Ilmu adalah pegangan. Lebih utama untuk menyibukkan diri dengan ilmu ketimbang dengan hal-hal yang sunnah.
Jiwa ini berkata, “Bagiku ilmu lebih utama daripada hal-hal yang sunnah. Aku memang sangat terkejut dengan banyaknya orang yang lebih menyibukkan diri dengan shalat dan puasa sunnah daripada mereka yang menyembuhkan diri dengan menuntut atau mengajarkan ilmu. Semua itu berpangkal pada tidak benarnya asal dan akar pengetahuan mereka.”
Bagi saya, pendapat jiwa saya adalah sebuah sikap yang sangat serius dan benar.
BACA JUGA: Manusia yang Mengejar Dunia
Namun saya termenung melihat orang-orang yang sangat serius dengan ilmu yang ditekuninya. Saya lalu menggugat, “Apa yang bisa engkau dapat dari ilmu? Adakah rasa takut dalam dirimu? Adakah engkau memiliki kesedihan? Mampukah engkau berhati-hati? Tidakkah engkau mendengarkan kisah-kisah orang pilihan tentang ibadah dan kesungguhan mereka? Tidakkah engkau mendengar sabda Rasulullah ﷺ bahwa sebaik-baik makhluk pilihan adalah yang melakukan shalat malam hingga bengkak kakinya? Pernahkah engkau mendengar bagaimana Abu Bakar selalu bersedih dan menangis? Tidak ke engkau tahu bahwa di wajah Umar terlihat dua garis bekas aliran air mata tangisnya?”
Simaklah kisah Utsman bin Affan yang mengkhatamkan Al-Quran dalam sekali shalat. Bayangkanlah Ali bin Abi Thalib yang menangis di malam hari di mihrabnya, hingga janggutnya basah oleh air mata, sambil berkata, “Wahai dunia, perdayakanlah orang-orang selain aku!”
Tahukah engkau bahwa Hasan Al-Bashri hidup dalam kesusahan yang luar biasa? Bukankah Said bin Al-Musayyab selalu berada di masjid hingga tak sekalipun kehilangan shalat berjamaah selama 40 tahun? Pikirkanlah bagaimana Al-Aswad bin Yazid berpuasa hingga wajahnya kuning dan sekali waktu bahkan membiru?
Renungilah perkataan Bintu Al-Arabi bin haitsam kepada ayahnya, “Mengapa ayahanda tidak tidur seperti orang lain?”
Ayahnya lalu menjawab, “Sesungguhnya ayahmu takut akan azab yang datang secara tiba-tiba di malam hari.”
Perhatikanlah Abu Muslim Al-Khulani yang menggantung sebuah cemeti di masjid untuk mencambuk dirinya sendiri jika merasa malas mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Terangkanlah perkataan Yazid Al-Raqqashi yang berpuasa selama empat tahun, “Para ahli ibadah telah mendahului aku mereka telah jauh meninggalkanku.”
BACA JUGA: Ujian dan Musibah yang Menimpamu
Bagaimana pendapatmu tentang Sufyan Ats-Tsauri yang menangis kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan air mata darah oleh karena rasa takutnya yang luar biasa? Begitupun dengan Ibrahim bin Adham, bagaimana bisa sampai buang air darah karena rasa takutnya kepada Allah? Perhatikan pula bagaimana kabar dan perjalanan hidup empat imam yang masyhur: Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Ahmad. Betapa tingginya kualitas ibadah dan zuhud mereka.
Berhati-hatilah wahai saudaraku! Janganlah karena kesibukan dengan ilmu, Anda tak pernah lagi mengamalkan apa yang Anda ketahui. Sesungguhnya, hal itu adalah kelakuan para pemalas.
Lakukanlah segala sesuatu dengan perlahan-lahan
Masa depan hidupmu belum berpaling
Takutlah akan serangan yang mendadak hingga waktu
Seakan dilipat begitu cepat jadikan dirimu sebagai tentara yang terhimpun siap berlaga di medan perang. []
Referensi: Sumber: Shaidul Khatir, Cara Manusia Cerdas Menang dalam Hidup, karya Imam Ibnu Al Jauzi, Penerbit Maghfirah Pustaka, Cetakan Juni 2022
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


