JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Sirah

Perintah Pertama untuk Menampakkan Dakwah

Sehubungan dengan hal ini, ayat pertama yang turun adalah firman-Nya:

وأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ :

“Dan berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat.” (Asy-Syu’ara’: 214).

Terdapat jalur cerita sebelumnya yang menyinggung kisah Musa dari permulaan kenabiannya hingga hijrahnya bersama Bani Israil, lolosnya mereka dari kejaran Fir’aun dan kaumnya serta tenggelamnya Fir’aun bersama kaumnya.

Kisah ini mengandung beberapa tahapan yang dilalui oleh Musa agar menyembah Allah. dalam dakwahnya terhadap Fir’aun dan kaumnya.

BACA JUGA:   Mendengar Ayat tentang Neraka, Abdullah bin Rawahah Menangis

Rincian ini seolah-olah dipaparkan seiring dengan perintah kepada Rasulullah agar berdakwah kepada Allah secara terang-terangan, sehingga di hadapan beliau dan para shahabatnya terdapat contoh dan gambaran yang akan dialami oleh mereka nantinya, yaitu pendustaan dan penindasan ketika mereka melakukan dakwah tersebut secara terang-terangan.

Demikian pula, agar mereka mawas diri dalam melakukan hal itu dan berdasarkan ilmu sejak awal memulai dakwah mereka tersebut.

Di sampingitu, surat tersebut juga berbicara mengenai nasib yang akan dialami oleh pendusta-pendusta para Rasul, di antaranya sebagaimana yang dialami oleh kaum Nabi Nuh, kaum ‘Ad dan Tsamud, kaum Nabi Ibrahim, kaum Nabi Luth serta Ashhabul Aikah (selain yang berkaitan dengan tentang Fir’aun dan kaumnya). Hal itu semua dimaksudkan agar mereka yang melakukan pendustaan mengetahui bahwa mereka akan mengalami nasib yang sama seperti nasib kaum-kaum tersebut dan mendapatkan pembalasan dari Allah bila melakukan hal yang sama.

Demikian pula, agar kaum Mukminin tahu bahwa kesudahan yang baik dari itu semua akan berpihak kepada mereka bukan kepada para pendusta tersebut.

Berdakwah di Kalangan Kaum Kerabat

Setelah menerima perintah dalamayat tersebut, Rasulullah mengundang keluarga terdekatnya, Bani Hasyim. Mereka datang memenuhi undangan itu disertai oleh beberapa orang dari Bani Al-Muththalib bin Abdu Manaf. Mereka semua berjumlah sekitar 45 orang laki-laki.

Namun, tatkala Rasulullah ingin berbicara, tiba-tiba Abu Lahab memotongnya sembari berkata, “Mereka itu (yang hadir) adalah paman-pamanmu, anak-anak mereka; bicaralah dan tinggalkanlah masa kekanak-kanakan! Ketahuilah bahwa kaummu tidak memiliki cukup kekuatan untuk melawan seluruh bangsa Arab. Akulah orang yang berhak membimbingmu. Cukuplah bagimu suku-suku dari pihak ayahmu. Bagi mereka, jika engkau ngotot melakukan sebagaimana yang engkau lakukan sekarang, adalah lebih mudah daripada bila seluruh suku Quraisy bersama-sama bangsa Arab bergerak memusuhimu. Aku tidak pernah melihat seseorang yang datang kepada suku-suku dari pihak bapaknya dengan membawa suatu yang lebih jelek dari apa yang telah engkau bawa ini.”

Rasulullah hanya diam dan tidak berbicara pada majelis itu.

Kemudian beliau mengundang mereka lagi, dan berbicara, “Alhamdulillah, aku memuji-Nya, meminta pertolongan, beriman serta bertawakal kepada-Nya. Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya.”

Selanjutnya beliau berkata, “Sesungguhnya seorang pemimpin tidak mungkin membohongi keluarganya sendiri. Demi Allah yang tiada ilah yang berhak disembah selain- Nya! Sesungguhnya aku adalah utusan Allah yang datang kepada kalian secara khusus, dan kepada manusia secara umum. Demi Allah, sungguh kalian akan mati sebagaimana kalian tidur dan kalian akan dibangkitkan sebagaimana kalian bangun dari tidur. Sungguh kalian akan dihisab (diminta pertanggungjawabannya) terhadap apa yang kalian lakukan. Sesungguhnya yang ada hanya surga yang abadi atau neraka yang abadi.”

BACA JUGA:  Ciri Kenabian Rasulullah Terungkap saat Berdagang ke Negeri Syam

Kemudian Abu Thalib berkomentar, “Alangkah senangnya kami membantumu, menerima nasihatmu, dan sangat membenarkan kata-katamu. Mereka, yang merupakan suku-suku dari pihak bapakmu telah berkumpul. Sesungguhnya aku hanyalah salah seorang dari mereka, namun aku adalah orang yang paling cepat menanggapi apa yang engkau inginkan. Teruskan apa yang telah diperintahkan kepadamu. Demi Allah, aku tetap akan melindungi dan membelamu, tetapi diriku tidak memiliki cukup keberanian untuk berpisah dengan agama Abdul Muththalib.”

Saat itu juga, Abu Lahab berkata, “Demi Allah, ini benar-benar merupakan aib besar. Ayo cegahlah dia sebelum dia berhasil menyeret orang lain!”

Abu Thalib menjawab, “Demi Allah, sungguh selama kita masih hidup, kita akan membelanya.” []

Sumber: Sirah Nabawiyah Peerjalanan Hidup Yang Agung Muhammad/ Penulis: Syaikh Shafiyyurahman al-Mubarakfuri/ Penerbit: Darussalam

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Sirah

Keteladanan Kedermawanan Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu’anha

Sirah

Pertanyaan-pertanyaan dalam Kepala Abu Bakar Ash-Shiddiq

Sirah

Abu Bakar Ash-Shiddiq Menantikan Kedatangan Nabi

Sirah

Khadijah Berpulang ke Rahmatullah