Di tengah gemerlap dunia yang mempesona, tak sedikit hati manusia yang terjerat oleh manisnya kenikmatan sementara. Namun, Rasulullah ﷺ memberikan kabar gembira sekaligus peringatan melalui sabda beliau:
“Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Allah akan melindunginya dari jeratan kenikmatan dunia, sebagaimana seseorang yang menjaga saudaranya yang sakit agar tidak terkena air.” (HR. At-Tirmidzi no. 2036, hasan gharib; dishahihkan Al-Albani)
Hadis ini menggambarkan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Layaknya seorang yang sakit, ada makanan dan minuman tertentu yang harus dihindari demi kesembuhannya. Demikian pula hati seorang mukmin, jika Allah mencintainya, Dia akan menjaga dari kenikmatan dunia yang dapat merusak iman dan menjauhkan dari akhirat.
BACA JUGA: Cinta Dunia dan Takut Mati
Hakikat Perlindungan dari Dunia
Sebagian orang menganggap bahwa dicintai Allah berarti diberikan limpahan harta, kedudukan, dan kemudahan dunia. Padahal, hakikat cinta Allah justru bisa terlihat ketika Allah menjauhkan kita dari sesuatu yang kita inginkan, demi kebaikan kita di akhirat.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Di antara bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya adalah Dia menghalangi hamba dari perkara yang akan merusak agamanya, meski hamba itu mencintainya.” (Madarijus Salikin, 2/215)
Jadi, ketika doa kita tentang dunia tidak dikabulkan, bisa jadi itu bukan penolakan, melainkan perlindungan.
Tanda Cinta yang Sering Disalahpahami
Ulama salaf menegaskan bahwa ujian dan kesulitan hidup bukan berarti Allah murka. Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah pernah berkata: “Bisa jadi seorang hamba diuji, padahal itu adalah tanda cinta Allah kepadanya. Sebaliknya, bisa jadi hamba dibiarkan dalam kelapangan, padahal itu istidraj (penundaan azab).”
Oleh karena itu, seseorang yang terjaga dari harta haram, kemewahan berlebihan, atau kemudahan yang melalaikan, justru sedang berada di bawah penjagaan Allah.
Perlindungan yang Membawa Kebaikan Akhirat
Dalam hadis ini, perumpamaan orang sakit sangat dalam maknanya. Orang sakit akan dijauhkan dari makanan atau minuman yang membahayakan tubuhnya. Begitu pula Allah menjauhkan seorang mukmin dari kenikmatan dunia yang akan membuatnya “sakit” secara ruhiyah.
Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menafsirkan: “Jika Allah mencintai seorang hamba, Dia akan memudahkan baginya jalan yang mengantarkan pada kebahagiaan akhirat, meski harus dengan meninggalkan sebagian kelezatan dunia.” (Bahjat Qulub Al-Abrar, hal. 164)
BACA JUGA: 3 Gejala Penyakit Cinta Dunia
Buah dari Menyadari Tanda Ini
Mengetahui makna hadis ini membuat hati seorang mukmin:
1- Ridha dengan takdir, meski dunia terasa sempit.
2- Bersyukur atas ujian, karena itu bisa jadi bentuk penjagaan dari Allah.
3- Berhati-hati terhadap kenikmatan dunia yang berpotensi melalaikan.
Allah berfirman: “Dan kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran: 185)
Penutup
Maka, jika kita mendapati diri kita “dijauhkan” dari kemewahan dunia, jangan tergesa-gesa merasa kurang beruntung. Bisa jadi itulah tanda cinta Allah. Sebab, penjagaan-Nya bukan sekadar memberi, tapi juga menghalangi demi keselamatan iman kita.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang dicintai-Nya, yang terjaga dari jeratan dunia, dan digiring menuju kebahagiaan abadi di akhirat. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


