Kisah ini kami bawakan dari Kitab Syarh Riyadhus Shalihin, karya Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu Ta’ala.
ويذكر – قديما – أن رجلا من أهل الحسبة – يعني من الذين يأمرون بالمعروف وينهون عن المنكر – مر على شخص يستخرج الماء من البئر على إبله عند أذان المغرب ، وكان من عادة هؤلاء العمال أن يحدوا بالإبل، يعني ينشدون شعرا من أجل أن تخف الإبل ؛ لأن الإبل تطرب النشيد الشعر
“Disebutkan dulu ada seorang dari Ahlu Hisbah (badan khusus yang dibentuk pemerintah untuk menegakkan syariat, biasanya ada pada negara-negara Islam di masa silam pent.). Maksud (Ahli Hisbah) adalah orang yang tugasnya melakukan amar ma’ruf nahi mungkar. Suatu ketika salah satu anggotanya melewati seorang yang sedang menimba air dari sumur untuk unta-untanya saat adzan magrib. Di antara kebiasaan mereka (pengembala unta) saat bekerja adalah mereka membaca hida (satu jenis syair yang biasa dibaca oleh para penggembala, pent.) bersama unta-untanya. Maksud (hida) adalah mereka membaca syair agar membuat unta-untanya energik; karena untanya akan (terlihat) energik ketika dibacakan syair tertentu.”
BACA JUGA: Anak Unta
فجاء هذا الرجل ومعه غيره ، وتكلم بكلام قبيح على العامل الذي كان متعبا من العمل وضاقت عليه نفسه فضرب الرجل بعصا طويلة متينة كانت معه – فشرد الرجل وذهب إلى المسجد والتقى بالشيخ – عالم من العلماء من أحفاد الشيخ محمد بن عبد الوهاب – رحمه الله – وقال : إني فعلت كذا وكذا، وإن الرجل ضربني بالعصا
“Maka datanglah orang Ahlu Hisbah bersama kawan-kawannya. Dia menegur dengan kata-kata kasar kepada pengembala unta yang telah lelah bekerja, maka dipukulah Ahlu Hisbah tersebut dengan tongkat panjang kokoh yang dibawa oleh pengembala unta. Larilah Ahlu Hisbah tersebut ke masjid dan berjumpa dengan seorang syaikh – seorang ulama yang termasuk keturunan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab – rahimahullah – Lantas dia menceritakan (apa yang terjadi), ‘Aku melakukan demikian dan demikian, dan orang itu memukul aku dengan tongkatnya.’”
فلما كان من اليوم الثاني ذهب الشيخ بنفسه إلى المكان قبل غروب الشمس، وتوضأ ووضع مشلحه على خشبة حول البئر ، ثم أذن المغرب فوقف كأنه يريد أن يأخذ المشلح ، فقال له : يا فلان .. يا أخي جزاك الله خيرا ، أنت تطلب الخير في العمل هذا ، وأنت على خير ، لكن الآن أذن للمغرب ، لو أنك تذهب وتصلي المغرب وترجع ما فاتك شيء ، وقال له كلاما هيئا
“Maka keesokan harinya, sebelum tenggalam matahari, Syaikh pergi sendiri ke tempat yang diceritakan. Dia berwudhu dan meletakkan jubahnya di suatu kayu yang ada di dekat sumur. Kemudian terdengarlah adzan magrib lantas dia berhenti seakan-akan ingin mengambil jubah. Kemudian syaikh berkata kepada pengembala unta (yang ada didekatnya), ‘Wahai fulan … wahai saudaraku semoga Alalh membalasmu dengan kebaikan. Kamu adalah orang yang mencari kebaikan dengan amal ini (amalan yang dimaksud adalah menimba air di sumur yang bisa dimanfaatkan oleh orang lain, unta-untanya, dan oleh syaikh ini untuk berwudhu pent.). Dan kamu seorang yang baik. Akan tetapi, saat ini sudah terdengar adzan magrib. Andai kamu berkenan pergi shalat magrib terlebih dahulu, lalu kembali lagi maka kamu tidak akan rugi.’ Syaikh mengatakan hal tersebut dengan perkataan yang lembut.”
فقال له: جزاك الله خيرا ، مر علي أمس رجل جلف قام ينتهرني ، وقال لي كلاما سيئا أغضبني ، وما ملكت نفسي حتى ضربته بالعصا ،
“Lantas pengembala unta itu menjawab, ‘Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan. (Kemudian dia bercerita) kemarin ada orang kasar yang lewat, dia membentakku. Dia mengucapkan perkataan yang buruk yang membuatku marah. Maka aku tidak bisa mengendalikan diri sehingga aku memukulnya dengan tongkat.’”
BACA JUGA: Nasihat Kematian dari Ulama Hadits, Al-A’masy
قال : الأمر لا يحتاج إلى ضرب ، أنت عاقل ، ثم تكلم معه بكلام لين ، فأسند العصا التي يضرب بها الإبل ثم ذهب يصلي بانقیاد ورضا.
“Maka syaikh mengatakan, ‘Masalah seperti itu tidak perlu menggunakan kekerasan. Kamu adalah orang yang cerdas.’ Syaikh berbicara dengan lembut kepadanya. Setelah itu pengembala unta tersebut menyandarkan tongkatnya yang (biasa) ia gunakan untuk memukul unta, kemudian pergi shalat dengan kepatuhan dan dengan hati yang lapang.” [Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu Ta’ala, Syarh Riyadhus Shalihin, Jilid 2, Bab 23 tentang Amar Ma’ruf Nahi Mungkar]
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


