JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Kajian

3 Penyakit Hati yang Menghantarkan pada Keburukan

Setan Tertawa

Dalam perjalanan hidup, manusia senantiasa diuji dengan berbagai godaan. Ada yang datang dari luar dirinya, dan ada pula yang muncul dari dalam hatinya sendiri. Tidak jarang, godaan itu tampak begitu indah dan menyenangkan, padahal di baliknya tersimpan racun yang mematikan. Rasulullah ﷺ pernah mengingatkan, “Sesungguhnya setiap umat memiliki ujian, dan ujian umatku adalah harta.” (HR. Tirmidzi). Ujian itu sering kali berwujud cinta berlebihan terhadap hal-hal duniawi, yang jika tidak dikendalikan akan menggelincirkan manusia ke dalam kebinasaan.

Tiga di antaranya adalah cinta dunia, cinta kedudukan, dan cinta pujian. Ketiganya tampak biasa, tetapi jika menjerat hati, ia dapat menutup jalan menuju kebaikan dan merusak amal.

1. Cinta Dunia

Cinta dunia bukanlah sekadar menikmati kehidupan, tetapi keterikatan hati yang berlebihan hingga melupakan akhirat. Orang yang terjerat cinta dunia akan memandang segala sesuatu dari sudut keuntungan materi, kesenangan, dan kepemilikan. Padahal, dunia hanyalah tempat persinggahan sementara.

Ketika hati telah dipenuhi cinta dunia, ia akan buta terhadap nasihat. Kalimat pengingat tentang kematian dan akhirat terasa hambar, seakan tidak ada maknanya. Inilah yang dimaksud para ulama dengan tertutupnya bashirah (mata hati). Akibatnya, manusia merasa puas dengan kesenangan sesaat, padahal yang menantinya adalah kerugian di akhirat.

BACA JUGA:  Menjaga Iman di Tengah Naik Turunnya Hati

Tak jarang pula, kecintaan berlebihan terhadap dunia menghadirkan keburukan di dunia itu sendiri: perselisihan karena harta, iri hati, bahkan kezaliman demi mendapatkan keuntungan. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Cinta dunia adalah pangkal segala kesalahan.” Kalimat ini cukup menjadi peringatan bahwa dunia, jika terlalu dicintai, bisa menjadi sebab kehancuran.

2. Cinta Kedudukan

Kedudukan adalah sesuatu yang diinginkan banyak orang. Memiliki jabatan, dihormati, dan diperhitungkan dalam lingkaran sosial adalah dambaan yang wajar. Namun, masalah muncul ketika kedudukan dikejar dengan cara yang salah: menghalalkan segala cara, berkhianat, bahkan menzalimi orang lain.

Cinta kedudukan dapat menumbuhkan kesombongan tersembunyi. Seseorang bisa terjerumus dalam tipu daya merasa lebih tinggi dibandingkan orang lain. Padahal, Nabi ﷺ mengingatkan, “Sesungguhnya kalian akan sangat berambisi terhadap kepemimpinan, padahal kepemimpinan itu kelak akan menjadi penyesalan di hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ambisi yang tidak terkendali membuat seseorang rela mengorbankan agamanya. Ia kehilangan ketenangan, karena pikirannya hanya dipenuhi dengan bagaimana menjaga gengsi dan kekuasaan. Pada akhirnya, kedudukan yang seharusnya menjadi sarana kebaikan justru berubah menjadi jebakan kebinasaan.

3. Cinta Pujian

Pujian memang terasa manis di telinga. Namun, di baliknya ada bahaya besar: munculnya rasa bangga diri dan sombong. Orang yang terbiasa dipuji akan merasa dirinya lebih dari orang lain. Lama-kelamaan, ia tidak lagi mencari ridha Allah, tetapi ridha manusia.

BACA JUGA:  Keburukan-Keburukan yang Terjadi di Akhir Zaman

Cinta pujian menjadikan seseorang beramal bukan untuk ikhlas, melainkan untuk dilihat. Inilah yang disebut riya, penyakit hati yang membatalkan pahala. Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Meninggalkan amal karena manusia adalah riya, dan beramal karena manusia adalah syirik.” Maka jelaslah, pujian yang dikejar dapat menghancurkan amal seorang hamba.

Lebih berbahaya lagi, cinta pujian membuat hati rapuh. Jika tidak ada yang memuji, ia akan kecewa dan merasa hina. Hidupnya tergantung pada penilaian manusia, bukan pada pandangan Allah.

Penutup

Tiga penyakit hati ini—cinta dunia, cinta kedudukan, dan cinta pujian—adalah akar dari banyak keburukan. Ia bisa hadir secara samar, tanpa disadari, lalu tumbuh dan merusak hati. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya selalu waspada, menjaga hati dengan zikir, ilmu, dan amal saleh.

Dunia, kedudukan, dan pujian pada hakikatnya bukanlah sesuatu yang tercela jika ditempatkan pada tempatnya. Dunia hanya di tangan, bukan di hati. Kedudukan dijadikan amanah, bukan ambisi. Pujian diterima dengan syukur, tetapi tidak dijadikan tujuan. Dengan begitu, seorang hamba dapat terhindar dari keburukan, dan berjalan menuju kebahagiaan hakiki: ridha Allah dan keselamatan di akhirat. []

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Kajian

Pangkal Segala Keburukan dan Penawarnya

Kajian

Akikah: Tanggung Jawab Ayah dan Anjuran Bagi Anak yang Belum Diaqiqahi

Kajian

Talbis Iblis atas Ahli Ibadah yang Melakukan Amar Makruf Nahi Munkar

Kajian

Talbis Iblis atas Ahli Ibadah dalam Perkara Haji