kelak menjadi berat timbangan kebaikan di hari akhir. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


