JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Al-Qur'an

Tafsir Surat Al-Falaq

Mushaf Al-Quran, Tafsir Surah Al-Maun

Al-Falaq
Makkiyah · 5

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِۙ ۝١
qul a‘ûdzu birabbil-falaq
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku berlindung kepada Tuhan yang (menjaga) fajar (subuh)

مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَۙ ۝٢
min syarri mâ khalaq
dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan,

وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ اِذَا وَقَبَۙ ۝٣
wa min syarri ghâsiqin idzâ waqab
dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,

وَمِنْ شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِى الْعُقَدِۙ ۝٤
wa min syarrin-naffâtsâti fil-‘uqad
dari kejahatan perempuan-perempuan (penyihir) yang meniup pada buhul-buhul (talinya),

وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَࣖ ۝٥
wa min syarri ḫâsidin idzâ ḫasad
dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.”

Surah Al-Falaq merupakan surah ke-113. Surah ini terdiri dari 5 ayat. Al-Falaq artinya “waktu Subuh”. Surah Al-Falaq tergolong surah Madaniyah. Surah ini dan surah setelahnya, surah An-Naas, diturunkan secara bersamaan. Oleh karena itulah, kedua surah ini dinamakan التعودتين Al-Mu’awwidzatain (Dua Pelindung).

Penyebab Turunnya Surah Al-Falaq

Sebagian ahli tafsir menyebutkan penyebab turun-nya surah ini, yaitu ketika Nabi disihir oleh seorang Yahudi bernama Lubid bin Al-A’sham di Madinah. Akibatnya, Nabi sempat tersihir selama beberapa waktu. Efek sihir tersebut adalah beliau seperti melakukan sesuatu padahal hanya halusinasi atau tidak pernah melakukannya.

Misalnya, beliau seolah-olah merasa telah mendatangi atau menggauli istri-istrinya, padahal sebenarnya tidak. Kemudian, Allah menurunkan Al-Mu’awwidzatain -surah Al-Falaq dan An-Naas. Nabi pun membaca kedua surah tersebut dan akhirnya beliau sembuh atas izin Allah. (Kisah disihirnya Nabi oleh Lubaid bin Al-A’sham Al-Yahudi disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari No. 3268 dan Shahih Muslim No. 2189, tetapi tanpa menyebutkan ten-tang turunnya kedua surah Al-mu’awwaidzatain. Adapun riwayat-riwayat yang menyebutkan bahwa kedua surah Al-mu’awwidzatain turun karena tersihirnya Nabi tersebut seluruhnya lemah, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya 8/507 di penghujung tafsir surah Al-Falaq dan Ibnu Hajar di Fathul Baari 10/225)

BACA JUGA:  Tafsir Surah An-Naas

Sebagian orang mengingkari hadis ini. Mereka berpendapat bahwa Nabi tidak mungkin terkena sihir. Jika beliau tersihir, Nabi bisa saja keliru dalam menyampaikan wahyu. Anggapan ini merupakan kesalahan karena sihir yang menimpa beliau tidak ada kaitannya dengan pemberian wahyu. Nabi tetap menyampaikan wahyu sebagaimana biasanya. Akan tetapi, efek sihir tersebut hanya membuat Nabi seperti orang sakit atau berkhayal telah melakukan sesuatu padahal tidak melakukannya.

Sebelum Nabi Muhammad, Nabi Musa juga yang pernah terkena sihir Allah berfirman:

قَالَ بَلْ أَلْقُوا فَإِذَا حِسَاهُمْ وَعِصِتُهُمْ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ مِن سِحْرِهِمْ أَنَّهَا تَسْعَى فَأَوْحَسَ فِي نَفْسِهِ . حِيفَةً مُوسَى )

Berkata Musa, ‘Silakan kamu sekalian melemparkan Maka, tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka. Maka, Musa merasa takut dalam hatinya.” (Q.S. Thaha: 66-67)
Nabi Musa takut melihat ular-ular yang bergerak. Padahal, tidak ada ular di sana, melainkan hanya tongkat-tongkat dan tali-tali saja. Hal itu karena Nabi Musa terkena sihir para penyihir Fir’aun. Artinya, seorang nabi mungkin saja itu terkena sihir. Akan tetapi, ada hikmah yang Allah kehendaki di balik hal tersebut. Meskipun demikian, sihir itu tidak akan memengaruhi periwayatan ayat-ayat Allah. Penolakan sebagian orang terhadap hadis ini diakibatkan lemahnya argumentasi dan logika mereka.

