Saya merenungkan tujuan penciptaan alam ini. Sungguh alam semesta ini sarat de-ngan kerendahdirian dan pengakuan akan kekurangan dan kelemahan makhluk di hadapan Khaliq-Nya.
Sikap orang seperti itu dapatlah dimaklumi jika hendak menjaga diri. Namun, jika ia bisa seperti “dokter” yang bisa mengatasi sendiri segala masalahnya, mengapa mesti mengasingkan diri?
Sikap orang seperti itu dapatlah dimaklumi jika hendak menjaga din Namun, jika ia bisa seperti “dokter” yang bisa mengatasi sendiri segala masalahnya mengapa mesti mengasingkan diri?
BACA JUGA: Hati adalah Perisai
Ada dua golongan ulama dan ahli zuhud yang beramal. Di dalam barisan ulama ada Imam Malik, Sufyan ats-Tsauri, Abu Hanifah, Syafi’i, dan Ahmad. Saya mengisi barisan ahli ibadah dengan nama-nama Malik bin Dinar, Rabiah al-Adawiyah, Ma’ruf al-Karkhi, dan Bisyr al-Hafi.
Ketika para ahli ibadah tenggelam dalam ritualnya, maka lingkungan akan mengecam bahwa ibadah itu hanya ber-guna bagi diri mereka semata. Sebaliknya, amal yang dilakukan para ulama jauh le-bih berguna. Merekalah pewaris para ra-sul sekaligus khalifah Allah di muka bumi, Merekalah yang bisa dijadikan sandaran. Merekalah yang sesungguhnya memiliki banyak keutamaan.
Para ulama beranggapan, tujuan ilmu ialah untuk diamalkan. Mereka tahu bahwa ilmu adalah alat. Oleh karena itu, mereka selalu belajar dan mengakui segala kekurang-an dan kealpaan.
Suatu ketika, Malik bin Dinar datang kepada al-Hasan al-Bashry untuk belajar tentang suatu ilmu. Dia berkata, “Al-Ha-san adalah guruku.”
BACA JUGA: Yang Dilarang Biasanya Menarik
Di saat ulama melihat bahwa ilmu telah memberi mereka keutamaan, lingkungan akan berteriak, “Tidakkah ilmu dikaruniakan untuk diamalkan?” Imam Ahmad bin Hanbal berkata, “Bukankah ilmu itu seperti apa yang telah dicapai Ma’ruf al-Karkhi? (Ma’ruf adalah seorang wali yang sangat masyhur). Allah berfirman, Apakah sama orang-orang yang ber-ilmu dengan orang-orang yang tidak berilmu? (az-Zumar [39]: 9).
Suatu saat, Sufyan ats-Tsauri datang menemui Rabiah al-Adawiyah untuk ber-guru kepadanya. Para ulama beranggap-an, tujuan ilmu ialah untuk diamalkan. Mereka tahu bahwa ilmu adalah alat. Oleh karena itu, mereka selalu belajar dan mengakui segala kekurangan dan kealpa-an. Mereka sampai pada pengakuan, bahwa diri mereka amatlah rendah dan hina di hadapan Sang Khaliq. Pada akhirnya, mereka mendapat hakikat sebagai buah pengakuan mereka. Itulah yang dimaksud dengan taklif. []
Sumber: Shaidul Khatir, Cara Manusia Cerdas Menang dalam Hidup, karya Imam Ibnu Al Jauzi, Penerbit Maghfirah Pustaka, Cetakan Juni 2022
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


