JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Ibrah

Sedihnya Ulama Salaf karena Kehilangan Waktu Tahajjud

Ada seorang ulama ‘salafush-shālih’ (ulama salaf) bernama `Athā` al-Khurasāni berkata, ‘Sesungguhnya orang bangun malam menunaikan shalat Tahajud akan mendapat kegembiraan dalam hatinya lantaran bisa menunaikannya. Sedangkan ketika matanya mengantuk hingga tertidur dan tak bisa menunaikan Tahajud, maka ketika (bangun) Subuh ia merasa sedih, merasa patah hati (merasa kalut) seakan-akan ia telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga baginya.” (Al-Mawarzi, Mukhtashar Qiyâmul Lail, 54)

Luar biasa, yang membuat sedih ulama salaf ialah ketika tidak bisa menunaikan shalat Tahajud, karena tertidur. Mereka sangat bersedih dan merasa patah hati. Dalam perkara kehilangan ibadah sunnah saja, seperti tahajud mereka sedemikian sedih, apalagi dalam perkara ibadah wajib? Sebuah semangat yang patut diteladani.

BACA JUGA: Kata Mutiara tentang Tahajjud

Ada lagi pernyataan menarik dari Ibnu Abid Dunyā dalam “Al-Tahajjudu Wa Qiyâmu Al-Laili” terkait fenomena yang sama, diriwayatkan ada ulama salaf yang bernama: Syuraih bin Hāny. Syuraih berkata, “Orang (salaf) lebih mudah kehilangan (kesempatan tidur) daripada kehilangan kesempatan (untuk menunaikan shalat malam)”. Sebagai contoh, menjelang wafatnya Abu As-Sya`tsā menangis. Lalu ada yang bertanya kepada beliau, “Apa yang membuatmu menangis?” Ulama salaf itu menjawab, “Aku (merasa) belum puas menunaikan shalat malam.” (Mausū`ah al-Buhūts wa al-Maqālāt al-‘Ilmiyyah, 3).

Dalam hadits pun dijelaskan bahwa ketika Rasulullah ﷺ luput tidak menunaikan Tahajud maka belia menggantikannya dengan shalat Dhuha 12 rakaat, sebagaimana hadits berikut: “Rasulullah ﷺ punya kebiasaan ketika tidak mengerjakan shalat malam karena sakit atau yang lainnya, beliau shalat di siang harinya sebanyak 12 rakaat.” (HR. Muslim). Ini berarti Rasul pun merasa kehilangan dan sedih ketika tak bisa menunaikannya, sehingga menggantinya dengan shalat Dhuha 12 rakaat.

BACA JUGA:  Tahajjud ; Oleh Buya Hamka

Lebih dari itu, menurut riwayat Tirmidzi, shalat tahajud atau malam adalah sudah menjadi kebiasan orang-orang saleh. Sabda Nabi, “Hendaklah kalian melaksanakan shalat malam secara baik. Karena itu adalah kebiasaan orang-orang saleh sebelum kalian. Sesungguhnya shalat malam bisa mendekatkan diri kepada Allah, mencegah diri dari perbuatan dosa, menghapus keburukan dan bisa mengusir penyakit dari jasad.” []

SUMBER: HIDAYATULLAH

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Ibrah

2 Orang yang Khusyuk

Ibrah

Kerendahan Hati Umar bin Abdul Aziz di Hadapan Allah dan Doanya yang Dijabah

Ibrah

Kisah Anak Durhaka pada Ibu: Balasan Itu Sesuai Jenis Perbuatan

Ibrah

Kisah Anak Durhaka pada Bapak: Rabb-mu Benar-benar Mengawasimu!

Leave a Reply