JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Kajian

Syarat Kalimat Tauhid

Iman, Syarat Kalimat Tauhid

Para ulama salaf telah menekankan pentingnya memperhatikan syarat إلا إله إلا الله wajib untuk mematuhinya, dan bahwa tauhid tidak akan diterima kecuali jika memenuhi hal-hal itu. Di antaranya adalah kisah yang datang dari Hasan al-Basri, salah seorang berkata, “Barang siapa yang mengatakan لا إله إلا الله maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga.” Maka Hasan al-Basri pun menimpalinya, dengan berkata, “Barang siapa yang mengatakan لا إله إلا الله melaksanakan hak dan kewajibannya maka dia akan masuk surga.” (Syarh Shahih Muslim, karya Imam an-Nawawi (2/161).

Seseorang bertanya kepada Wahab bin Munabbih, dia berkata, “Bukankah kunci surga adalah لا إله إلا الله” Wahab bin Munabbih menjawab: “Ya, akan tetapi bukankah setiap kunci memilik gigi. Maka jika kamu datang dengan kunci yang bergigi, surga akan terbuka untukmu, jika tidak maka surga tidak akan terbuka.” (HR. Baihaqi di dalam al-Asma wa-ash-Shifat No. 21 ) Gigi kunci yang dimaksud adalah syarat-syarat لا إله إلا الله

Sabda Rasulullah,

وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

“Dan bahwasanya Muhmmad adalah hamba dan utusan-Nya.”

BACA JUGA:  =Ikhlas, Buah Ketauhidan

Pertama: Kalimat di atas adalah sebagai kesaksian tentang penghambaan dan kenabian Rasulullah. Nabi kita telah benar-benar mencapai derajat yang paling sempurna dalam peribadatan, beliau senantiasa beribadah kepada Allah hingga ajal menjemputnya. Beliau adalah panutan bagi kaum muslimin dan teladan bagi orang-orang yang bertakwa.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَن كَانَ يَرْجُوا اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا )

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Dalam perihal ibadah, beliau adalah figur yang paling sempurna, tidak ada satu pun ibadah kecuali telah beliau lakukan dengan sebaik-baiknya. Dalam setiap ibadah, beliaulah panutannya, dan dalam setiap ketaatan, beliaulah teladannya.

Beliau telah menyampaikan risalah Islam, memenuhi amanah, dan menasehati umat dengan cara yang paling baik. Beliau tak henti-hentinya berjihad di jalan Allah sampai ajal menjemputnya. Sehingga tidak ada lagi jalan-jalan kebaikan kecuali telah beliau sampaikan, tidak ada pula jalan-jalan keburukan kecuali telah beliau ingatkan untuk menjauhinya. Allah mengutus dirinya sebagai rahmat untuk alam semesta, sebagai suatu kabar gembira, pemberi peringatan, sebagai dai yang menyerukan kepada Allah lentera yang memberikan cahaya. dengan izin-Nya, dan sebagai suatu

Kedua: kalimat itu juga sebagai sebuah kesaksian tentang kerasulan beliau. Hal ini menghendaki ketaatan kepadanya dan mengikuti perintahnya. Karena sejatinya para rasul diutus untuk ditaati dan diikuti perintahnya, diteladani dan dijalankan hidayahnya, dan diiringi setiap jejak langkahnya. Sebagaimana firman Allah,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ )

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul melainkan untuk ditaati dengan izin Allah.” (QS. An-Nisa: 64)

Barang siapa bersaksi bahwa beliau adalah Rasulullah maka dia wajib menaatinya perintahnya, mempercayainya apa yang dikatakannya, menahan diri dari yang dilarang olehnya, dan beribadah kepada Allah hanya dengan yang disyariatkannya.

Dua kalimat syahadat memiliki peran yang penting dan kedudukan yang tinggi dalam Islam, karena keduanya adalah pondasi agama Allah dan kunci kebahagiaan.

Tidak ada keselamatan bagi seorang hamba, tidak ada keridaan di sisi Allah yang dapat diraih, atau masuk ke dalam surga kecuali dengan menggunakan kunci agung ini: شهادة أن لا إله إلا الله وأن مختثا رسول الله “Persaksian bahwa tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah”. Oleh karena itu, pada hari kiamat, kaki seorang hamba tidak akan bergeser dari hadapan Allah sampai dia ditanya tentang dua pertanyaan besar,

“Apa yang dahulu kalian sembah?” dan “Apa jawaban kalian terhadap para Rasul?”

Jawaban dari pertanyaan pertama adalah “syahadat bahwa tidak ada tuhan yang berhak diibadahi kecuali Allah.” Dia memahami, mengamalkannya, dan mentauhidkan Allah.

Jawaban dari pertanyaan kedua adalah “syahadat bahwa Muhammad adalah Rasulullah.” Dia memahami, mengamalkannya, dan menaatinya.

Barang siapa yang agamanya tidak berdasarkan pada dua prinsip besar tersebut, maka Allah tidak akan menerima amal yang dia kerjakan, dan dia tidak juga mendapatkan manfaat dari ketaatan yang dia usahkan. Allah telah berfirman di dalam hadis qudsi,

أَنَا أَغْنَى الشَّرَكَاءِ عَنِ الشَّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

“Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu, barang siapa mengerjakan suatu amalan yang dicampuri dengan kesyirikan kepada-Ku, maka Aku akan tinggalkan dia dan perbuatan syiriknya itu. ” (HR. Muslim No. 2985)

Rasulullah bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدُّ

“Barang siapa yang mengamalkan suatu amalan yang bukan berasal dari kami maka ia tertolak. ” (HR. Muslim No. 1718.)

Hadis pertama menunjukkan bahwa setiap amalan apa pun itu tidak akan diterima kecuali dibarengi dengan keikhlasan.

Adapun hadis kedua menunjukkan bahwa setiap amalan tidak akan diterima kecuali dibarengi dengan ittiba’ (sesuai dengan tuntunannya).

BACA JUGA: Tauhid dan Fitrah Diri Manusia

Ikhlas merupakan wujud nyata dari “syahadat bahwa tidak ada tuhan yang berhak diibadahi kecuali Allah.” dan ittiba’ merupakan wujud nyata dari “syahadat bahwa Muhammad adalah Rasulullah.”

Karenanya, Fudhail bin ‘lyadh ketika menerangkan firman Allah

لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا)

“Siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2)

Beliau berkata, “Yakni, yang paling ikhlas dan yang paling benar amalannya.”

Kemudian seseorang bertanya kepadanya, “Ya Abu Ali, Apa itu yang paling ikhlas dan yang paling benar?”

Beliau menjawab, “Sesungguhnya amal yang ikhlas namun tidak benar, tidak akan diterima, dan amal yang benar namun tidak ikhlas, tidak akan diterima hingga amal tersebut ikhlas dan benar. Ikhlas adalah amalan yang ditujukan hanya untuk Allah, sedangkan amalan yang benar adalah yang sesuai dengan sunah.” (10 HR. Abu Nu’aim di dalam al-Hilyah (8/95). []

Sumber: Ahadisul Iman (Kumpulan Hadist Seputar Keimanan) / Penulis: Syekh Abdurrazzaq Bin Abdul Muhsin Al-Badr / Penerbit: UFA Office

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Kajian

Pangkal Segala Keburukan dan Penawarnya

Kajian

Akikah: Tanggung Jawab Ayah dan Anjuran Bagi Anak yang Belum Diaqiqahi

Kajian

Talbis Iblis atas Ahli Ibadah yang Melakukan Amar Makruf Nahi Munkar

Kajian

Talbis Iblis atas Ahli Ibadah dalam Perkara Haji