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ

“Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh (fajar),” (QS. Al-Falaq: 1)

Penjelasan Ayat

Ada beberapa pendapat tentang makna الفلق Pendapat yang pertama dan paling kuat adalah seperti yang dijelaskan Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam tafsirnya, yaitu Subuh. Allah berfirman:

فَالِقُ الإِصْبَاح … )

“Allah yang membuka subuh…” (Q.S. Al-An’am: 96)

Makna ayat menjadi “Katakanlah, Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh Pendapat yang lain mengatakan bahwa القلق artinya makhluk. Ada juga yang mengatakan القلق adalah salah satu nama neraka. Ada yang mengatakan bahwa القلق adalah nama penjara di Neraka Jahanam.

Ada pula yang mengatakan artinya lembah yang ada di Neraka Jahanam. Ada yang mengatakan القلق artinya sumur yang ada di Neraka Jahanam. Ada yang mengatakan القلق artinya rumah yang ada di Neraka Jahanam. Namun, pendapat terkuat adalah pendapat pertama yang artinya adalah Subuh. (Pendapat ini yang dipilih oleh Ibnu Jarir At-Thabari (24/745), Ibnu Katsir (8/504), dan Al-Bukhari dalam Shahihnya (6/181)

) مِن شَرِّ مَا خَلَقَ )

“dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan,” (Q.S. Al-Falaq: 2)

Penjelasan Ayat

Kata ما pada ayat ini مَا الْمَوْصُولَةُ sehingga maknanya adalah “berlindung dari keburukan segala sesuatu”. Allah menyuruh kita berlindung dari segala keburukan karena bahkan ada benda atau orang-orang terdekat kita yang mempunyai keburukan. Bahkan, istri dan anak-anak terkadang mendatangkan keburukan.

وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ ( )

“dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,” (Q.S. Al-Falaq: 3)

Penjelasan Ayat

Pada malam hari, ruh-ruh jahat dan hewan-hewan yang mengganggu mulai bertebaran (lihat Tafsir As-Sa’di hlm. 937). Demikianlah kenyataan yang sering kita saksikan. Banyak orang yang melakukan kejahatannya pada malam hari. Pada waktu inilah, banyak manusia lalai karena beristirahat sehingga dimanfaatkan oleh para penjahat. Pada malam hari pula, banyak orang sibuk bermaksiat kepada Allah. Oleh karena itulah, kita diperintahkan untuk berlindung dari keburukan malam.

وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ )

“dan dari kejahatan (perempuan-perempuan) penyihir yang meniup pada buhul-buhul (talinya),” (QS. Al-Falaq: 4)

Penjelasan Ayat

Pada ayat ini, Allah menjelaskan cara wanita-wanita penyihir dalam melakukan sihirnya. Mereka membuat buhul-buhul atau tali, kemudian meniupkan mantra-mantra mereka. Oleh sebab itulah, sebagian ulama melarang rukyah dengan cara meniup karena hal itu menyerupai wanita-wanita penyihir yang disebutkan Allah dalam surah Al-Falaq. Namun, pendapat ini dibantah oleh Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya.

Beliau menjelaskan bahwa Nabi pernah meniup ketika merukyah seseorang (Lihat Tafsir Al-Qurthubi 20/258). Oleh karena itu, ketika seseorang merukyah dengan membaca Alquran, ia diperbolehkan meniup setelah membacakan surah-surah Alquran tersebut.

Allah mengkhususkan penyebutan wanita dalam ayat ini. Pada zaman itu, wanita paling sering melakukan sihir di kalangan bangsa Arab. Hal ini disebabkan para wanita yang selalu melakukan rutinitas seperti menyiapkan makanan atau membersihkan rumah merasa kurang pekerjaan setelah melakukan rutinitas tersebut. Akibatnya, banyak dari mereka yang terjebak dengan kegiatan sihir dan sejenisnya (Lihat At-Tahriir wa at-Tanwiir 30/628). Ada juga yang menyatakan bahwa sihir wanita lebih hebat daripada sihir laki-laki karena keburukan jiwa wanita tersebut الثقاثَاتِ maksudnya adalah النفوس jiwa-jiwa yang jahat” sehingga dapat mencakup lelaki dan wanita. (Lihat Tafsir Al-Baidhawi 5/348)

وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ )

“dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.” (Q.S. Al-Falaq: 5)

Penjelasan Ayat

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mendefinisikan dengki atau hasad sebagai berikut.

