Hati diibaratkan raja, sedang anggota badan adalah prajuritnya. Bila rajanya baik, maka akan baik pula urusan para prajuritnya. Bila rajanya buruk, buruk pula urusan para prajuritnya. Rasulullah bersabda, “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik, seluruh tubuh menjadi baik. Jika ia rusak, seluruh tubuh juga menjadi rusak. Ketahuilah (segumpal daging) itu ialah hati” (HR. Bukhari dan Muslim).
1- Meninggalkan al-Qur’an
Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa seorang hamba dikategorikan sebagai orang yang meninggalkan al-Quran (Q.S. Fathir : 30-31) ketika ia : tidak mau mendengar lafadz-lafadznya, tidak mau membaca dan memahaminya, tidak mau mengamalkannya, tidak mau menjadikannya hukum dalam kehidupan, dan tidak mau menjadikannya obat bagi penyakit-penyakit hati dan jasad.
BACA JUGA: Di Antara Faidah Dzikir: Menguatkan Hati dan Badan
Untuk itu, Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu menasihati kita dengan berkata, “Sesungguhnya hati ini adalah laksana bejana, maka isi dan sibukkanlah ia dengan al-Quran dan jangan diisi dan disibukkan dengan selainnya”. Begitu cara kita menghidupkan hati. Jika tidak, hati kita terancam sakit bahkan mati. Wal-‘iyadzu billah.
2- Meninggalkan Sunnah-Sunnah Rasulullah
Sunnah Rasulullah adalah petunjuk setelah al-Qur’an. Keduanya adalah jalan keselamatan. Jauh darinya adalah alamat kesesatan. Syaikh Abdullah bin Hamud al-Farih hafizhahullah berkata, “Jika seorang hamba senantiasa menjaga sunnah dan menjadikannya hal yang paling penting untuk dipegang, akan terasa sulit baginya meremehkan kewajiban atau kurang dalam pelaksanaannya. Lalu ia pun mendapat keutamaan lain, yaitu ia senantiasa mengagungkan syiar-syiar Allah. Sehingga hatinya pun hidup karena ketaatan kepada Allah”.
BACA JUGA: Begitu Sering Hidayah Allah Menyapa Hatimu, tapi Begitu Sering Pula Kamu Abaikan
3- Tidak atau Kurang Mengingat Mati
Ingat mati bisa merontokkan hawa nafsu yang menguasai hati yang sakit. Hal ini dapat ditelaah dari peristiwa Fir’aun ketika tenggelam dan menghadapi kematian di depan mata. Ia takluk dan menyatakan beriman kepada Allah, Tuhannya Bani Israil. Dalam al-Qur’an disebutkan, “Hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia, “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)” (Q.S. Yunus: 90).
Sa’id bin Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata, “Jika mengingat mati hilang dari dalam hatiku, maka aku takut hatiku ini menjadi rusak.” []
BERSAMBUNG | SUMBER: WAHDAH INSPIRASI ZAKAT
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


