Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Demi Allah, sungguh benar-benar akan tiba suatu hari dimana engkau berharap di lembaran catatan amalmu terdapat meskipun hanya sebuah kalimat tasbih, tahmid, takbir atau tahlil.” (al-Liqooaat asy-Syahriyyah, 2/67).
Hari yang dimaksud adalah yaumil akhir, hari di mana setiap manusia berdiri di hadapan Rabbnya, menunggu keputusan yang akan menentukan nasib abadi. Pada saat itu, dunia telah berakhir, harta dan jabatan tak lagi berarti, bahkan keluarga dan sahabat tak mampu menolong. Satu-satunya yang menyertai hanyalah amal. Amal itulah yang akan ditimbang, sekecil apa pun ia tidak akan hilang. Allah berfirman:
“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasannya).” (QS. Az-Zalzalah: 7).
BACA JUGA: Bagaimana Terjadinya Hisab pada Hari Kiamat?
Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah menjelaskan bahwa amal kebaikan sekecil apa pun, meski sering diremehkan manusia, justru bisa menjadi sebab keselamatan di hari kiamat. Beliau berkata, “Jangan engkau meremehkan amal shalih yang ringan, karena engkau tidak tahu amal mana yang akan menjadi penyelamatmu di hadapan Allah.”
Betapa sering lidah kita bergerak tanpa sadar. Kadang ia mengucapkan dzikir, namun lebih sering lalai dalam senda gurau atau bahkan ucapan sia-sia. Padahal satu kalimat dzikir dapat menjadi penolong besar di akhirat. Nabi ﷺ bersabda: “Dua kalimat yang ringan di lisan, berat di timbangan, dan dicintai oleh Ar-Rahman: Subhanallahi wa bihamdih, Subhanallahil ‘azhim.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Salafus shalih sangat paham akan nilai sebuah kalimat dzikir. Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari. Jika satu hari berlalu, maka hilanglah sebagian dirimu. Maka manfaatkanlah hari-harimu dengan ketaatan.” Perkataan ini menggugah hati, bahwa setiap detik adalah kesempatan emas untuk menambah bekal.
BACA JUGA: Hari Kiamat: Ketika Manusia Saling Meninggalkan
Sungguh, penyesalan terbesar kelak bukanlah karena sedikitnya harta dunia, tetapi karena kurangnya bekal amal shalih. Saat lembaran catatan amal dibuka, seseorang berharap seandainya ia bisa kembali walau sesaat untuk menambah satu tasbih, satu tahmid, atau satu istighfar. Namun pada hari itu, kesempatan sudah tertutup selamanya.
Maka, selagi kita masih diberi waktu, jangan sia-siakan. Jadikan lisan kita basah dengan dzikir, hati kita hidup dengan syukur, dan langkah kita penuh dengan amal shalih. Karena bisa jadi, satu kalimat sederhana yang engkau ucapkan dengan ikhlas, menjadi sebab Allah menyelamatkanmu di yaumil akhir. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