البُغْضُ وَالْكَرَاهَةُ لِمَا يَرَاهُ مِنْ حُسْنِ حَالِ الْمَحْسُوْدِ

“Hasad adalah (sekadar) benci dan tidak suka terhadap kebaikan yang ada pada orang lain yang dilihatnya.” (Majmu Fatawa, juz 10)

Seseorang tidak harus menginginkan orang lain agar jatuh miskin dan sakit. Namun, cukup ada rasa benci dan tidak suka terhadap kenikmatan yang dimiliki orang lain pun sudah dapat disebut hasad. Penyakit hasad memang sangat mudah menimpa siapa saja. Ibnu Rajab berkata,

الحَسَدُ مَرْكُورٌ في طباع البشر، وَهُوَ أَن الإِنْسَانَ يَكْرَهُ أَنْ يَقُوْقُهُ أَحَدٌ مِنْ جنْسِهِ فِي شَيْءٍ مِنَ الْفَضَائِلِ

“Hasad terpatri dalam-tabial, manusia, yaitu manusia memiliki sifat tidak ingin diungguli dalam suatu perkara yang sama dari perkara-perkara yang mulia.” (Jami’ul Ulum Wal Hikam)

Syaikh Al-Utsaimin berpendapat bahwa ayat ini menunjukkan dua jenis orang yang hasad. Pertama, ada orang yang sekadar benci namun tidak mengganggu orang tersebut. Kedua, ada orang yang bahkan sampai mengganggu orang yang dibencinya. (Lihat Tafsir Juz Amma, Al ‘Utsaimin hlm. 353)

Ibnul Qayyim berpendapat bahwa jika seseorang mempunyai hasad dalam hatinya, ia pasti akan berbuat jahat kepada yang yang didengki atau dibencinya. Kejahatan tersebut tidak harus dengan tangan maupun ucapan, tetapi dapat muncul lewat jiwa dan matanya kepada orang tersebut. (Lihat Badaa’iul Fawaaid 2/227-228)

Seseorang harus berlindung dari kejahatan orang yang hasad. Apalagi, kita tidak tahu siapa saja yang hasad kepada kita karena mungkin saja orang terdekat ternyata mempunyai hasad kepada kita.

Hasad memang sangat berbahaya sehingga Allah mengkhususkan penyebutannya dalam surah ini. Karena hasad membawa malapetaka, orang yang hasad sangat mungkin menimbulkan kejahatan kepada orang yang ia dengki sehingga ia dapat berbuat apa saja.

Oleh karena itulah, dosa yang pertama kali dilakukan di langit adalah karena hasad. Ketika itu, Iblis hasad kepada Nabi Adam Allah memerintahkan Iblis untuk bersujud kepada Adam. Akan tetapi, iblis hasad dan tidak mau bersujud. Lalu, iblis berkata:

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْنَى مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ )

“Allah berfirman, Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?’ Iblis menjawab, Aku lebih baik daripada dia. Engkau ciptakanakudariapi, sedangkan Engkauciptakandia daritanah”.” (QS. Al-A’raf: 12)

BACA JUGA:  Tafsir Surat Al ‘Ashr

Karena hasad, Iblis tidak mau sujud kepada Adam. Iblis rela dimasukkan ke dalam neraka asalkan tidak bersujud kepada Adam. Bahkan, karena hasadnya, iblis justru menginginkan seluruh keturunan atau anak Adarn masuk ke neraka bersamanya. Allah berfirman:

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْنَى لَأُريسَ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ )

“(39) Iblis berkata, “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya; (40) Kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka.” (QS. Al-Hijr: 39-40)

Dosa pertama yang dilakukan di atas muka bumi adalah karena hasad. yaitu hasadnya Qabil kepada saudaranya, Habil.

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَى ءَادَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُتِلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ …)

“Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya. Ketika keduanya mempersembahkan korban, diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). la berkata (Qabil), ‘Aku pasti membunuhmu!’ Berkata Habil: ‘Sesung-guhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa….” (Q.S. Al-Maidah: 27)

Allah mengkhususkan penyebutan hasad dalam ayat ini karena bahaya yang ditimbulkan oleh orang yang hasad. Hasad membuat banyak bencana. Banyak orang saling membunuh gara-gara hasad. Allah menyuruh hamba-hamba-Nya untuk berlindung dari keburukan orang-orang yang hasad karena tidak ada yang bisa selamat dari orang yang hasad. Ketika seseorang diberi kenikmatan oleh Allah, ada orang yang pasti hasad kepadanya. Bahkan, Ibnul Qayyim memandang bahwa kejahatan hasad dalam ayat ini bersifat umum sehingga hasad dapat ada pada manusia dan jin. (Lihat Badaoi’ul Fawaaid 2/235) []

Sumber: Tafsir Juz ‘Amma / Penulis: DR. Firanda Andirja, Lc, MA. / Cetakan Kelima, Februari 2023

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Al-Qur'an

Adab Membaca Al-Qur'an

Al-Qur'an

Tafsir Surah Al-Maun

Al-Qur'an

5 Tanda Cinta Al-Quran

Al-Qur'an

Jawaban Alquran untuk Menghadapi Masalah