JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Kajian

Arti dan Tujuan Kalimat لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

Maka tauhid adalah kufur terhadap thaghut dan beriman kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Inilah arti dari kalimat tauhid لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ. Jadi kalimat ini bukan sekedar kalimat yang tidak ada makna atau lafadz yang tidak ada artinya. Akan tetapi dia mengandung makna yang sangat agung dan tujuan yang sangat mulia. Yaitu tauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka seorang hamba tidak dikatakan bertauhid kecuali dia telah melaksanakan arti dari kalimat لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ yaitu dengan meniadakan persembahan ke semua yang disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menetapkan ibadah hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Oleh karena itu orang yang mengucapkan لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ dengan benar dan jujur, dia tidak akan berdo’a kecuali kepada Allah, dia tidak akan meminta tolong kecuali kepada Allah, dia tidak akan bertawakal kecuali kepada Allah, dia tidak akan meminta pertolongan kecuali dari Allah, dia tidak akan menyembelih kecuali untuk Allah, dia tidak akan bernadzar kecuali untuk Allah, dia tidak akan memalingkan satu bentuk ibadah pun kecuali hanya kepada Allah. Allah berfirman:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّـهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿١٦٢﴾ لَا شَرِيكَ لَهُ ۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ ﴿١٦٣﴾

“Katakanlah sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku milik Allah Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagiNya dan dengannya aku diperintahkan dan aku adalah orang yang pertama berserah diri.” (QS. Al-An’am[6]: 163)

BACA JUGA:  Kalimat Tauhid ‘Laa Ilaaha Illallaah’; Adalah Kunci Surga

Maka dari sini kita ketahui bahwasannya sekedar mengucapkan kalimat لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ, ini tidak cukup. Akan tetapi harus mengetahui artinya, memahami tujuannya, juga harus melaksanakan maksud dari kalimat ini diucapkan. Yaitu mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ibadah dan mengikhlaskan seluruh ibadah dan agama hanya kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala.

Adapun jika seseorang mengucapkan لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ kemudian ia membatalkannya dengan ucapannya atau perbuatannya yaitu dengan berdo’a kepada selain Allah dengan mengatakan, “Berikan aku bantuan wahai Fulan, tolong aku wahai Fulan, kepada orang yang telah mati, aku berlindung diri kepadamu wahai Fulan, aku kembali kepadamu wahai Fulan,” atau dia menyembelih atau bernadzar kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka ini semua membatalkan kalimat لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ dan bertentangan dengannya. Karena kalimat لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ hanya bermanfaat bagi orang yang mengucapkannya dengan memahami maknanya, melaksanakan tujuannya dan juga melaksanakan maksud-maksud dari diucapkan kalimat tersebut. Yaitu dengan mentauhidkan Allah ‘Azza wa Jalla dan mengikhlaskan agama hanya kepada Allah.

Dahulu kaum Musyrikin yang diutus kepada mereka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, mereka memahami makna لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ. Akan tetapi mereka menyombongkan diri dari menerima kalimat ini. Allah berfirman:

إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَـٰهَ إِلَّا اللَّـهُ يَسْتَكْبِرُونَ ﴿٣٥﴾ وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُو آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَّجْنُونٍ ﴿٣٦﴾

“Sesungguhnya dahulu jika dikatakan kepada mereka لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ (tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah), mereka menyombongkan diri. Dan mereka mengatakan, ‘Apakah kami meninggalkan sesembahan-sesembahan kami untuk seorang penyair yang gila?’” (QS. Ash-Shaffat[37]: 35-36)

Yaitu mereka memahami bahwasanya dengan mengucapkan لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ, berarti mereka harus meninggalkan sembahan-sembahan dan bahwasanya beribadah kepada selain Allah adalah batil. Oleh karena itu mereka mengatakan:

أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَـٰهًا وَاحِدًا

“Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja?” (QS. Shad[38]: 5)

Mereka merasa aneh, kemudian mereka saling berwasiat diantara mereka agar bersabar, tetap beribadah kepada sembahan-sembahan mereka. Diantara mereka juga saling bangga dengan kesabaran tersebut. Mereka mengatakan:

إِن كَادَ لَيُضِلُّنَا عَنْ آلِهَتِنَا لَوْلَا أَن صَبَرْنَا عَلَيْهَا

“Ia hampir saja menyesatkan kami dari Tuhan-Tuhan kami kalau kami tidak sabar diatas sembahan-sembahan tersebut.” (QS. Al-Furqan[25]: 42)

Yaitu jika mereka tidak bersabar untuk terus menyembah sembahan-sembahan lain selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, mereka hampir dipalingkan dari sembahan-sembahan tersebut.

Mereka sebenarnya mengetahui makna dari kalimat لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ dan bahwasanya ketika seseorang mengucapkan لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ berarti ia harus mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala dan mengingkari semua yang disembah selain Allah. Dan bahwasanya semua yang disembah selain Allah Tabaraka wa Ta’ala, ibadah tersebut adalah batil dan wajib untuk diingkari.

فَمَن يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللَّـهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ

“Maka barangsiapa kufur terhadap thaghut dan beriman hanya kepada Allah berarti dia telah berpegangan teguh dengan tali yang kuat.” (QS. Al-Baqarah[2]: 256)

Yaitu dia telah berpegangan teguh dengan لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ. Ini berbeda dengan orang-orang musyrik di akhir zaman ini. Mereka tidak menyombongkan diri untuk mengucapkan لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ. Bahkan mereka mengulang-ulang berkali-kali kalimat tersebut akan tetapi mereka membatalkan ucapan tersebut dengan perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan mereka dengan cara berdo’a kepada orang-orang yang telah meninggal, beristighatsah kepada mereka, kembali yang meminta tolong kepada mereka yang telah meninggal untuk mengangkat musibah mereka, menunaikan hajat-hajat mereka, bahkan dengan menyembelih hewan-hewan untuk mereka, bernazar kepada mereka, maka sungguh tidak bermanfaat kalimat yang mereka ucapkan.

