JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Muhasabah

Lisan, Titian yang Menyelamatkan atau Menjerumuskan

Hukum Mengucapkan Kata "Anjay" dalam Islam

Dalam sejarah perjalanan para sahabat, lisan bukanlah perkara remeh. Mu’adz bin Jabal—radhiyallāhu ‘anhu—pernah bertanya dengan wajah penuh kejujuran, “Wahai Rasulullah, apakah kita akan diazab karena apa yang kita ucapkan?” Pertanyaan itu lahir dari hatinya yang haus akan keselamatan. Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Bagaimana engkau ini wahai Mu’adz, bukankah seseorang tertelungkup di neraka di atas wajahnya tidak lain karena sebab lisannya?” (HR. at-Tirmidzi).

Jawaban itu bagai gemuruh yang menyadarkan. Betapa sebuah kata, ringan diucapkan, dapat menjerat pemiliknya ke dalam azab yang berat. Betapa lidah yang kecil, bila dibiarkan, mampu menumbangkan gunung kebaikan.

Seorang penyair Arab berkata: “Lisan singa yang buas, bila engkau lepaskan, akan mengoyak pemiliknya sebelum musuhnya.” Dan sungguh, berapa banyak korban berjatuhan karenanya. Hari ini, kemarin, esok, tak terhitung lagi jumlahnya. Korban-korban itu bukan hanya orang lain yang dihina atau dicaci, tetapi justru pemilik lisanlah yang menjadi korban pertama, sebab ia memikul dosa dan penyesalan.

BACA JUGA:  Hubungan Lisan dan Sakaratul Maut

Ibnul Mubārak rahimahullāh pernah menasihatkan, “Siapa yang menjaga lisannya, maka Allah akan menutupi aibnya. Dan siapa yang menahan amarahnya, Allah akan melindunginya dari azab-Nya.”

Namun, menjaga lisan bukan perkara sehari dua hari. Ia butuh latihan panjang, butuh kesabaran yang dalam. Lisan itu ibarat kuda liar yang ingin berlari ke segala arah. Tanpa kendali, ia akan menjerumuskan. Tetapi bila ditundukkan dengan kendali iman, ia akan mengantar pemiliknya menuju surga.

Abu Nu’aim meriwayatkan dalam Hilyatul Auliya’, Malik bin Dinar rahimahullāh berkata, “Sabar adalah diam, dan diam adalah bagian dari kesabaran. Tidaklah orang yang bicara lebih baik daripada orang yang diam, kecuali orang yang paham saat diam dan mengerti kapan harus bicara.”

Renungkanlah, berapa banyak kita tergelincir karena kalimat yang tak perlu. Seandainya setiap kata harus dibayar dengan emas, niscaya kita lebih selektif memilihnya. Tetapi kenyataan justru sebaliknya: kata-kata murah dilontarkan tanpa pikir panjang, padahal hisabnya kelak lebih mahal daripada dunia seisinya.

BACA JUGA:  Nasihat Abu Darda’: Lisannya Basah dengan Dzikir, Wajahnya Penuh Senyuman di Surga

Lihatlah mereka yang tak mampu bicara, atau yang lisannya terbata-bata. Betapa besar nikmat lisan yang diberikan Allah. Nikmat itu lebih berharga dari permata, tetapi kita sia-siakan dengan menggunakannya untuk mencela, berdusta, atau memperolok.

Wahai jiwa, ingatlah sabda Nabi ﷺ: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Diam itu keselamatan, bicara itu ujian. Maka jadikanlah lisanmu titian menuju rahmat, bukan jurang menuju kehinaan. Sebab, lisan yang terjaga adalah mahkota bagi orang beriman, sedang lisan yang liar adalah tali yang menjerat pemiliknya di akhirat. []

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Muhasabah

Duhai Diri, Bagaimanakah Engkau di Hari Penghakiman Nanti?

Muhasabah

Hawa Nafsumu

Muhasabah

4 Golongan Manusia dengan Kematian

Muhasabah

Kelezatan Maksiat dan Kenikmatan Beribadah