Seseorang yang pernah menjalani khalwat biasanya kualitas ruhiyahnya cenderung meningkat. Hal itu dapat terlihat ketika bergaul dengan orang lain.
Betapa banyak orang yang beriman kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mendapatkan pujian dan penghormatan dengan berkhalwat. Mereka mampu meninggalkan hal-hal yang menggoda Karena kekhawatiran yang begitu besar akan siksaannya, kedalaman harapan akan pahalanya, atau pengagungannya yang begitu tulus kepadanya. Ia laksana melemparkan kayu Hindi atau bahan minyak wangi ke tengah bara api, lalu wanginya tercium manusia, namun mereka tak tahu dari mana sumber uangnya itu.
BACA JUGA: Ilmu dan amal
Sejauh manusia mampu meninggalkan apa yang menggoda jiwa, sejauh itu pula rasa cinta kepada-Nya. Orang seperti itu akan mendapatkan perhatian dari manusia. Khalayak akan mengagungkannya. Mulut-mulut mereka pun akan menguji tak henti-hentinya. Mereka tidak tahu dan tidak sanggup melukiskannya.
Keadaan seperti itu bisa berlanjut hingga setelah kematiannya. Meski demikian, ada saja di antara mereka yang disebut-sebut kebaikannya, namun setelah itu namanya terlupakan bagai ditelan Bumi. Ada yang disebut Selama ratusan tahun, namun setelah itu tak diingat lagi. Ada pula orang-orang terkenal yang dikenal sepanjang zaman.
Kondisi sebaliknya terjadi pada makhluk yang takut dengan makhluk yang lain dan tidak pernah menghayati Yang Maha Benar. Dari dosa-dosa yang tampak dan menumpuk akan tercium aroma kebusukan moral mereka. Akibatnya, hati manusia sangat membencinya. Mulut-mulut manusia tak akan memuji mereka, namun hanya menghormati sekadarnya.
Jika semakin banyak dan bertumpuk dosa mereka, manusia pun akan diam. Tidak memujinya, tidak juga mengutuknya. Barangkali orang-orang yang bersih bisa terperangkap dalam dosa jika menuruti hawa nafsu saat kecenderungan pada dunia begitu kuat. Jauhlah nilai-nilai moralnya.
BACA JUGA: Ikhlas karena Allah
Abu Darda berkata, “Seorang hamba yang melakukan maksiat dalam kesendiriannya akan mendapat murka Allah melalui hati orang-orang Mukmin tanpa disadarinya.”
Pahamilah, jangan lalai dalam kesendirian, karena amal dilakukan atas dasar niat yang hanya diketahui Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Pahala pun selalu sesuai dengan keikhlasan niat itu sendiri. []
Sumber: Shaidul Khatir, Cara Manusia Cerdas Menang dalam Hidup, karya Imam Ibnu Al Jauzi, Penerbit Maghfirah Pustaka, Cetakan Juni 2022
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


