Shalat adalah kewajiban utama bagi setiap Muslim, bukan sekadar rutinitas gerakan, melainkan tiang penopang agama yang menjaga kokohnya iman seorang hamba. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Inti (pokok) segala perkara adalah Islam dan tiangnya (penopangnya) adalah shalat.” (HR. Tirmidzi, dari Mu’adz bin Jabal)
Hadis ini menegaskan betapa shalat bukan hanya ibadah biasa, tetapi juga fondasi yang menegakkan seluruh bangunan keislaman seseorang. Tanpa shalat, keimanan akan rapuh, dan seorang Muslim akan kehilangan arah.
Namun, Islam tidak hanya memerintahkan kita untuk menegakkan shalat secara lahiriah saja, melainkan juga menekankan pentingnya menjaga kualitas dan kekhusyukannya.
BACA JUGA: Waktu-waktu yang Dilarang Mendirikan Shalat
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قَدۡ اَفۡلَحَ الۡمُؤۡمِنُوۡنَۙ الَّذِيۡنَ هُمۡ فِىۡ صَلَاتِهِمۡ خَاشِعُوۡنَ
“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang yang khusyuk dalam shalatnya.” (Q.S Al-Mu’minun: 1-2)
Kekhusyukan inilah yang membedakan antara shalat yang benar-benar menjadi sumber cahaya hati dan penjaga dari perbuatan buruk, dengan shalat yang hanya menjadi sekadar rutinitas fisik belaka.
Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah berkata:
“Shalat yang dilakukan dengan penuh kekhusyukan, itulah yang akan menghalangi pelakunya dari perbuatan keji dan munkar. Namun, siapa yang shalatnya hanya gerakan tanpa hadirnya hati, maka shalat itu tidak memberi pengaruh apa pun.”
Kekhusyukan lahir dari rasa sadar bahwa kita sedang berdiri di hadapan Rabb Yang Maha Agung, yang mengetahui seluruh bisikan hati dan lintasan pikiran kita. Para salafus shalih begitu menjaga kekhusyukan ini. Diriwayatkan, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu ketika hendak shalat, wajahnya pucat dan tubuhnya gemetar. Ketika ditanya mengapa demikian, ia menjawab:
“Telah tiba saatnya aku memikul amanah yang besar, yang ditawarkan kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, namun mereka enggan dan takut memikulnya, sedangkan aku harus memikulnya.”
BACA JUGA: Syarat Shalat, Menghadap Ka’bah
Sungguh, shalat bukan hanya gerakan dan bacaan, tetapi perjumpaan rohani dengan Allah, Sang Pemilik alam semesta.
Oleh karena itu, marilah kita berusaha memperbaiki shalat kita, menegakkan shalat bukan sekadar sebagai kewajiban, tetapi sebagai sumber ketenangan jiwa dan kekuatan iman. Semoga kita semua termasuk golongan “orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya” yang disebut Allah sebagai orang-orang yang beruntung.
Sebagaimana perkataan Imam Ibnu Qayyim rahimahullah: “Derajat seorang hamba di sisi Allah ditentukan oleh kadar kekhusyukannya dalam shalat.” []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


