Bagaimana mungkin seorang wanita salehah hidup di bawah kekuasaan manusia paling zalim?
Banyak orang berpikir.
Jika lingkungan baik.
Maka iman akan mudah dijaga.
Jika keluarga baik.
Maka ketaatan akan tumbuh dengan sendirinya.
Namun sejarah membuktikan.
Tidak selalu demikian.
Ada seorang wanita.
Hidup di istana paling megah.
Memiliki kekuasaan.
Memiliki kemewahan.
Memiliki pelayan.
Namun ia tinggal bersama manusia yang paling sombong.
Manusia yang mengaku sebagai tuhan.
Dialah Fir’aun.
Lalu siapakah wanita itu?
Dialah Asiyah.
Istri Fir’aun.
BACA JUGA: Firaun dan Keimanan Asiyah
Seorang wanita yang Allah abadikan namanya sebagai teladan bagi orang-orang yang beriman.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِّلَّذِينَ آمَنُوا امْرَأَتَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِندَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِن فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
“Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, yaitu istri Fir’aun, ketika ia berdoa, ‘Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga, selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, serta selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.'” (QS. At-Tahrim: 11).
Perhatikan doanya.
Ia tidak meminta istana di dunia.
Padahal ia sudah memilikinya.
Ia meminta rumah di surga.
Ia tidak meminta kekuasaan.
Ia meminta kedekatan dengan Allah.
Bahkan sebelum meminta rumah.
Ia lebih dahulu berkata,
“Di sisi-Mu.”
Karena kenikmatan terbesar.
Bukan sekadar surga.
Tetapi dekat dengan Allah.
Saudaraku, Asiyah mengajarkan satu pelajaran besar.
Lingkungan yang buruk.
Bukan alasan untuk meninggalkan ketaatan.
Suami yang zalim.
Bukan alasan untuk meninggalkan iman.
Tekanan manusia.
Tidak boleh mengalahkan rasa takut kepada Allah.
Fir’aun memiliki kuasa atas tubuhnya.
Namun tidak pernah memiliki kuasa atas hatinya.
Imannya tetap teguh.
Tauhidnya tetap kokoh.
Hingga Allah memuliakannya sebagai penghuni surga.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah pernah menjelaskan bahwa kemuliaan seorang hamba tidak ditentukan oleh tempat ia berada, melainkan oleh kedekatannya kepada Allah.
Betapa banyak orang hidup di lingkungan yang baik.
Namun tetap lalai.
Sebaliknya.
Betapa banyak orang hidup di tengah ujian.
Namun justru semakin dekat kepada Rabbnya.
Jangan pernah berkata,
“Aku sulit taat karena lingkunganku.”
Jangan pula berkata,
“Aku belum bisa berubah karena keluargaku.”
Selama hati masih hidup.
Pintu hidayah selalu terbuka.
BACA JUGA: Perempuan-perempuan Mulia
Asiyah telah membuktikannya.
Ia kehilangan istana.
Namun memperoleh surga.
Ia meninggalkan kemewahan.
Namun mendapatkan keridaan Allah.
Ia disakiti di dunia.
Tetapi dimuliakan selama-lamanya di akhirat.
Maka jika hari ini engkau sedang berjuang mempertahankan iman di tengah lingkungan yang sulit, jangan menyerah.
Tetaplah berpegang pada tauhid.
Tetaplah bersabar dalam ketaatan.
Karena kemuliaan seorang mukmin tidak diukur dari mudah atau sulitnya hidup.
Melainkan dari keteguhannya dalam mencintai Allah hingga akhir hayat. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


