Kita mungkin belum pernah merasakan menjadi orang tua. Namun, kita semua pasti pernah menjadi seorang anak. Dan menjadi anak berarti memikul sebuah amanah besar: taat, hormat, dan berbakti kepada kedua orang tua. Sebab, seluruh napas yang kita hirup hari ini adalah buah dari kasih sayang, pengorbanan, dan doa mereka yang tak pernah putus.
Seorang ibu memikul beban yang tidak mampu ditanggung gunung-gunung. Allah Ta‘ala mengingatkan:
“Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman: 14)
BACA JUGA: Cara Beristighfar untuk Orangtua yang Sudah Meninggal
Namun sayang, di zaman ini, banyak anak yang lebih cepat membantah daripada menundukkan kepala. Lidah mereka kerap mendahului hati; suara tinggi melampaui lembutnya doa. Padahal, sekedar kata “ah” saja sudah terlarang, apalagi bantahan yang menyakitkan.
Allah berfirman dengan kelembutan yang penuh wibawa:
“Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ah, dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: ‘Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.’” (QS. Al-Isra: 23-24)
Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah pernah berkata: “Berbakti kepada orang tua bukan sekadar memberi makanan atau minuman. Tapi, bagaimana engkau menatap mereka dengan penuh kasih, bagaimana engkau berbicara lembut, dan tidak mendahului langkah mereka dalam segala urusan.”
Bukankah benar, pengakuan terhadap kasih orang tua Allah abadikan dalam Al-Qur’an sebanyak sebelas kali? Sebuah penegasan, bahwa bakti kepada ayah dan ibu bukanlah amalan sampingan, melainkan poros kebaikan seorang anak. Allah menegaskan:
“Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya.” (QS. Al-‘Ankabut: 8; Al-Ahqaf: 15)
Sungguh, siapa yang berbakti kepada orang tuanya, doanya akan lebih dekat dikabulkan. Siapa yang menyenangkan hati ibunya, maka ridha Allah bersamanya. Ibn ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Tidak ada amal yang lebih mendekatkan seorang hamba kepada Allah setelah shalat, selain berbakti kepada orang tua.”
BACA JUGA: Pintu Surga Paling Mudah: Orangtuamu
Maka mari, selagi mereka masih ada, genggam tangan itu. Ucapkan kata yang menyejukkan. Doakan keduanya siang dan malam, sebagaimana mereka dulu mendoakan kita saat kita bahkan belum bisa mengeja nama kita sendiri.
Jika kita ingin surga, maka surga itu ada di telapak kaki ibu. Jika kita mendamba ridha Allah, maka ridha itu bergantung pada ridha ayah dan ibu.
Karena setiap sujud kita, sejatinya adalah juga doa untuk keduanya: agar Allah melapangkan rahmat di dunia dan akhirat bagi mereka. []
SUMBER:
Al-Qur’an al-Karim: QS. Luqman: 14; QS. Al-Isra: 23-24; QS. Al-‘Ankabut: 8; QS. Al-Ahqaf: 15.
Tafsir Ibn Katsir, Juz 6.
Perkataan al-Hasan al-Bashri rahimahullah dalam Shifat ash-Shafwah karya Ibn al-Jauzi.
Atsar Ibn ‘Abbas rahimahullah dalam al-Adab al-Mufrad karya Imam al-Bukhari.
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


