JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Sirah

Ketika Kaum Quraisy Mengirim Utusan kepada Abu Thalib

Ustman bin Affan

Ibnu Ishaq menuturkan, beberapa pemuka Quraisy pergi ke tempat Abu Thalib, lalu berkata, “Wahai Abu Thalib, sesungguhnya anak saudaramu telah mencaci maki sesembahan kami, mencela agama kami, membodohkan harapan-harapan kami dan menyesatkan nenek moyang kami. Cegahlah dia agar tidak mengganggu kami, atau biarkanlah kami yang menanganinya sendiri. Engkau juga menentangnya seperti kami, sehingga kita bisa mencegahnya.”

Dengan perkataan yang halus dan lembut, Abu Thalib menolak permintaan mereka. Mereka pun pulang dengan tangan hampa, sehingga Rasulullah bisa melanjutkan dakwah, menampakkan agama Allah dan menyeru kepadanya.

Kesepakatan Bersama untuk Melarang Orang-Orang yang Menunaikan Haji dari Mendengarkan Dakwah

Saat orang-orang Quraisy resah oleh dakwah Rasulullah tersebut, kegelisahan lain kini menghampiri mereka. Ini karena dakwah secara terang-terangan yang dilakukan oleh beliau tidak lama lagi akan menjumpai musim haji.

BACA JUGA:  Mendengar Ayat tentang Neraka, Abdullah bin Rawahah Menangis

Mereka menyadari bahwa berbagai utusan dari seluruh Jazirah Arab akan mendatangi mereka. Oleh karena itu, mereka berpendapat untuk mengeluarkan satu pernyataan resmi yang disampaikan kepada bangsa Arab tentang status Muhammad, agar dakwah beliau tidak meninggalkan pengaruh di dalam hati mereka.

Akhirnya, mereka berkumpul di tempat Al-Walid bin Al-Mughirah untuk membahas persoalan tersebut.

Al-Walid berkata, “Ambil satu kesimpulan tentang persoalan ini dan jangan sampai kalian saling berbeda pendapat, sehingga sebagian di antara kalian mendustakan sebagian yang lain, sebagian menyanggah sebagian yang lain.” “Bagaimana pendapatmu sendiri?” tanya mereka.

“Sampaikanlah dulu pendapat kalian, biar aku mendengarnya.”

“Kita katakan saja bahwa dia adalah seorang dukun.”

“Tidak demi Allah, dia bukanlah seorang dukun, ” jawab Al-Walid.

“Toh kita pernah melihat para dukun. Dia sama sekali tidak menggunakan sajak dan mantra seperti dukun,” tambahnya.

“Kita katakan saja, dia orang gila,” kata mereka.

“Dia bukan orang sinting. Kita sudah mengetahui bagaimana orang-orang gila itu. Dia tidak menangis tersedu-sedu, tidak bertindak tanpa kontrol dan tidak berbisik-bisik layaknya orang gila.”

“Kita katakan saja, dia seorang penyair,” kata mereka.

“Dia bukan seorang penyair Kita sudah mengetahui seluruh bentuk syair baik rajaz, hazaj, qaridh, maqbusih, maupun mabsuth. Apa yang disampaikannya itu bukan termasuk syair

“Kita katakan saja, dia seorang penyihir,” kata mereka

“Dia bukan seorang penyihir Kita sudah melihat para penyihir dan mengetahui sihir mereka. Dia tidak berkomat-kamit dan tidak membuat buhul tali layaknya penyihir.”

“Kalau begitu apa yang harus kita katakan?”

Al-Walid menjawab, “Demi Allah, perkataannya benar-benar manis, pangkalnya benar-benar cerdik dan cabangnya benar-benar matang. Apa pun yang kalian katakan tadi tentang orang ini (Muhammad sebenarnya sudah jelas merupakan pernyataan yang salah. Namun, sebutan yang paling mirip untuk dia, hendaklah kalian mengatakannya sebagai penyihir. Dia datang membawa suatu perkataan menyerupai sihir yang bisa memisahkan antara seseorang dengan bapaknya, seseorang saudaranya, seseorang dengan istrinya, seseorang dengan kerabat dekatnya, sehingga kalian berpecah belah karenanya.”

Sebagian riwayat menyebutkan bahwa tatkala Al-Walid menolak sebutan yang mereka tawarkan kepadanya, maka mereka berkata, “Kalau begitu sampaikan pendapatmu yang tak bisa dibantah lagi.” “Beri aku waktu barang sejenak untuk memikirkan hal ini,” kata Al-Walid.

Sejurus kemudian Al-Walid diam berpikir dan terus berpikir, hingga akhirnya dia menyampaikan pendapatnya seperti yang disebutkan di atas.

Tentang apa yang dilakukan Al-Walid ini, Allah telah menurunkan enam belas ayat di dalam surat Al-Muddatstsir, dari ayat 11 hingga 26, di antaranya disebutkan tentang bagaimana dia memeras pikirannya.

“Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya), maka celakalah dia. Bagaimanakah dia menetapkan? Kemudian celakalah dia. Bagaimanakah dia menetapkan? Kemudian dia memikirkan, sesudah itu dia bermuka masam dan merengut, kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri, lalu dia berkata, (Al-Qur’an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia”” (Al-Muddatstsir: 18-25).”

BACA JUGA:   Dakwah Nabi di atas Bukit Shafa

Setelah semua orang yang hadir dalam pertemuan menyepakati ketetapan itu, mereka memutuskan untuk melaksanakannya. Untuk itu mereka duduk di pinggir-pinggir jalan yang dilalui manusia tatkala datang. sehingga tak seorang pun yang lewat melainkan mendapat peringatan tentang diri Muhammad dan mereka juga menyebutkan keadaannya.”

Yang memelopori pelaksanaan ini adalah Abu Lahab.

Ketika musim haji benar-benar sudah tiba, Rasulullah mendatangi manusia, di tempat tinggal mereka, di pasar Ukazh, Majannah, dan Dzil-Majaz, menyeru mereka kepada Allah. Sementara itu, Abu Lahab menguntit di belakang beliau, sambil berkata. “Janganlah kalian mematuhinya karena dia orang yang keluar dari agama dan seorang pendusta. Akibatnya, pada musim itu orang-orang Arab pulang ke tempat masing-masing dengan membawa urusan Rasulullah. Nama beliau tersebar di seluruh penjuru Arab. []

Sumber: Sirah Nabawiyah Peerjalanan Hidup Yang Agung Muhammad / Penulis: Syaikh Shafiyyurahman al-Mubarakfuri/ Penerbit: Darussalam

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Sirah

Rasulullah Memuliakan Tukang Sapu

Sirah

Pertolongan Allah

Sirah

Rasa Tanggung Jawab dan Iman kepada Akhirat dari Para Sahabat Nabi

Sirah

Penyesalan Sang Kakek