JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Kajian

2 Kalimah Syahadat dan Maknanya

Iman, Kalimah Syahadat

Dua kalimat syahadat (persaksian bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah Subhanahu wa Ta’la dan Muhammad adalah utusan Allah)

Keduanya adalah kunci Islam, tidak mungkin seseorang masuk Islam kecuali dengan dua syahadat tersebut, karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada Mu’adz bin Jabal ketika beliau mengutusnya ke negeri Yaman, bahwa yang pertama kali harus dia serukan kepada mereka adalah syahadat laa ilaaha illallah wa anna muhammadan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Diriwayatkan oleh al-Bukhari)

Adapun kalimat yang pertama (syahadah laa ilaaha illallah). Maka hendaklah seseorang mengakui dengan lisan dan hatinya bahwasanya tidak ada yang berhak disembah kecuali hanya Allah Subhanahu wa Ta’la, karena ilah bermakna ma’luh (yang disembah diibadahi) dan at-ta aluhu bermakna ta’abbud (beribadah/menyembah). Maknanya bahwasanya tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah Subhanahu wa Ta’la saja.

Kalimat ini mengandung nafyi (penafian) dan itsbat (penetapan), Adapun penafian yaitu kalimat لا إله )laa ilaaha) dan itsbat yaitu kalimat إلا الله illallah (sedangkan Allah Subhanahu wa Ta’la adalah (lafdzul jalalah) sebagai ganti dari kabar (laa) yang dihapus.

BACA JUGA: Makna Sakit

Taqdirnya adalah لا إله بحق إلا الله )laa ilaaha bihaqqin illaallaha (tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan hanya Allah Subhanahu wa Ta’la) yakni pengikraran dengan lisan setelah mengimaninya dengan hati bahwasanya tidak ada yang disembah dengan benar kecuali Allah, dan ini mencakup ikhlas dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’la saja dan meniadakan yang lainnya.

Kita mentakdirkan khabar dalam kalimat ini )ح( sebagai penjelasan masalah yang dihadapi kebanyakan manusia. Yaitu, bagaimana engkau mengatakan laa ilaaha illaallah, padahal ada sesembahan yang disembah selain Allah Allah Subhanahu wa Ta’la telah menamakan sesembahan sedangkan penyembah berhala juga menamakannya sesembahan dalam firman Allah

…. فَمَا أَغْنَتْ عَنْهُمْ عَالِهَنَّهُمُ الَّتِي يَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ مِن شَيْءٍ لَمَّا جَاءَ أَمْرُ رَبِّكَ وَمَا زَادُوهُمْ غَيْرَ تَبِيبٍ (١٠١}

“Karena itu tiadalah bermanfaat sedikit pun kepada mereka sembahan-sembahan yang mereka seru selain Allah, di waktu adzab Rabbmu datang” (QS. Huud: 101).

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman

… وَلَا تَجْعَلْ مَعَ اللَّهِ إِلَّاهَا ءَاخَرَ فَتُلْقَى فِي جَهَنَّمَ مَلُومًا مَّدْحُورًا

“…Dan janganlah kamu mengadakan Rabb yang lain di samping Allah.” (QS. al-Israa’: 39).

Allah Subhanahu wa Ta’la berfirman:

وَلَا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهَا عَاخَرَ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ {۸۸}

“Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, Rabb apapun yang lain. Tidak ada Rabb (yang berhak disembah) melainkan Dia.” (QS. al-Qashash: 88).

Allah Subhanahu wa Ta’la berfirman:

…. لَن تَدْعُوا مِن دُونِهِ إِلَّاهَا لَقَدْ قُلْنَا إِذَا شَطَطًا

“Kami sekali-kali tidak menyeru Rabb selain Dia…” (QS. al-Kahfi: 14)

Maka bagaimana mungkin kita mengatakan laa ilaaha illaallah disamping itu juga menetapkan keilahiyahan untuk selain Allah? Dan bagaimana mungkin kita menetapkan keuluhiyahan untuk selain Allah sedangkan para rasul bersabda kepada kaumnya:

.. اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَّاهِ غَيْرُهُ…

“Sembahlah Allah, sekali-kali tak ada sesembahan bagi kalian selain Nya.” (QS. al-A’raaf 59)

Jawaban atas masalah ini akan jelas dengan mentaqdirkan khabar dalam لا إله إلا الله Maka kami katakan sesembahan yang disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah suatu sesembahan juga. Namun dia adalah sesembahan yang batil, bukan sesembahan yang haq, dan tidak mempunyai hak peribadatan dan penyembahan sedikit pun. Hal itu ditunjukkan oleh firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

ذلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِن دُونِهِ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الكبير (٣٠)

“Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dia-lah yang hak dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar” (QS. Luqmaan: 30)

Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

أَفَرَعَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّى {۱۹} وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى {٢٠) أَلَكُمْ الذَّكَرُ وَلَهُ الْأُنثَى (۲۱) تِلْكَ إِذَا قِسْمَةٌ صِيرَى (٢٢) إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءُ سَمَّيْتُمُوهَا أَنتُمْ وَعَابَاؤُكُم مَّا أَنزَلَ اللَّهُ بِهَا مِن سُلْطَانٍ إِن يَتَّبِعُونَ إلَّا الظَّنِّ وَمَا تَهْوَى الْأَنفُسُ وَلَقَد جَاءَهُم مِّن رَّبِّهِمُ الْهُدَى {٢٣}

“Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap al-Lata dan al-Uzza, dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah) Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan? Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya: Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah) nya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah) nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Rabb mereka.” (QS. an-Najm: 19-23)

Jika demikian maka makna لا إله إلا الله adalah tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah melainkan hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala Adapun yang disembah selain Allah, maka statusnya sebagai sesembahan sebagaimana yang diakui penyembahnya bukanlah sesembahan yang sebenarnya Yaitu sesembahan yang batil, status sebagai sesembahan yang benar hanyalah untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala saja.

Adapun makna syahadat (muhammadur rasulullah) yaitu berikrar dengan lisan dan diimani dalam hati, bahwasanya Muhammad bin ‘Abdillah al-Quraisy al-Hasyimi adalah utusan Allah kepada seluruh makhluk dari golongan jin dan manusia. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِ وَيُمِيتُ فَتَامِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّي الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ (١٥٨}

“Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Rabb (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia. supaya kamu mendapat petunjuk.” (QS. al-A’raaf: 158)

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا {1}

“Maha suci Allah yang telah menurunkan al-Furqan (al-Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (QS. al-Furqaan: 1)

Konsekuensi dari syahadat ini yaitu engkau membenarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apa yang beliau kabarkan, melaksanakan apa yang beliau perintahkan, dan menjauhi apa yang beliau larang dan beliau peringatkan.

BACA JUGA: Makna Bacaan Rukuk ‘Subhana Rabbiyal Azhim’

Dan engkau tidak menyembah kepada Allah kecuali dengan apa yang beliau syari’atkan, konsekuensi syahadat ini juga adalah tidak meyakini bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempunyai hak dalam kerububiyahan dan mengatur alam. Atau hak untuk dibadahi, bahkan beliau adalah seorang hamba yang tidak boleh disembah dan seorang rasul yang tidak didustakan, beliau tidak dapat memberi manfaat dan madharat bagi dirinya sendiri dan juga orang lain kecuali apa yang dikehendaki Allah. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

قل لا أَقُولُ لَكُمْ عِندِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكَ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَى إِلَيَّ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَى وَالْبَصِيرُ أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ (٥٠)

Katakanlah: “Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perben-daharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang gha’ib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang Malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.” (QS. al-An’aam: 50)

Beliau adalah hamba yang diperintah dan mengikuti apa yang diperintahkan kepadanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلْ إِنِّي لَا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلَا رَشَدًا {۲۱} قُلْ إِنِّي لَن يُحِيرَنِي مِنَ اللَّهِ أَحَدٌ وَلَنْ أَحِدَ مِن دُونِهِ مُلْتَحَدًا (۲۲)

“Katakanlah: “Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudharatan sedikitpun kepada kalian dan tidak (pula) suatu kemanfaatan.” Katakanlah: “Sesungguhnya sekali-kali tiada seorangpun yang dapat melindungiku dari (adzab) Allah dan sekali-kali aku tiada akan memperoleh tempat berlindung selain daripada Nya.” (QS. al-Jin: 21-22)

Allah berfirman:

قُل لا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ {۱۸۸}

“Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang gha’ib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” (QS. al-A’raaf: 188)

(Majmuu’ Fataawaa asy-Syaikh 1/79-82) []

Sumber: Al-Fatawa Al-Muhimmah (Fatwa-fatwa Penting dalam Sehari-hari jilid 1) / Penulis: Syaikh Muhammad Shalih Al-Muhaimin / Penerbit: Pustaka as-Sunnah / Cetakan 2, Maret 2012

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Kajian

Ketaatan Akal pada Hikmah Allah

Kajian

Allah, Sang Mâliku al-Mulk

Kajian

Keutamaan Surah Al-Mulk

Kajian

Kesabaran Itu Karunia dari Allah, Bukan Semata Kekuatan Diri