) فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا (٢) )
“Maka, bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohanlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima tobat.” (Q.S. An-Nashr: 3)
Setelah Allah menjelaskan nikmat dan karunia kemenangan yang diberikan-Nya kepada Nabi, Allah memerintahkan Nabi untuk bertasbih dengan memuji-Nya. Selain itu. Allah menyuruh Nabi untuk beristigfar kepada-Nya. Allah pun menyuruh Nabi untuk menyucikan-Nya dari segala bentuk kekurangan dan kesyirikan. Bahkan, Allah juga menyuruh Nabi agar memohon ampun kepada-Nya. Apakah Nabi berbuat kesalahan dalam dakwahnya selama 23 tahun-13 tahun di Mekkah dan 10 tahun di Madinah- sehingga beliau diperintahkan untuk beristigfar?
Perintah ini menunjukkan Nabis mengakui bahwa bagaimanapun beliau beribadah kepada Allah, beliau tetap tidak akan dapat menyamai keagungan Allah. Hal ini juga memperlihatkan bahwa Nabi tidak ujub atau membanggakan perbuatannya. Selama 23 tahun berdakwah, Nabi bahkan diusir dan hendak dibunuh oleh kaumnya. Setelah dakwahnya berhasil, beliau tidak pernah angkuh dan ujub.
BACA JUGA: Istighfar Nabi Ibrahim
Namun, beliau justru banyak beristigfar kepada Allah karena beliau menyadari pasti ada kekurangan. Oleh karena itu, zikir yang pertama diucapkan seorang hamba setelah salat adalah istigfar sebanyak tiga kali. Hal itu karena seorang hamba harus menyadari bahwa bagaimana pun juga, salatnya tidak akan sempurna. Dengan demikian, ia menjadikan istigfarnya sebagai penutup kekurangan dan ketidaksempurnaan ibadahnya kepada Allah.
Jika Nabi yang dakwahnya selama 23 tahun-yang murni seluruhnya karena Allah- tetap diperintahkan untuk beristighfar, apalagi dengan para dai yang dakwahnya belum tentu ikhlas karena Allah. Oleh karena itulah, ketika memasuki kota Mekkah setelah menaklukkannya, Nabi masuk dalam keadaan tawadu dan rendah hati. Beliau tahu bahwa seluruh keberhasilannya karena Allah semata.
Setelah surah ini turun, Rasulullah banyak mambaca tasbih dan istigfar dalam rukuk dan sujudnya. Aisyah berkata:
كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ فِي رُكُوعِهِ وَسُجُودِهِ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي يَتَأَوَّلُ الْقُرْآنَ
“Rasulullah sering membaca dalam rukuk dan sujudnya doa
سُبْحَانَكَ اللهُم رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي
Maha Suci Engkau Ya Allah, Rabb kami, pujian untuk-Mu, ampunilah aku. Beliau juga mengamalkan Alquran,”
BACA JUGA: Mengapa Harus Istighfar setelah Tahajjud?
Dalam riwayat yang lain, Aisyah berkata:
مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُنْذُ نَزَلَ عَلَيْهِ {إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ) يُصَلِّي صَلَاةَ إِلَّا دَعَا أَوْ قَالَ فِيهَا: سُبْحَانَكَ رَبِّي وَبِحَمْدِكَ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي
“Aku tidak pernah melihat Nabi setelah turun firman Allah “Jika telah datang pertolongan Allah dan kemenangan” ketika salat, kecuali berdoa dalam salat tersebut
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى
Maha Suci Engkau Ya Allah, Rabb kami, pujian untuk-Mu, ampunilah aku.” []
Sumber: Tafsir Juz ‘Amma / Penulis: DR. Firanda Andirja, Lc, MA. / Cetakan Kelima, Februari 2023
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


