JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Muamalah

Pura-pura Tidak Mengetahui Kesalahan Orang Lain

Di tengah kehidupan sosial, kita sering dihadapkan pada kesalahan orang lain. Ada yang terpancing untuk membongkarnya, ada pula yang memilih bersikap seolah-olah tidak mengetahui.

Dalam Islam, sikap “pura-pura tidak tahu” terhadap kesalahan yang tidak membahayakan agama dan masyarakat justru memiliki nilai akhlak yang tinggi. Sikap ini dikenal dengan istilah taghâful—sengaja mengabaikan demi menjaga hati dan persaudaraan.

BACA JUGA:  Kedudukan Kesalahan atau Dosa yang Tidak Disengaja, Lupa, dan Dipaksa

Imam Ahmad bin Hanbal رحمه الله berkata, “Sembilan persepuluh dari akhlak yang baik itu terletak pada sikap memaafkan dan berpura-pura tidak tahu.” Ucapan ini menunjukkan bahwa tidak semua kesalahan harus diungkit. Ada saatnya menutup mata demi menjaga kebaikan yang lebih besar.

Sufyan Ats-Tsauri رحمه الله juga mengatakan, “Orang yang mulia adalah yang banyak memaafkan dan berpura-pura tidak mengetahui kesalahan saudaranya.” Sebab, jika setiap kekeliruan dibuka, niscaya persahabatan akan rusak, rumah tangga akan retak, dan persaudaraan akan hancur.

Rasulullah ﷺ sendiri mencontohkan sikap ini dalam banyak peristiwa. Beliau sering berkata, “Mengapa sebagian orang melakukan ini dan itu?” tanpa menyebut nama pelakunya. Inilah bentuk teguran yang lembut, tanpa membuka aib. Imam An-Nawawi رحمه الله menjelaskan bahwa menyebutkan pelanggaran secara umum tanpa menunjuk pelaku adalah adab mulia dalam menasihati.

BACA JUGA:  Taubat yang Murni, Melupakan Dosa dan Kesalahan

Namun, pura-pura tidak tahu bukan berarti membiarkan kemungkaran besar yang merusak agama. Jika kesalahan itu menyentuh hak Allah secara nyata atau membahayakan orang lain, maka kewajiban menasihati tetap harus ditegakkan dengan hikmah. Ibnu Taimiyah رحمه الله menegaskan, “Menutup aib dianjurkan selama tidak menimbulkan kerusakan yang lebih besar.”

Dengan demikian, berpura-pura tidak mengetahui kesalahan orang lain adalah cermin kedewasaan iman. Ia menjaga persaudaraan, menenangkan hati, dan menutup jalan bagi permusuhan. Sikap ini bukan kelemahan, melainkan kekuatan akhlak seorang mukmin. []

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Muamalah

Antara Kata dan Diam: Timbangan Keselamatan Seorang Mukmin

Muamalah

Adab Meminjam Uang yang Santun menurut Para Ulama Salaf

Muamalah

Ikhwan Bau Badan, Bagaimana Cara Memberitahukannya?

Muamalah

Bohong, Dibenci Allah