Lisan itu kecil.
Namun lukanya bisa panjang.
Di antara penyakit lidah,
yang sering diremehkan,
adalah mengungkit pemberian.
Kalimatnya terdengar biasa.
Namun racunnya perlahan.
“Dulu aku yang menolongmu.”
“Aku yang memenuhi kebutuhanmu.”
“Tanpa aku, kau tak akan begini.”
Ucapan seperti ini
bukan sekadar kata.
Ia menyayat kehormatan.
Dan meruntuhkan pahala.
BACA JUGA: Ketentuan Pemberian Nafkah
Allah sudah mengingatkan.
“Wahai orang-orang yang beriman,
janganlah kalian batalkan sedekah kalian
dengan mengungkit-ungkit pemberian
dan menyakiti (perasaan yang diberi).”
(QS. Al-Baqarah: 264)
Sedekah bukan hanya soal memberi.
Tapi juga menjaga hati orang yang diberi.
Jika pahala itu hancur,
bukan karena kurang besar nominalnya,
melainkan karena buruknya adabnya.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
“Amal tanpa adab,
seperti jasad tanpa ruh.”
Mengungkit pemberian
adalah tanda hati belum ikhlas.
Masih ingin dikenang.
Masih ingin dibalas.
Padahal balasan sejati
bukan dari manusia.
Tapi dari Allah.
Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata,
“Meninggalkan amal karena manusia adalah riya,
dan beramal karena manusia adalah syirik.
Ikhlas adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya.”
Ayat ini diawali dengan panggilan iman.
“Wahai orang-orang yang beriman.”
BACA JUGA: Ancaman bagi Istri yang Tidak Bersyukur terhadap Pemberian Suaminya
Seolah Allah berkata,
jika iman itu hidup,
lidah akan dijaga.
Hati akan dibersihkan.
Memberi lalu diam.
Menolong lalu lupa.
Berbuat baik lalu pergi.
Itulah sedekah yang selamat.
Tidak melukai.
Tidak menghapus pahala.
Karena orang beriman tahu,
apa yang ia beri kepada manusia,
sejatinya sedang ia simpan
di sisi Allah.
Allahu a‘lam. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