Kesimpulan bahwasanya لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ hanya bermanfaat bagi orang yang mengucapkannya dia jika dia melaksanakan tujuan dari kalimat tersebut. Sebagaimana yang dikatakan oleh penulis kitab ini Rahimahullah:

نافِيًا جميعَ ما يُعبَدُ من دون الله، إلّا اللهُ؛ مُثبِتًا العبادةَ لله وحدَه لا شريك له

“Meniadakan segala yang disembah kecuali hanya kepada Allah dengan menetapkan ibadah hanya kepadaNya dan tidak ada sekutu baginya”

Yaitu dengan cara dia tidak berdo’a kecuali kepada Allah, tidak beristighatsah kecuali kepada Allah, tidak bertawakal kecuali kepada Allah, tidak menyembelih kecuali untuk Allah, tidak bernadzar kecuali untuk Allah dan tidak memalingkan satu ibadah pun kecuali hanya kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala.

Berkata penulis kitab ini Syaikh bin Baz Rahimahullah, adapun syarat-syarat لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ adalah ilmu yang bertentangan dengan kebodohan, keyakinan yang bertentangan dengan keraguan, keikhlasan yang bertentangan dengan kesyirikan, kejujuran yang bertentangan dengan kebohongan, kecintaan yang bertentangan dengan kebencian, ketundukan yang bertentangan dengan ketidak tundukan, penerimaan yang bertentangan dengan penolakan, juga kufur terhadap semua yang disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Syarat-syarat ini tergabung dalam dua bait berikut ini:

علم يقين وإخلاص وصدقك مع
محبة وانقياد والقبول لها

وزيد ثامنها الكفران منك بما
سوى الإله من الأشياء قد أُلِها

Ilmu, keyakinan, keikhlasan, kejujuran disertai kecintaan, ke tundukkan, penerimaan, kepadaNya
Dan ditambahkan perkara yang kedelapan yaitu keingkaranmu terhadap semua yang disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala

Penjelasan dari perkataan beliau Rahimahullah dan syarat-syarat لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ adalah apa yang telah beliau sebutkan. Yaitu ada delapan syarat. Maka jika ada yang bertanya, dari mana engkau mendatangkan syarat-syarat ini, maka jawabannya adalah dengan dari sumber yang darinya diambil yang didapatkan syarat-syarat shalat, syarat-syarat haji, juga ibadah-ibadah yang lain.

Maka sebagaimana shalat mempunyai syarat-syarat yang tidak akan diterima kecuali dengan syarat-syarat tersebut, haji mempunyai syarat-syarat yang tidak akan diterima ibadah haji seseorang kecuali dengan memenuhi syarat-syarat tersebut, zakat juga mempunyai syarat-syarat yang tidak akan diterima kecuali dengan memenuhi syarat-syarat tersebut, juga selainnya dari ketaatan-ketaatan yang tidak diterima kecuali dengan syarat-syaratnya.

Begitu juga kalimat لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ tidak akan diterima dari orang yang mengucapkannya kecuali dengan syarat-syaratnya. Dan syarat-syarat ini diketahui dari penelitian Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Dikatakan kepada Wahab bin Munabbih Rahimahullah:

أَلَيْسَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ مِفْتَاحُ الْجَنَّةِ

“Bukankah لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ adalah kunci surga?”

Ia menjawab, “Tentu. akan tetapi tidak ada kunci kecuali mempunyai gigi-gigi. Dan jika engkau membawa kunci yang mempunyai gigi, maka akan dibukakan kepadamu. Jika tidak, maka tidak akan dibukakan untukmu.”

BACA JUGA: Keutamaan Membaca Kalimat Tasbih 100 Kali Setiap Pagi dan Petang

Ia memberi isyarat dalam perkataan beliau terhadap syarat-syarat Laa Ilaha Illallah yang ada dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Maka apabila ada seorang yang mengatakan sesungguhnya sekedar mengucapkan Laa Ilaha Illallah itu sudah cukup. Kita mengatakan kepadanya, artinya kalau demikian maka perkataan orang munafik yang mengatakan kepada Nabi Muhammad, “Sesungguhnya engkau dan Rasul Allah.” Berarti perkataan ini bermanfaat, cukup bagi mereka.

Juga perkataan mereka jika bertemu orang-orang beriman mereka mengatakan “kami beriman”, ini juga bermanfaat bagi mereka? Tentu ini tidak benar. karena kalimat Laa Ilaha Illallah tidak akan diterima dari orang yang mengucapkannya jika sekedar diucapkan dengan lisan saja. Akan tetapi ia harus melaksanakan syarat-syarat kalimat ini yang mana syarat-syarat tersebut diambil dari kitab dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Bahkan dalam riwayat, bahwasannya Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullah (seorang Tabi’in), dikatakan kepadanya, “Sesungguhnya ada orang-orang yang mengatakan Laa Ilaha Illallah, maka dia pasti masuk surga.” Maka ia pun mengatakan, “Barangsiapa yang mengucapkan Laa Ilaha Illallah dan memberikan hak-haknya dan kewajiban-kewajibannya maka ia akan masuk surga. []

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Kajian

Pangkal Segala Keburukan dan Penawarnya

Kajian

Akikah: Tanggung Jawab Ayah dan Anjuran Bagi Anak yang Belum Diaqiqahi

Kajian

Talbis Iblis atas Ahli Ibadah yang Melakukan Amar Makruf Nahi Munkar

Kajian

Talbis Iblis atas Ahli Ibadah dalam Perkara Haji

Leave a Reply