JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Ibrah

2 Orang yang Khusyuk

Suatu saat, saya (Imam Ibnu Al-Jauzi) ditimpa sesuatu yang memaksa untuk segera meminta dan berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Saya pun berdoa. Saat itulah jiwa ini berbisik, “Engkau tak pantas meminta seperti itu. Yang pantas adalah orang lain yang belum mencapai derajat sepertimu.”

Saya mengatakan kepadanya, “Aku lebih tahu daripada engkau tentang dosa-dosa dan kelalaianku yang mungkin akan menghambat doa-doaku. Aku pun tahu bahwa akulah yang seharusnya selalu merapatkan jiwaku kepada-Nya. Aku tahu bahwa dengan terus menghubunginya dan berdoa dengan segala kesungguhan, akan terbelah jugalah semua kesulitan yang membelenggu. ”

BACA JUGA:  10 Adab Berdoa

Mungkin saja pengakuan akan segala kekurangan dan kelalaian akan sangat berguna di tengah saat-saat tertentu. Saya hanya memohon keutamaan dan belas kasihnya dengan tidak mengandalkan amal-amal yang dikerjakan ketika berdoa.

Saya lalu berdiri dengan kaki gemetar di hadapan-Nya dengan pengakuan dosa, “Wahai jiwaku, janganlah engkau hancurkan aku. cukuplah kehancuranku karena kebodohanku.”

BACA JUGA: Hilangnya Khusyu’: Pertanda Akhir Zaman

Atas dasar ilmu yang ada, saya berlaku sopan santun dengan Tuhan, mengakui segala dosa, dan mengungkapkan segala kebutuhan hidup.

Keyakinan saya bertambah kuat pada keutamaan yang Dia miliki yang yang tidak dimiliki oleh makhluk.

Semoga Allah SWT memberkahi ibadah saya. Semoga pengakuan saya atas semua kelalaian itu akan sangat berguna. []

Referensi: Shaidul Khatir, Cara Manusia Cerdas Menang dalam Hidup, karya Imam Ibnu Al Jauzi, Penerbit Maghfirah Pustaka, Cetakan Juni 2022

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Ibrah

Kerendahan Hati Umar bin Abdul Aziz di Hadapan Allah dan Doanya yang Dijabah

Ibrah

Kisah Anak Durhaka pada Ibu: Balasan Itu Sesuai Jenis Perbuatan

Ibrah

Kisah Anak Durhaka pada Bapak: Rabb-mu Benar-benar Mengawasimu!

Ibrah

Hidup Seperti Lebah