JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Muhasabah

Usia Manusia yang Sebenarnya

40 Tahun

Kala hati berpaling dari Sang Pencipta,
Terjerumus jiwa dalam gelap nestapa.
Maksiat mengalun bak nyanyian fana,
Menipu waktu, memalsukan bahagia.

Hari berlalu seolah tak berdosa,
Padahal ruh menangis, merintih lara.
Langkah-langkah dalam dunia yang semu,
Menuju akhir yang getir dan pilu.

Ibnu Qayyim berkata dalam hikmah yang dalam,
“Bila engkau tinggalkan Allah, hidup pun karam.”
Waktu yang berlalu bukanlah hidup sejati,
Melainkan fatamorgana yang memudar pasti.

BACA JUGA:  Renungan Imam Ibnu Al-Jauzi: Tabiat yang Buruk

Hari-hari emas yang semestinya jadi ladang,
Dibuang percuma, dibajak oleh bimbang.
Tak terasa usia pun semakin tua,
Namun bekal akhirat kosong tak ada.

Lalu datang waktu ketika jasad melemah,
Ketika nyawa hendak lepas dari arah.
Saat itulah sesal mengetuk keras dada,
“Ke mana aku dulu menghamburkan usia?”

Duhai, kiranya aku menyiapkan bekal,
Untuk hidup kekal, tempat akhir yang kekal.
Tapi kini semua hanya angan di ujung waktu,
Tak ada lagi kembali, tak bisa mengulang itu.

“يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي”

Begitu teriakan jiwa yang terlambat menyadari.
Sungguh celaka orang yang tertipu dunia,
Mengira kehidupan ini abadi selamanya.

Padahal dunia hanya persinggahan sebentar,
Tempat ujian, bukan tempat menetap dan lebar.
Yang abadi adalah akhirat di sana,
Tempat setiap amalan ditimbang maknanya.

Waktu tak akan menunggu yang lalai,
Takkan mundur untuk orang yang alai.
Setiap detik adalah kesempatan mulia,
Untuk kembali pada Allah dan bertaubat segera.

Jangan tunggu esok untuk berubah,
Bisa jadi esok tinggal dalam sejarah.
Selagi nafas masih Allah beri,
Bangunlah hati, jangan terus menyepi.

Tinggalkan maksiat, hapuskan gelap,
Dekap taubat, dekatkan langkah.
Karena siapa tahu malaikat datang tiba-tiba,
Menjemput nyawa tanpa tanda-tanda.

Jangan biarkan diri menyesal di ujung,
Saat amal kosong dan waktu pun buntung.
Lebih baik menangis kini dalam doa,
Daripada menyesal dalam azab yang nyata.

Beramallah untuk kehidupan hakiki,
Hidup abadi di negeri ilahi.
Karena hidup dunia ini hanyalah ilusi,
Yang lenyap cepat seperti mimpi.

Renungkanlah sabda dan ayat Tuhan,
Jangan biarkan hati terus dalam kelalaian.
Satu dosa mengundang yang lain,
Hingga hidup terjerat dalam rantai beban.

BACA JUGA: Renungan Kelahiran dan Kematian

Bertobatlah, kembali kepada Rabb-mu,
Sebelum engkau menjerit, “Duhai, aku dulu…”
Sesal di akhir takkan mengubah apa-apa,
Tapi sekarang, engkau masih punya masa.

Ambillah pelajaran dari yang telah lalu,
Jadikan Al-Qur’an sebagai penunjuk dan cahaya kalbu.
Karena hidup yang sejati bukan di sini,
Tapi di akhirat yang kekal dan abadi.

“يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي” (QS. Al-Fajr: 24)

“Duhai, kiranya aku dahulu menyiapkan bekal untuk hidupku.”

— Jangan biarkan ayat ini menjadi jeritan hatimu kelak. Jadikan ia peringatan sekarang. []

.

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Muhasabah

Jangan Jadi Orang yang Pelit, Kikir, Bakhil

Muhasabah

Cara Hidup Kita

Muhasabah

10 Nasihat tentang Tahajjud

Muhasabah

4 Faedah Ziarah Kubur