Setiap mukmin meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Dzat Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Maha Bijaksana. Namun, tanpa disadari, ada sikap-sikap hati yang ternyata termasuk dalam bentuk su’udzon atau buruk sangka kepada Allah. Padahal, penyakit hati ini dapat merusak keyakinan, menodai ibadah, dan melemahkan keimanan kita.
Imam Asy-Syafi’i rahimahullah, seorang imam besar yang ilmunya diakui sepanjang zaman, pernah ditanya tentang bentuk buruk sangka kepada Allah. Beliau menjawab dengan sangat mengena:
“Rasa was-was, selalu khawatir akan terjadi musibah, dan khawatir akan hilangnya nikmat darinya. Maka itu semua adalah bentuk buruk sangka kepada Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (Hilyatul Auliya’ 9/123)
BACA JUGA: Jauhi Buruk Sangka
Jawaban beliau membuka mata kita, bahwa sering kali kita tak sadar hati ini dihinggapi was-was dan kekhawatiran yang sebenarnya lahir dari kurangnya husnuzhon (baik sangka) kepada Allah. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman dalam hadits qudsi:
“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ini berarti, jika kita selalu berprasangka baik kepada Allah, maka insyaAllah Dia akan mendatangkan kebaikan, pertolongan, dan ketenangan. Namun jika kita terus dihantui rasa cemas yang berlebihan, takut kehilangan nikmat, atau selalu menyangka Allah akan mendatangkan keburukan, maka itu menjadi bentuk su’udzon yang sangat tercela.
Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa akar dari buruk sangka kepada Allah adalah ketidaktahuan tentang nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Jika seorang hamba benar-benar mengenal betapa luas kasih sayang Allah, bagaimana Allah mencintai hamba-Nya, dan betapa Maha Bijaksana-Nya Dia dalam menetapkan takdir, tentu hatinya akan lebih tenang dan penuh keyakinan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga pernah berkata: “Seorang mukmin harus selalu berbaik sangka kepada Allah dalam semua urusan, meski di saat kesempitan, karena Allah lebih mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.” (Majmu’ al-Fatawa)
BACA JUGA: Jauhi Buruk Sangka
Bukan berarti kita tidak boleh merasa takut atau sedih. Perasaan manusiawi itu wajar, namun kita harus segera mengembalikan hati untuk tawakkal dan husnuzhon kepada Allah. Bukankah Allah telah menjamin bahwa setiap musibah yang menimpa seorang mukmin akan menjadi penghapus dosa, dan setiap nikmat yang Dia cabut hanyalah untuk diganti dengan yang lebih baik, baik di dunia maupun di akhirat?
Ketika hati mulai dihantui rasa khawatir yang berlebihan, ingatlah firman Allah: “Katakanlah: ‘Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah-lah orang-orang mukmin harus bertawakkal.’” (QS. At-Taubah: 51)
Marilah kita latih diri untuk selalu berprasangka baik kepada Allah. Ketika doa kita belum terkabul, yakinlah Allah sedang menyiapkan waktu terbaik. Ketika musibah datang, percayalah ada hikmah yang agung di baliknya. Dan ketika nikmat dicabut, yakinlah itu adalah bentuk kasih sayang-Nya agar kita lebih dekat kepada-Nya. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


