Makna la ilaha illallah adalah bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Dzat yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih. Maka hendaklah hanya Dia yang diibadahi dengan penuh keimanan dan keyakinan, menaati Allah dan Rasul-Nya dengan jujur dan keikhlasan yang sempurna.
Adapun makna Muhammadur Rasûlullah adalah bahwa Nabi Muhammad adalah utusan-Nya yang menerangkan cara beribadah kepada Allah SWT di dunia ini. Tidak boleh seorang pun beribadah kepada Allah tanpa bimbingan dan penjelasan dari beliau ﷺ.
Mulai sekarang, wahai saudaraku, mari kita tempuh jalan tersebut dengan bimbingan kalimat lå ilâha illallah, Muhammadur Rasûlullah.
BACA JUGA: Kadar Keimanan
Berikut ini lima tanda keimanan yang benar:
1. Hendaklah kita meyakini dengan teguh bahwasanya Pencipta kita adalah yang menciptakan alam ini. Dia yang menciptakan alam ini dan mengaturnya dengan kekuasaan-Nya, ilmu, kehendak, dan hikmah-Nya. Di alam ini tampak pengaruh sifat dan nama-Nya yang indah. Dengan kekuasaan-Nya, terjadilah alam ini, dengan ilmu-Nya, menjadi teraturlah keadaannya dan berjalan menuju tujuan-tujuannya dalam aturan yang rapi lagi indah.
2. Hendaklah kita meyakini, tak ada yang membantu Allah dalam menciptakan alam ini. Tidak ada yang ikut mengatur alam ini bersama-Nya. Karena apabila tidak demikian, niscaya akan muncul pertentangan di alam ini, dan pasti alam ini akan hancur binasa.
3. Hendaklah kita meyakini dengan seyakin-yakinnya bahwa ketika Allah tidak memiliki sekutu dalam penciptaan dan pengaturan alam, berarti tidak ada sekutu bagi-Nya dalam ketaatan dan peribadatan. Maka tidak selayaknya ada yang diibadahi bersama-Nya, apakah dia Malaikat, Nabi, atau makhluk yang lainnya; apakah ibadah itu shalat, doa, puasa, sembelihan, zakat, ataupun nadzar.
4. Hendaklah kita meyakini dengan pasti bahwasanya llah (Tuhan) yang Agung ini sendirian dalam mencipta, mengatur, dan yang harus diibadahi dengan ikhlas, maka itu Dia adalah benar-benar sesembahan yang agung. Dia memiliki sifat-sifat yang suci, sempurna dan mulia. Kita menetapkan bagi-Nya yang Mahasuci apa yang telah Dia tetapkan bagi diri-Nya berupa sifat-sifat dalam Kitab-Nya. Kita menetapkan apa yang ditetapkan untuk-Nya oleh manusia yang paling mengenal Allah, yaitu Muhammad tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk, memisalkan-Nya, menyimpangkan pengertiannya, dan menanyakan bagaimana bentuk-Nya.
BACA JUGA: Tingkatan Keimanan Seorang Muslim
5. Hendaknya kita meyakini dengan pasti bahwasanya kebutuhan manusia kepada para Rasul untuk menerangkan jalan menuju Surga memberi konsekuensi pengutusan kepada mereka dan penurunan Kitab kepada mereka.
Dari sini, diketahui bahwa wajib beriman kepada semua Kitab yang diturunkan oleh Allah kepada para Rasul-Nya, sebagaimana juga wajib beriman kepada Malaikat yang baik, qadar, hari Akhir, hisab dan pembalasan amal. []
Sumber: Al-Jannatu Na’ïimuhaa wath Thariiqu Ilaiha Jahannamu Ahwaaluha wa Ahluhaa (Surga Neraka, Siapakah Calon Penghuninya?) / Penulis : Syaikh Ali Hasan Al-Halabi / Penerbit: Daar Ibnu Hazm lith Thibaah wan Nasyr wat Tauzi’ Beirut Lebanon / PUSTAKA IMAM ASY-SYAFI’I / Cetakan I 1424 H-2003 M – Cetakan Kelima Rabi’ul Awwal 1443 H/Oktober 2021 M
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


