JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Ibrah

Harta di Tangan Orang-orang Shaleh

Harta adalah salah satu amanah terbesar yang Allah titipkan kepada manusia. Kehadirannya bisa menjadi nikmat yang menenangkan, tetapi juga dapat berubah menjadi ujian yang menjerumuskan. Bagi seorang Muslim, harta bukanlah tujuan hidup, melainkan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Oleh karena itu, cara seorang hamba memperlakukan harta akan menentukan kemuliaannya di sisi Allah.

Allah ﷻ berfirman: “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal kebajikan yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS. Al-Kahfi: 46)

Ayat ini menegaskan bahwa harta hanyalah perhiasan sementara. Ia tidak abadi, tidak pula menjamin keselamatan akhirat. Yang kekal hanyalah amal saleh yang lahir dari penggunaan harta di jalan yang diridhai Allah.

BACA JUGA: Harta di Tangan Nabi ﷺ

Harta Sebagai Ujian

Harta bisa menjadi ladang kebaikan, tetapi juga bisa menjerumuskan. Imam Ahmad rahimahullah berkata: “Harta itu di tangan seorang yang bertakwa tidak membahayakan dirinya. Tetapi jika harta masuk ke dalam hatinya, maka itulah yang akan merusaknya.” Ucapan ini mengingatkan bahwa persoalan bukan pada banyak atau sedikitnya harta, melainkan pada tempatnya: apakah ia berada di tangan atau di hati.

Jika harta berada di tangan, seorang Muslim akan mudah menginfakkannya di jalan Allah, membantu sesama, dan menjadikannya sarana ibadah. Namun jika harta sudah bersemayam di hati, maka ia akan menimbulkan keserakahan, kebakhilan, bahkan melupakan akhirat.

Sikap Salaf terhadap Harta

Para ulama salaf mencontohkan sikap yang indah terhadap harta. Mereka bukanlah orang-orang yang alergi terhadap harta, tetapi mereka menempatkannya pada posisi yang benar. Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Zuhud bukan berarti engkau tidak memiliki sesuatu. Zuhud adalah ketika sesuatu itu tidak menguasaimu.”

Dengan kata lain, seorang Muslim boleh kaya, bahkan dianjurkan jika kekayaannya digunakan untuk menegakkan agama Allah. Namun ia tidak boleh terikat dan diperbudak oleh harta. Rasulullah ﷺ sendiri mendoakan keberkahan bagi sahabat-sahabat yang kaya seperti Abdurrahman bin Auf dan Utsman bin Affan, karena harta mereka menjadi penopang dakwah Islam.

Menggunakan Harta untuk Akhirat

Harta yang berkah adalah harta yang dipergunakan untuk kebaikan. Nabi ﷺ bersabda: “Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam di hari kiamat hingga ia ditanya tentang lima perkara, di antaranya tentang hartanya: dari mana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan.” (HR. Tirmidzi)

BACA JUGA: Bagaimana Harta Itu Mengikuti Mayit?

Inilah yang sering dilupakan banyak orang. Kita sibuk mengumpulkan harta, tetapi lupa mempertanyakan dari mana asalnya dan ke mana ia dihabiskan.

Imam Hasan al-Bashri rahimahullah pernah mengingatkan: “Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari. Setiap kali satu hari berlalu, maka hilanglah sebagian darimu.” Maka sungguh merugi jika umur yang singkat ini habis hanya untuk mengejar harta tanpa menjadikannya bekal akhirat.

Penutup

Harta di tangan seorang Muslim adalah amanah, ujian, dan sarana ibadah. Jika dikelola dengan iman, ia menjadi jembatan menuju surga. Tetapi jika dikuasai nafsu, ia akan menjerumuskan ke jurang kehinaan.

Oleh sebab itu, marilah kita belajar dari para salafus shalih dalam memandang harta: menjadikannya sebagai alat, bukan tujuan; meletakkannya di tangan, bukan di hati. []

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Ibrah

Hasan Al-Bashri Mengatakan: Luar biasa Bakr bin Abdillah!

Ibrah

Imam Hasan Al-Bashri tentang Sedekah dan Pasar

Ibrah

Abu Hanifah dan Tetangganya, Si Pemilik Gambus

Ibrah