Sabar bukanlah kemampuan alami yang dimiliki setiap manusia. Ia bukan hasil dari latihan mental atau kebiasaan hati semata, melainkan anugerah yang Allah Subhanahu wa ta’ala tanamkan di dada hamba-hamba yang dikehendaki-Nya. Karena itu, siapa pun yang ingin bersabar, hendaklah ia memohon kesabaran itu kepada Allah, sebagaimana kita memohon rizki, kesehatan, atau ampunan.
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِي ضَيْقٍ مِمَّا يَمْكُرُونَ
“Dan bersabarlah (Muhammad), dan kesabaranmu itu semata-mata dengan pertolongan Allah. Janganlah engkau bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka, dan jangan (pula) bersempit dada terhadap tipu daya yang mereka rencanakan.” (QS. An-Nahl: 127)
Ayat ini mengajarkan bahwa kesabaran sejati tidak lahir dari keinginan diri, melainkan dari pertolongan Ilahi. Tanpa izin dan taufik dari-Nya, manusia tidak akan mampu menahan gejolak amarah, kesedihan, atau keputusasaan yang mengguncang jiwanya.
BACA JUGA: Sabar, Harta yang Tidak Bisa Dicuri
Kesabaran dalam Setiap Ujian Kehidupan
Saudaraku, ketahuilah bahwa tidak mungkin seseorang mampu bersabar untuk menunaikan shalat Subuh berjamaah di masjid setiap hari tanpa izin Allah. Sebab, setiap pagi adalah medan ujian: rasa kantuk, dinginnya udara, dan godaan untuk tetap berada di kasur empuk. Namun, bila Allah menguatkan hati seorang hamba, maka langkah kakinya akan ringan menuju rumah Allah.
Demikian pula dengan mereka yang bersabar menabung demi ibadah umrah dan haji. Sungguh banyak ujian yang menggoda: keinginan membeli ini dan itu, kebutuhan dunia yang mendesak, hingga bisikan untuk menunda. Tapi siapa yang diberi kekuatan untuk menahan diri dan menunggu dengan sabar—itulah tanda bahwa Allah telah menolongnya.
Sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah: “Kesabaran itu tidak bisa diperoleh kecuali dengan pertolongan Allah. Karena sabar adalah bagian dari iman, dan iman itu tidak akan tegak kecuali dengan taufik dan rahmat dari-Nya.” (Madarijus Salikin, 2/156)
Dan Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah berkata: “Sabar itu adalah harta yang tidak akan habis. Hanya orang yang diberi taufik oleh Allah yang mampu memilikinya.”
Maka janganlah kita merasa mampu bersabar dengan kekuatan diri. Sebab hakikatnya, setiap helaan napas kesabaran adalah bentuk rahmat dari Allah. Karena itu, mintalah kesabaran sebagaimana kita meminta rahmat dan ampunan.
Rasulullah ﷺ sendiri sering berdoa: “Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang yang sabar.” (HR. Ahmad)
BACA JUGA: Mengurai Sabarmu dalam Doa
Penutup
Kesabaran adalah cahaya yang Allah nyalakan di hati orang beriman. Ia tak bisa dibeli, tak bisa diajarkan sepenuhnya oleh manusia—tetapi bisa diminta, bisa dipelihara, dan bisa ditumbuhkan dengan doa, dzikir, serta keyakinan pada janji-Nya.
Maka, bila engkau merasa lelah, kecewa, atau tergoda untuk menyerah, jangan buru-buru menyalahkan dirimu yang lemah. Angkatlah tanganmu, dan mintalah:
“Ya Allah, berikanlah aku kesabaran, dan jadikanlah aku termasuk hamba yang Engkau kuatkan.”
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab. []
Sumber rujukan:
Dewan Fatwa Perhimpunan Al Irsyad
Madarijus Salikin, Ibnul Qayyim
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


